Kunjungan Dekan Fakultas Pertanian Univet Bantara Sukoharjo ke Jepang Perkuat Program Magang Internasional dan Mitra Industri

Print Friendly and PDF



Kunjungan Dekan Fakultas Pertanian Univet Bantara Sukoharjo ke Jepang Perkuat Program Magang Internasional dan Mitra Industri

Surakarta - majalahlarise.com - Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan berdaya saing global melalui Program Magang Internasional di Jepang. Untuk memastikan keberhasilan program tersebut, Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Novian Wely Asmoro, STP., M.Sc., melakukan kunjungan kerja ke Jepang pada 18–23 Mei 2026 guna mengevaluasi perkembangan delapan mahasiswa yang tengah menjalani magang sekaligus mempersiapkan keberangkatan peserta gelombang berikutnya. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya penjaminan mutu serta penguatan kerja sama strategis dengan mitra industri internasional.

Selama kunjungan yang berlangsung selama enam hari tersebut, Dekan Fakultas Pertanian meninjau tiga mitra utama program magang, yaitu Nava Farm di Prefektur Gunma yang bergerak di bidang budidaya dan pembibitan jamur, PT Mizuho Nourin Co. Ltd. yang berada di bawah holding Yukiguni Maitake dan dikenal sebagai perusahaan pertanian modern berbasis otomatisasi penuh, serta Tsumugi Japanese School yang berperan dalam penguatan kemampuan bahasa Jepang dan adaptasi budaya mahasiswa. Ketiga institusi tersebut menjadi mitra penting dalam memberikan pengalaman kerja sekaligus pembelajaran internasional bagi mahasiswa.

Delapan mahasiswa yang diberangkatkan pada tahun 2025 dilaporkan mampu mengikuti program magang dengan baik. Mereka terlibat langsung dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pembibitan, inkubasi, panen, penyortiran kualitas hingga pengemasan produk. Selain itu, mahasiswa juga memperoleh pengalaman mempelajari teknologi pertanian modern Jepang seperti pemanfaatan sinar ultraviolet, pengaturan suhu dan kelembapan ruang inkubasi, hingga penggunaan sistem konveyor otomatis berbasis robot dalam proses produksi.


Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Novian Wely Asmoro, STP., M.Sc., menjelaskan program magang tidak hanya memberikan pemahaman teknologi pertanian modern, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa. 

“Di Jepang, teknologi pertaniannya memang jauh lebih maju. Namun hal terpenting yang harus dicontoh mahasiswa adalah kedisiplinan yang sangat tinggi dan keseriusan dalam bekerja, baik di lingkungan industri maupun dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. 

Ia berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama magang dapat menjadi bekal untuk mengembangkan usaha pertanian maupun berkarier di sektor industri setelah kembali ke Indonesia.

Menurut Wely, program magang internasional telah berjalan sejak tahun 2017–2018 dengan fokus pada industri budidaya jamur. Pada tahun akademik 2025–2026, mahasiswa kembali memperoleh kesempatan magang di Mizuho Nourin, salah satu perusahaan agribisnis jamur terbesar di Jepang. 

“Fakultas Pertanian ini sudah melaksanakan magang ke industri sejak 2017–2018, khususnya di bidang budidaya jamur. Tahun 2025–2026 mahasiswa kembali magang di industri jamur yang lebih besar di Jepang,” katanya. 


Ia menambahkan, tingginya konsumsi jamur di Jepang, terutama saat musim dingin, menjadikan sektor ini berkembang sangat pesat dan didukung teknologi mutakhir.

Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman melihat langsung sistem produksi jamur yang dikelola layaknya pabrik berteknologi tinggi. Seluruh proses produksi didukung konveyor otomatis, forklift, dan berbagai perangkat modern sehingga pekerjaan fisik yang berat hampir tidak ditemukan.

“Teman-teman mahasiswa belajar bahwa jamur ternyata bisa dibudidayakan dan diproduksi seperti pabrik. Teknologinya sangat maju dengan sistem otomatis yang mendukung seluruh proses produksi,” jelasnya.

Dalam proses budidayanya, media tanam menggunakan serbuk gergaji kayu cemara dari daerah pegunungan yang menghasilkan aroma khas hutan dan sangat diminati konsumen Jepang.

Untuk menjaga kualitas produk, kondisi ruang inkubasi direkayasa menyerupai habitat alami jamur di hutan. Selama tujuh hari masa inkubasi, suhu, kelembapan, pencahayaan, hingga paparan sinar ultraviolet diatur secara otomatis. Simulasi siang dan malam dilakukan agar pertumbuhan jamur optimal dan tetap menghasilkan aroma alami. 


“Hari pertama sampai hari ketujuh kondisi lingkungan dimanipulasi seperti di alam sehingga ketika panen, jamur tumbuh dengan baik dan aromanya tetap menyerupai kondisi hutan,” ungkapnya.

Wely menjelaskan mahasiswa magang dilibatkan dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari penanaman bibit, inkubasi, panen, sortasi hingga pengemasan. Perusahaan bahkan mampu memproduksi sekitar 10.000 media tanam jamur setiap hari. Berdasarkan evaluasi perusahaan, mahasiswa Indonesia memperoleh penilaian sangat baik dari aspek kemampuan bahasa Jepang, kedisiplinan, komunikasi, dan kerja sama tim. 

“Penilaian dari perusahaan sangat baik. Bahasa Jepang mahasiswa berkembang, kedisiplinan dan kemampuan berkomunikasi dalam bekerja juga dinilai sangat baik,” tuturnya.

Keberhasilan tersebut membuat Fakultas Pertanian kembali memperoleh kepercayaan dari mitra industri Jepang. Menjelang berakhirnya masa magang kelompok pertama pada akhir Agustus mendatang, fakultas telah menyiapkan 12 mahasiswa yang terdiri atas 9 mahasiswi dan 3 mahasiswa semester 4 dan 5 untuk diberangkatkan dalam dua gelombang. Seleksi dilakukan melalui penilaian akademik, wawancara, pemeriksaan kesehatan, serta pelatihan bahasa Jepang intensif selama tiga bulan. 

“Mahasiswa kita tidak boleh hanya pandai di lingkungan sendiri, tetapi harus memiliki wawasan internasional,” katanya.

Selain memperoleh pengalaman kerja internasional, peserta magang juga mendapatkan uang saku yang mencukupi kebutuhan sehari-hari serta kesempatan mengenal budaya Jepang secara langsung. 

“Insya Allah bulan September nanti kami memberangkatkan lagi 12 orang. Ini menjadi kepercayaan besar dari perusahaan internasional yang tentu menjadi nilai tambah bagi Fakultas Pertanian,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wely menjelaskan sejumlah alumni program magang Jepang kini telah bekerja kembali di Jepang maupun mengembangkan usaha pertanian modern di Indonesia, seperti budidaya melon hidroponik berbasis teknologi. Para alumni juga kerap dilibatkan untuk berbagi pengalaman kepada mahasiswa agar semakin memahami perkembangan industri pertanian modern. (Sofyan)


Baca juga: SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Luluskan 123 Siswa dan Menjadi Sekolah Terbaik di Kota Surakarta


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top