Semarak Hari Batik Nasional, Murid SD Muhammadiyah PK Solo Sulam Peta Budaya Nusantara

Print Friendly and PDF



Semarak Hari Batik Nasional, Murid SD Muhammadiyah PK Solo Sulam Peta Budaya Nusantara

Solo - majalahlarise.com - Sebanyak 81 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo tampak antusias mengikuti serangkaian kegiatan edukatif yang mengusung konsep seni, geografi, dan kebudayaan pada momentum peringatan Hari Batik Nasional di ruang kelas sekolah setempat, Jumat (2/10/2026).

Koordinator tim kelas III, Lusia Wahyu Purbowati, menyampaikan melalui pendekatan belajar yang interaktif, para murid diajak untuk tidak sekadar mengenal batik sebagai kain tradisional, melainkan juga memahaminya sebagai simbol identitas bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. 

"Kegiatan ini dirancang secara khusus untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus mengasah kecerdasan spasial dan motorik halus anak sejak usia dini," terangnya.

Pada sesi pertama, guru membagikan lembar kertas bergambar pulau-pulau besar di Indonesia secara acak kepada setiap murid. Uniknya, di dalam garis outline setiap pulau tersebut telah disematkan ornamen motif batik khas daerah yang mewakili wilayah geografis yang bersangkutan. Proses pengundian lembar kerja secara acak ini memberikan kejutan tersendiri bagi para murid. Keadaan ini memicu rasa ingin tahu yang besar, karena setiap murid ditantang untuk mengeksplorasi estetika visual batik dari wilayah nusantara yang mungkin belum pernah mereka jumpai sebelumnya.


Dengan berbekal alat warna seperti pensil warna dan krayon, jemari kecil para murid mulai menari di atas kertas, menghidupkan garis-garis motif tradisional dengan paduan warna yang cerah dan kreatif. Suasana riuh mewarnai proses kreatif saat mereka saling bertukar cerita mengenai motif unik yang sedang mereka kerjakan. Keberagaman corak tampak jelas saat pulau Jawa dihiasi gradasi warna khas motif Parang dan Megamendung, sementara pulau Kalimantan tampak gagah dengan tegasnya ukiran khas Dayak. Tak ketinggalan, pulau Papua memikat perhatian melalui keanggunan siluet burung Cendrawasih yang dipadukan dengan corak kain lokal.

Setelah tahapan mewarnai selesai, kegiatan berlanjut ke fase kolaboratif yang tidak kalah seru. Para murid dikelompokkan sesuai dengan bagian peta yang mereka dapatkan untuk kemudian menyatukan potongan-potongan pulau tersebut menjadi satu kesatuan peta Indonesia yang utuh dan megah. Proses penyatuan mozaik peta ini menjadi simbolik yang kuat akan kebhinekaan bangsa. Para murid belajar secara langsung bahwa meski setiap pulau memiliki corak batik yang berbeda-beda, semuanya tetap berpadu harmonis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu murid kelas III, Hilda Husam Sungkar merasa senang mendapatkan pengalaman belajar berbasis praktik kali ini.  

"Tak hanya mewarnai dan menempel saja, kita juga diberi wawasan tentang jenis-jenis batik nusantara melalui tayangan video. Lewat kegiatan ini kita telah berhasil menyemai benih-benih pelestarian salah satu budaya Indonesia," ucapnya.

Puncak acara ditandai dengan sesi presentasi kelompok di hadapan guru dan teman-teman sekelas. Dengan percaya diri dan penuh keberanian, setiap perwakilan murid melangkah ke depan kelas untuk memaparkan hasil karya mereka, menyebutkan nama pulau, serta menjelaskan identitas motif batik yang telah selesai diwarnai. Tidak hanya melatih keterampilan berkomunikasi di depan umum, kegiatan ini juga berhasil menanamkan pemahaman mendalam mengenai kekayaan warisan budaya Indonesia. (Sofyan)


Baca juga: Jejak Kolaborasi Sejak 2015 Berlanjut, Perpustakaan UNISRI dan UMY Perkuat Kerja Sama Literasi


Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top