Dari Kesemutan Menjadi Kesempatan, Perjalanan Bisnis Bunga Telang Bu Marini

Print Friendly and PDF

Bu Marini (jilbab biru) saat foto bersama Sandiaga Uno Menparekraf (2020-2024).


Dari Kesemutan Menjadi Kesempatan, Perjalanan Bisnis Bunga Telang Bu Marini

Wonogiri — majalahlarise.com — Perjalanan usaha sering kali berawal dari pengalaman pribadi. Hal itulah yang dialami Bu Marini, pelaku UMKM asal Desa Kulurejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Dari keluhan kesehatan yang ia rasakan, justru membuka jalan menuju peluang usaha berbasis tanaman herbal yang kini semakin dikenal masyarakat yakni bunga telang.

Awal mula kisah ini terjadi sekitar tahun 2018. Saat itu, Bu Marini mengaku sering merasakan kesemutan dan nyeri pada tungkai kaki akibat kadar asam urat yang cukup tinggi. “Saya dikenalkan saudara dari Cilacap untuk mengonsumsi bunga telang. Alhamdulillah cocok,” tuturnya.

Sejak saat itu, bunga telang bukan hanya menjadi konsumsi pribadi, tetapi juga mulai dilirik sebagai peluang usaha. Memasuki tahun 2019, saat pandemi COVID-19 melanda dan tren herbal meningkat, bunga telang menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari. Bu Marini pun mulai merintis sebagai reseller.

Perjalanan bisnisnya semakin berkembang pada tahun 2020. Berbekal bibit dari seorang kenalan di Ngawi, ia mulai menanam sendiri bunga telang di lahannya. Prosesnya tidak instan. Dibutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga tanaman tersebut bisa dipanen dan menghasilkan bunga yang siap diolah.

“Awalnya saya jual bunga kering per kilogram. Lalu dari komunitas, saya belajar membuat inovasi teh celup,” jelasnya.

Produk teh bunga telang celup dengan berbagai varian, mulai dari original hingga kombinasi jahe, serai, dan lemon. 


Dari situlah, usaha Bu Marini mulai menemukan bentuknya. Ia mengembangkan produk teh bunga telang celup dengan berbagai varian, mulai dari original hingga kombinasi jahe, serai, dan lemon. Varian lemon serai kini menjadi yang paling diminati karena memberikan sensasi segar dan aroma khas.

Menariknya, pemasaran produk Bu Marini tidak hanya mengandalkan penjualan langsung. Ia juga menggandeng reseller yang membantu memasarkan produknya secara lebih luas. “Alhamdulillah yang banyak jalan justru lewat reseller,” ujarnya.

Di masa pandemi, peluang ekspor sempat terbuka. Bu Marini mengaku pernah dua kali mengirim bunga telang ke luar negeri melalui jasa titipan, masing-masing sebanyak lima kilogram. Namun, kerja sama tersebut tidak berlanjut karena pihak eksportir mengalami kendala usaha.

Meski demikian, tantangan terbesar dalam bisnis bunga telang bukan hanya pada pemasaran, tetapi juga pada kualitas produksi. Bu Marini menjelaskan, bunga telang sangat sensitif terhadap udara dan kadar air. Jika proses pengeringan tidak maksimal, bunga mudah lembap dan berjamur.

“Kunci utamanya harus benar-benar higienis dan kering. Kalau tidak, bisa mengurangi kualitas bahkan dikembalikan saat ekspor,” jelasnya.

Untuk menjaga kualitas, ia menerapkan proses tambahan dengan mengoven bunga telang sebelum dikemas. Langkah ini dilakukan untuk memastikan produk tetap awet dan aman dikonsumsi.

Dalam sehari, penjualan produknya memang tidak selalu stabil. Namun, setiap bulan selalu ada pergerakan. Produk teh celupnya saat ini dipasarkan dengan harga terjangkau, mulai dari Rp12.000 untuk varian original, serta Rp17.000 untuk varian jahe dan lemon, dan teh bunga telang tubruk Rp.10.000.

Di balik kesederhanaan usahanya, tersimpan mimpi besar. Bu Marini memiliki keinginan untuk mengembangkan usahanya menjadi sebuah kedai atau rumah makan yang menyajikan berbagai olahan berbasis bunga telang, mulai dari minuman hingga makanan seperti nasi biru dan nasi uduk.

Inspirasi tersebut muncul dari pengalaman bermitra dengan sebuah kafe di Malang yang rutin memesan bunga telang darinya. Namun, keterbatasan modal masih menjadi kendala untuk mewujudkan impian tersebut.

“Pengin punya tempat sendiri yang menyajikan aneka olahan bunga telang, tapi masih terkendala modal,” ungkapnya penuh harap.

Saat ini, selain menjalankan usaha, Bu Marini juga aktif sebagai pendamping halal, sehingga waktu produksi masih ia kerjakan sendiri demi menjaga kualitas dan kebersihan produk.

Bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat atau mencoba produk olahan bunga telang Bu Marini, dapat langsung mengunjungi kediamannya di Sambeng RT 03 RW 02, Desa Kulurejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, tepatnya di sebelah timur perempatan Karangturi.

Kisah Bu Marini menjadi bukti bahwa peluang usaha bisa datang dari mana saja, bahkan dari pengalaman pribadi. Dengan ketekunan, inovasi, dan komitmen menjaga kualitas, usaha kecil pun mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan. (Sofyan)


Baca juga: Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Univet Bantara Antusias Ikuti Kuliah Tamu Pemberdayaan Wirausaha Komunikasi


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top