Lolos Kurasi Pameran Internasional Convergence UNP Padang 2026, Dosen DKV ISI Surakarta Tampilkan Karya “Lelaku”

Print Friendly and PDF


Lolos Kurasi Pameran Internasional Convergence UNP Padang 2026, Dosen DKV ISI Surakarta Tampilkan Karya “Lelaku”

PADANG – majalahlarise.com – Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Asmoro Nurhadi Panindias, berhasil lolos kurasi dalam Pameran Internasional Seni Rupa dan Desain bertajuk Convergence yang diselenggarakan Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, pada 27–30 Oktober 2026.

Dalam pameran yang berlangsung di Galeri Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP, Gedung Teater Tertutup Mursal Esten tersebut, Asmoro menampilkan karya berjudul “Lelaku”. Karya ini mengangkat kearifan budaya Jawa sebagai refleksi tentang nilai-nilai kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi yang semakin memperluas kemampuan manusia.

Pameran internasional Convergence digagas Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP dengan kurator Rifki Aswan. Perhelatan ini menghadirkan 83 seniman dan desainer dari delapan negara, terdiri atas 71 seniman Indonesia, empat seniman Malaysia, dua seniman China, dua seniman Nepal, serta masing-masing satu seniman dari Skotlandia, Korea Selatan, Rusia, dan Slovakia.

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog dan kolaborasi lintas bangsa serta lintas generasi dalam merespons perkembangan seni kontemporer di era konvergensi teknologi dan budaya. Pameran ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan 63 tahun Departemen Seni Rupa dan 72 tahun Universitas Negeri Padang.


Melalui seleksi yang melibatkan seniman undangan, dosen, mahasiswa, hingga seniman muda hasil open call, pameran ini mengangkat dinamika seni kontemporer yang semakin cair. Batas antara disiplin ilmu, budaya lokal dan global, tradisi dan modernitas, hingga realitas natural dan artifisial menjadi tema yang menarik untuk dieksplorasi.

Di tengah keberagaman perspektif tersebut, karya “Lelaku” hadir menjawab pertanyaan kuratorial mengenai bagian dari kemanusiaan yang harus dipertahankan ketika kemampuan manusia terus diperluas oleh teknologi.

Asmoro berangkat dari falsafah Jawa ngèlmu iku kalakone kanthi laku, yang mengandung makna pengetahuan dan ilmu harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Menurutnya, lelaku merupakan kesediaan manusia untuk menjalani proses, menanggung beban, serta mewujudkan gagasan melalui keterlibatan tubuh secara utuh.

“Ketika teknologi terus memperluas kapasitas manusia hingga mengaburkan batas antara yang natural dan artifisial, bagian paling esensial dari kemanusiaan yang harus kita jaga adalah lelaku. Sebagaimana falsafah Jawa ngèlmu iku kalakone kanthi laku, gagasan dan pengetahuan menuntut keterlibatan tubuh secara utuh untuk diwujudkan dan ditanggung dalam laku hidup nyata,” ungkap Asmoro Nurhadi Panindias dalam rilis yang dikirim.

Secara visual, karya “Lelaku” menampilkan figur pekerja dengan postur yang mengadaptasi pedagang kaki lima tradisional yang sedang memikul beban. Namun, isi pikulan tersebut mengalami transformasi. Satu sisi merepresentasikan gaya hidup kekinian, sedangkan sisi lainnya memuat elemen budaya skena kontemporer.

Representasi tersebut menggambarkan perubahan bentuk pekerjaan manusia modern yang semakin banyak bergerak di ranah kreatif dan digital. Meski demikian, tubuh manusia tetap menjadi entitas biologis yang harus menanggung beban pekerjaan dan menjalani proses untuk menghasilkan sesuatu.

Penguatan pesan filosofis dalam karya ini juga terlihat melalui penggunaan tipografi Aksara Jawa bertuliskan “Lelaku” pada bagian latar. Eksekusi visualnya menggunakan pendekatan bergaya risograph dengan tekstur analog, sehingga menghadirkan perpaduan antara nilai tradisi dan ekspresi visual kontemporer.

Kehadiran perspektif lokal Jawa dalam pameran internasional ini memperkaya spektrum gagasan kuratorial Convergence. Keberagaman bentuk, karakter, serta latar belakang konsep para peserta memberikan pengalaman edukatif bagi publik untuk memahami perbedaan bahasa ekspresi, nilai sejarah, budaya, hingga kepedulian terhadap lingkungan hidup dari berbagai negara.

Lebih dari sekadar ruang apresiasi karya, pameran ini juga membuka peluang terbentuknya kerja sama institusional dan penyelenggaraan pameran bersama secara berkelanjutan. Kehadiran perupa dan akademisi lintas negara menjadi langkah awal memperluas jejaring kolaborasi di bidang seni rupa dan desain.

Partisipasi Asmoro Nurhadi Panindias sekaligus mencerminkan komitmen Prodi DKV ISI Surakarta dalam mengintegrasikan nilai-nilai kearifan budaya Nusantara ke dalam karya desain komunikasi visual. Upaya tersebut berjalan seiring dengan pengembangan jejaring akademik dan kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui karya “Lelaku”, nilai budaya Jawa tidak hanya dihadirkan sebagai identitas lokal, tetapi juga menjadi gagasan universal yang relevan untuk didialogkan di tengah perubahan zaman. Karya ini mengingatkan manusia agar tetap menjaga keterlibatan, pengalaman, dan tanggung jawab nyata dalam setiap proses kehidupan, meskipun teknologi terus berkembang. (Sofyan) 


Baca juga: SD Muhammadiyah PK Banyudono Gelar IHT Servis Excellent, Bangun Kepercayaan melalui Pelayanan Istimewa


Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top