Seruan Pemberantasan Perundungan Mulai Dari Diri Sendiri

Print Friendly and PDF

Dwi Jatmiko saat menyampaikan khutbah Jumat di Sekolah Sehat Berkarakter SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta.

Seruan Pemberantasan Perundungan Mulai Dari Diri Sendiri

Solo– majalahlarise.com -Ternyata ada tiga macam dalam Al-Quran yang masuk istilah bullying. Yaitu, Istilah pertama adalah istihza, artinya adalah mengolok-olok. Istilah yang kedua adalah sakhr, yaitu merendahkan dan mengejek. Dan istilah yang ketiga adalah talmiz, saling mencela.

Hal itu disampaikan oleh Dwi Jatmiko dalam khutbah Jumat yang diselenggarakan Sekolah Sehat Berkarakter SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (6/10/2023).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas itu menjelaskan ciri masing-masing kriteria. “mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. (QS Al-Baqarah :14). Maka, mari serentak, tergerak dan bergerak pemberantasan perundungan bisa dimulai dari diri sendiri dengan berbekal anjuran dari alQuran,” terangnya.

Baca juga: Mimpi dan Imajinasi  sebagai Pemantik untuk Berliterasi dengan Ratulisa 

Kelompok kedua, lanjutnya, adalah berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).” (QS Hud : 38.)

“Hal ini pernah disebutkan Al-Quran ketika menyinggung umat Nabi Nuh yang mengejek Nabi Nuh ketika hendak membuat bahtera,” kata dia.

Sedangkan kelompok ketiga, jelas Jatmiko salah satu Da’i Standardisasi Majelis Ulama Indonesia, adalah Istilah yang ketiga adalah talmiz, saling mencela. Disebutkan dalam surah al-Hujurat ayat 11.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka,” bebernya.

Jatmiko menjelaskan, tindakan bullying sebagaimana di atas, yaitu mengejek, mengolok-olok, memanggil dengan julukan yang tidak baik bahkan hingga menyakiti fisik sangat tidak dibolehkan, apalagi bagi kita sebagai orang-orang Islam. 

“Seorang muslim adalah manakala orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya”. (Hadis riwayat Imam al-Bukhari),” terangnya dalam khutbah.

Hendaknya yang besar menyayangi yang kecil, jelas Jatmiko, mengayomi, mengajari kebaikan, dan menegur dengan baik jika melakukan kesalahan. Sebaliknya, sebagai timbal balik, yang kecil pun menghormati yang besar, yang lebih senior, yang patut dihormati dan dijadikan teladan. 

“Tidak mengolok-olok satu sama lain, mencela atau menyebut orang lain dengan sebutan yang jelek. Apabila hal ini sudah menjadi kesadaran di tengah masyarakat kita, niscaya hidup kita akan damai dan tak ada bullying di antara kita,” ungkap dia.

Sungguh beruntung, kata Jatmiko mengutip surah At-Talaq Ayat 2 dan 3, Karena dengan ketakwaan, setiap persoalan hidup yang kita alami, akan ada jalan keluarnya dan akan ada pula rezeki yang datang kepada kita tanpa disangka-sangka. (Sofyan)

Baca juga: Tampilan Karawitan Guru dan Karyawan Pukau Tamu Resepsi HUT ke-30 SMAN 1 Manyaran


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top