GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Workshop Anti-Bullying PPG Univet Bantara Sukoharjo, Bekali Calon Guru Ciptakan Sekolah Aman dan Bebas Perundungan
![]() |
| Narasumber Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd mengajak mahasiswa calon guru memahami pentingnya pendidikan karakter dan peradaban dalam membangun lingkungan belajar yang sehat. |
Workshop Anti-Bullying PPG Univet Bantara Sukoharjo, Bekali Calon Guru Ciptakan Sekolah Aman dan Bebas Perundungan
Sukoharjo - majalahlarise.com - Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Surakarta menggelar Workshop Kampanye Anti-Bullying bertema “Berteman Tanpa Perundungan, Kuliah Jadi Menyenangkan” di Ruang Seminar Gedung H Lantai 3, Selasa (9/6/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 160 mahasiswa PPG tersebut menghadirkan narasumber Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan bertujuan membekali calon guru dengan pemahaman tentang pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan.
Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum, saat membuka kegiatan menjelaskan dampak bullying dapat menghancurkan masa depan seseorang. Oleh karena itu, calon guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik.
“Kegiatan ini memberikan bekal kepada Anda yang nanti akan menjadi guru tentang pentingnya selalu memastikan peserta didiknya aman dan tidak mengalami bullying,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para guru dan dosen agar tidak menjadi pelaku perundungan maupun kekerasan terhadap peserta didik karena relasi kuasa yang dimiliki pendidik harus digunakan secara bijaksana.
Farida Nugrahani menjelaskan kampus telah membentuk Komite Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) sebagai upaya menciptakan lingkungan akademik yang aman. Komite tersebut bertugas menerima laporan, melakukan investigasi, memberikan rekomendasi sanksi kepada pelaku, serta mendampingi korban.
“Saya sebagai pimpinan universitas menjamin dan mengupayakan di kampus ini tidak ada kekerasan. Jika ada laporan, tim akan terjun ke lapangan dan memprosesnya sesuai aturan,” katanya.
Ia berharap para calon guru mampu menjadi teladan dalam membangun karakter generasi penerus bangsa. “Silakan bentuk calon pemimpin bangsa ini dengan karakter yang baik. Anda harus mampu menjadi contoh supaya siswa mengikuti perilaku Anda,” tambahnya.
Koordinator PPG Univet Bantara, Dr. Mukti Widayati, dalam laporannya menjelaskan workshop ini dirancang untuk memberikan wawasan mengenai bentuk-bentuk bullying, dampaknya bagi korban, serta strategi pencegahannya. Menurutnya, pemahaman tersebut sangat penting dimiliki mahasiswa yang kelak akan menjadi guru profesional.
“Dalam kegiatan ini nanti teman-teman akan mendapatkan wawasan tentang bullying, dampak bullying, dan strategi bagaimana pencegahannya,” ujarnya.
Dr. Mukti Widayati berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada teori, tetapi diterapkan saat praktik lapangan maupun ketika menjadi guru di sekolah. “Kehidupan ini tidak berhenti pada teori saja, tetapi saya mohon nanti teman-teman bisa mengimplementasikan ketika menjadi guru profesional dan mulai menerapkannya di sekolah tempat teman-teman PPL,” ujarnya
Ia juga mengungkapkan rangkaian kampanye anti-bullying telah diawali dengan lomba pembuatan poster yang melibatkan mahasiswa PPG sebagai bentuk edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.
Ketua Pembina YPPP Veteran Sukoharjo, Drs. Bambang Margono, MM, menjelaskan perundungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Menurutnya, satu kata kasar di grup WhatsApp, candaan yang mempermalukan teman, hingga penyebaran video tanpa izin dapat meninggalkan luka yang mendalam bagi korban. Ia bahkan mengisahkan pengalaman pribadinya yang pernah dihina, direndahkan, dan dikucilkan karena kondisi fisiknya. “Luka yang paling dalam justru luka yang tidak kelihatan,” ujarnya.
Bambang Margono mengajak seluruh peserta untuk mengenali berbagai bentuk bullying, berani berbicara ketika menjadi korban atau saksi, serta menjadi teman yang membela, bukan sekadar menonton. Ia berharap ilmu yang diperoleh dalam workshop dapat menjadi gerakan nyata untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi semua. “Katakan pada diri sendiri bahwa Sekolah tanpa bullying, dimulai dari saya,” pesannya.
Sementara itu, narasumber Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd mengajak mahasiswa calon guru memahami pentingnya pendidikan karakter dan peradaban dalam membangun lingkungan belajar yang sehat. Menurutnya, calon guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga harus mampu memahami posisi peserta didik agar tercipta hubungan yang sehat antara guru dan siswa.
“Sebagai calon guru nanti yang menghadap siswa, pembicaraan kita adalah bagaimana adik-adik menjadi guru dan bagaimana adik-adik menjadi murid,” ujarnya.
Dalam paparannya, Sutrisna menjelaskan praktik perundungan sering terjadi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan kebiasaan memberi julukan kepada teman berdasarkan kondisi fisik, seperti menyebut “gemuk” atau “pincang”, yang selama ini dianggap sebagai candaan biasa. Padahal, tindakan tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan trauma bagi korban.
“Ternyata apa yang saya lakukan dulu itu membuat teman tidak nyaman. Memanggil teman dengan julukan tertentu sebenarnya adalah bagian dari merundungi teman-teman kita,” jelasnya.
Karena itu, Sutrisna mengajak para calon guru untuk membangun hubungan yang baik tanpa menyakiti perasaan orang lain. Ia menilai masih banyak praktik perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan sehingga diperlukan komitmen bersama untuk menciptakan budaya saling menghormati dan menghargai.
“Mari kita mulai sadar, kita membangun hubungan yang baik tanpa membuat teman kita tidak nyaman. Sebagai pelajar maupun sebagai guru, kita mempunyai semangat untuk membuat lingkungan yang lebih baik dan menciptakan hubungan yang baik di sekolah,” harapannya.
Melalui workshop ini, para peserta diharapkan menjadi agen perubahan dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan. (Sofyan)
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...


Tidak ada komentar: