GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Perguruan Tinggi dan Ekonomi Kreatif: Mengapa Pelaku Ekraf Perlu Saling Merapat ke Kampus?
Perguruan Tinggi dan Ekonomi Kreatif: Mengapa Pelaku Ekraf Perlu Saling Merapat ke Kampus?
Sebuah ajakan untuk membangun kolaborasi, bukan sekadar seminar
Oleh: Agung Wijanarko, S.Sos, MM.
Dosen Prodi Akuntansi Universitas Amikom Yogyakarta
Email: agungwijanarko@amikom.ac.id
![]() |
| Agung Wijanarko, S.Sos, MM |
Potensi Ekraf Indonesia
Tonggak Ekraf makin bergulir sejak tahun 2019, dimana pemerintah mengesahkan Undang-Undang (UU) No 24 Tahun 2019 dan Peraturan Pemerintah (PP) No.24 Tahun 2022, sebagai payung hukum resmi bagi pengelolaan dan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Turunannya berdasar UU dan PP ini banyak Kabupaten/Kota menetapkan peraturan daerah (Perda) yang menjadi payung kebijakan dan program ekonomi kreatif (Ekraf) setempat (seperti kuliner, kriya, fesyen, seni pertunjukan dll).
Kontribusi Ekraf terhadap ekonomi nasional pada tahun 2025 menurut Ketua Badan Pusat Statistik, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif Indonesia mencapai sekitar Rp 1.757,87 triliun hingga Rp1.797,87 triliun. Sektor ini tumbuh sebesar 6,86% melampaui pertumbuhan ekonomi nasional serta sukses menyerap 27,4 juta tenaga kerja dengan nilai ekspor menembus USD 26,68 miliar. Dengan penyumbang terbesar dari sub sektor kuliner, diikuti televisi/radio, fashion, pengembang aplikasi dan dan. Dan angka pertumbuhan 20,73% (Rp. 310 triliun) dan serapan tenaga kerja (6,24 juta) paling besar ada di provinsi Jawa Barat. Sementara di provinsi dan kabupaten/kota lain potensi Ekraf-nya belum tergarap secara optimal.
Perguruan Tinggi dan wajah Ekraf kita
Menimbang Ekraf yang belum tergarap secara optimal, perlu upaya lebih serius sinkronisasi simpul-simpul Ekraf untuk menciptakan sinergi, salah satu adalah peran Kampus-Perguruan Tinggi (PT). Di Indonesia terdapat 4.500 kampus yang tersebar diberbagai Kabupaten/Kota, dengan sekitar 2.840 di antaranya berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam kontek ini ada beberapa alasan mengapa PT harus berperan aktif menjadi penggerak dalam pengembangan Ekraf, pertama, menjawab tantangan eksistensial atas keilmuan yang dikembangkan, dimana PT memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat pada umumnya atas ilmu yang diajarkan. Kedua, kewajiban PT untuk berkontribusi dengan membuat penelitian mereka lebih relevan dengan permasalahan publik, Ekraf khususnya yang erat hubungannya dengan karya berbasis kapasitas intelektual. Dan yang ketiga, berupa kontribusi langsung berupa pendampingan dan pemberdayaan komunitas untuk meningkatkan kualitas Ekraf setempat, atau utamanya menumbuhkan semangat kewirausahaan dan inovasi.
Wajah ekonomi kreatif Indonesia saat ini penuh dengan ide tetapi sering berjalan tanpa dukungan peta-jalan yang kuat. Demikian halnya dengan persoalan klasik yang ada, seperti lemahnya permodalan, perlindungan hak cipta, lemahnya literasi digital dan akses pasar internasional. Dan pelaku Ekraf kita harus bersaing di pasar domestik melawan produk ekraf negara lain (diantaranya fenomena Anime Jepang dan produk turunannya, K-Wave dengan beragam varian produknya dari Korea Selatan). Indonesia punya keragaman modal yang sama besarnya seperti: budaya, kerajinan, kuliner, musik, film, hingga talenta digital muda yang terus tumbuh. Ini adalah wajah nyata ekonomi kreatif Indonesia.
Universitas Generasi ke Empat yang Berdampak
Bahwa PT di era bangkitnya kelompok kreatif (creative class) semakin dituntut peran sosialnya, paradigma baru ini “tidak hanya mengubah cara pengetahuan diciptakan dan dibagikan, tetapi juga bagaimana pendekatan ini mendefinisikan kembali hubungan antara universitas, industri, pemerintah, dan masyarakat” (Bogers, M. & Steinbuch, M., 2023). PT generasi ke 4 mewakili pergeseran ke model quadruple helix, selain universitas, industri, dan pemerintah yaitu ada masyarakat yang memainkan peran sentral dalam penciptaan pengetahuan dan inovasi. Maka PT dengan minimal empat modal yang dimilikinya (a) talenta dan kurikulum, b) riset dan inovasi. c) inkubasi dan pendampingan bisnis. d) jaringan dan advokasi kebijakan) sangat relevan bagi pelaku ekonomi kreatif.
Dengan kata lain, PT harus semakin membaur dengan masyarakat, dengan modal diatas PT dapat menjadi jembatan yang berdampak sosial lebih luas, dengan cara mendengar langsung apa yang benar-benar dibutuhkan komunitas kreatif, bukan menyusun program dari atas meja tanpa mengenal denyut lapangan. Demikian halnya dengan para pelaku ekraf harus mau terbuka dan menyeberang, dan cara-pandang terbuka seperti ini harus semakin digalakan. Ekraf Indonesia tidak akan tumbuh hanya dari semangat individu yang bekerja sendiri-sendiri. Sudah saatnya jembatan itu benar-benar dibangun dan dilewati dari dua arah. Karenanya dukungan ekosistem berupa proses kreatif, riset, inovasi dari PT sangat diharapkan pelaku Ekraf. PT dengan laboratorium, ahli desain, dosen-dosen periset banyak yang karyanya berhenti di jurnal, dan ada ribuan mahasiswa dengan energi serta keterampilan digital yang mencari tempat untuk dipraktikkan. Dua dunia ini sebenarnya saling membutuhkan namun terlalu sering berjalan di jembatan yang terpisah.
Daftar pustaka:
John Howkins, The Creative Economy: How People Make Money from Ideas (Newbigin, 2010)
https://en.wikipedia.org/wiki/Creative_economy_(economic_system)
https://pslh.ugm.ac.id/ekonomi-oranye/
Felipe Buitrago Restrepo & Iván Duque Márquez, The Orange Economy – an Infinite Opportunity ( Publication code: IDB-MG-165 , 2013)
https://ekraf.go.id/publication/sensus-ekonomi-2026-jadi-momentum-pemetaan-kekuatan
https://kemdiktisaintek.go.id/library/book/statistik-pendidikan-tinggi-2025
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...

Tidak ada komentar: