Hari Kebangkitan Nasional dan Idul Adha 2026 Punya Nilai Sama, Akademisi UNS: Rela Berkorban demi Bangsa

Print Friendly and PDF

Talkshow di RRI Jumat (22/5/2026). Dari kiri: Rizal Fahlevi, Prof. Bani Sujadi, Alif Al-Hilal Ahmad, Rianna Wati.


Hari Kebangkitan Nasional dan Idul Adha 2026 Punya Nilai Sama, Akademisi UNS: Rela Berkorban demi Bangsa

Solo - majalahlarise.com - Momentum Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Raya Kurban dinilai memiliki kesamaan nilai luhur berupa pengorbanan, persatuan, dan keikhlasan dalam mencapai tujuan bersama. Hal itu mengemuka dalam talkshow budaya bertema “Kebangkitan Nasional dan Hari Raya Kurban” yang digelar di RRI Solo, Jumat (22/5/2026). Diskusi dipandu Rizal Fahlevi dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Bani Sudardi, Alif Al-Hilal Ahmad, dan Rianna Wati.

Dalam diskusi tersebut, para akademisi menjelaskan Kebangkitan Nasional maupun Hari Raya Kurban sama-sama mengajarkan pentingnya rela berkorban demi cita-cita besar bangsa dan nilai kemanusiaan. Prof. Dr. Bani Sudardi membuka pembahasan dengan menelusuri sejarah panjang peradaban Nusantara sejak abad ke-7.

“Kita sudah melalui perjalanan yang panjang. Pada abad ke-7, kita sudah memiliki Kerajaan Kalingga, Sriwijaya yang menguasai maritim, Mataram Kuno dengan Candi Borobudur dan Prambanan yang keindahannya sampai sekarang tidak ada tandingannya. Itu kalau boleh saya sebut sebagai kebangkitan awal bangsa-bangsa di Nusantara,” paparnya.

Menurutnya, semangat kebangkitan tidak lepas dari pengorbanan dan kesadaran kolektif masyarakat. Ia mengaitkan hal tersebut dengan filosofi Jawa “Jer Basuki Mawa Beya” yang berarti setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan.

“Untuk mencapai basuki, keselamatan, keuntungan, kemerdekaan itu diperlukan biaya. Biaya tidak selalu uang, tetapi juga kesadaran dan kemauan,” jelasnya.

Prof. Bani juga menghubungkan filosofi tersebut dengan makna Hari Raya Kurban. Menurutnya, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol kesediaan mengorbankan sesuatu demi tujuan yang benar.

“Kita tahunya kurban itu menyembelih binatang. Tapi sebenarnya filosofinya adalah rela mengorbankan apa pun untuk mencapai tujuan atau cita-cita yang benar. Momentum Kebangkitan Nasional adalah momentum rela berkorban,” ujarnya.

Sementara itu, Dosen Sastra Arab FIB UNS, Alif Al-Hilal Ahmad, menjelaskan makna kurban dari sudut pandang bahasa dan tradisi Islam. Ia menyebut kata kurban berasal dari bahasa Arab “qaruba” yang berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Kurban itu akar katanya dari bahasa Arab qaruba artinya usaha untuk mendekatkan diri. Jadi awal cerita kurban bukan dari Nabi Ibrahim dan Ismail, tapi jauh sebelumnya, dari zaman putra-putrinya Nabi Adam, yaitu Habil dan Qabil,” terang Alif.

Ia menjelaskan Habil mempersembahkan domba terbaiknya, sedangkan Qabil justru memberikan hasil tanaman yang buruk. Pengorbanan Habil kemudian diterima oleh Allah SWT karena dilakukan dengan ketulusan.

Alif juga mengulas kisah Nabi Ibrahim AS sebagai simbol pengorbanan tertinggi. “Nabi Ibrahim pernah berkata kepada Allah: ‘Ya Allah, jangankan disuruh menyembelih semua hewan peliharaanku, seumpama Engkau beri saya putra dan Engkau perintahkan menyembelihnya, saya korbankan sebagai bukti bahwa saya benar-benar hamba-Mu.’ Akhirnya Allah memberikan putra bernama Ismail, dan pada usia 11-12 tahun, Allah memerintahkan penyembelihan itu,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Dosen Sastra Indonesia FIB UNS, Rianna Wati, menjelaskan bahasa dan sastra memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa Indonesia. Menurutnya, Bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu masyarakat dari berbagai daerah.

“Bahasa Indonesia muncul seiring dengan berdirinya negara kita. Bahasa itulah yang kemudian mempersatukan berbagai wilayah di Indonesia. Sastra sebagai budaya yang menggunakan media bahasa menjadi alat perjuangan dan perlawanan para cendekiawan pada saat itu,” ujar Rianna.

Ia menambahkan para sastrawan masa perjuangan menggunakan karya sastra sebagai media menyampaikan semangat pengorbanan dan nasionalisme. “Sastrawan tidak seperti tentara yang punya senjata beneran, peluru, pistol. Yang mereka gunakan adalah bahasa. Dan bahasa itulah yang menjadi media sastra puisi, cerpen, cerita rakyat yang menggambarkan betapa para sastrawan memasukkan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan,” jelasnya.


Penulis: Mutia Hesti Istiqomah

Dokumentasi: Rezty Putri Ariana Gunarso

Editor: Sofyan


Baca juga: Kuliah Lapangan Filologi, Mahasiswa Pelajari Konservasi dan Preservasi Arsip di Monumen Pers Nasional


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top