Karawitan, Dolalak, dan Macapat Perkuat Muatan Lokal Guru SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah

Print Friendly and PDF

R. Adi Deswijaya, S.S., M.Hum., dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FKIP Univet Bantara Sukoharjo, menyampaikan materi "Nilai-Nilai Filosofis Karawitan, Tari Dolalak, dan Macapat" kepada guru-guru SLB.


Karawitan, Dolalak, dan Macapat Perkuat Muatan Lokal Guru SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah

Solo - majalahlarise.com – Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah menunjuk dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, R. Adi Deswijaya, S.S., M.Hum., sebagai narasumber kegiatan Muatan Lokal bertema "Mengenal Seni Budaya Lokal (Karawitan, Tari Dolalak, dan Macapat)" di Aula SLB Negeri Sukoharjo, Kamis (9/7/2026). 

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Program Kerja Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Tahun 2026 untuk memperkuat kurikulum muatan lokal pada pendidikan khusus sekaligus meningkatkan kompetensi guru SLB dalam mengajarkan Bahasa Jawa dan seni budaya daerah.

Mewakili Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Kasi SMA dan SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Edi Purwanto, S.E., M.M., membuka kegiatan sekaligus menjelaskan sosialisasi muatan lokal Bahasa Jawa merupakan agenda rutin tahunan yang telah dianggarkan dalam DPA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII. Program tersebut bertujuan memperkuat implementasi pembelajaran Bahasa Jawa dan budaya Jawa pada jenjang Sekolah Luar Biasa (SLB).

Mewakili Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Kasi SMA dan SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Edi Purwanto, S.E., M.M., memberi sambutan sekaligus membuka kegiatan.


"Kegiatan sosialisasi muatan lokal Bahasa Jawa ini dalam rangka meningkatkan pengetahuan Bapak dan Ibu Guru agar nantinya dalam penyampaian muatan lokal Bahasa Jawa akan terus meningkat dan semakin hebat," ujar Edi Purwanto.

Ia berharap para guru mampu menanamkan kecintaan terhadap Bahasa Jawa beserta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya kepada peserta didik berkebutuhan khusus, mulai dari adat istiadat, kebiasaan masyarakat Jawa Tengah hingga karya sastra daerah seperti geguritan.

"Harapan kita, semua harus terus nguri-uri muatan lokal Bahasa Jawa agar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, baik dalam bermasyarakat maupun dalam bernegara," tuturnya.

Dalam sesi utama, R. Adi Deswijaya menyampaikan materi mengenai seni budaya Jawa yang meliputi karawitan, Tari Dolalak, dan tembang macapat. Materi dirancang sederhana dan aplikatif sehingga mudah diterapkan guru dalam proses pembelajaran di SLB sesuai karakteristik peserta didik.



"Materi yang saya sampaikan bisa menjadi bekal bagi guru di SLB, terutama untuk membuat macapat secara sederhana dan memahami nilai-nilai filosofis yang ada dalam karawitan, Tari Dolalak, serta macapat," jelasnya.

Selain praktik penyusunan tembang Pocung sederhana, peserta juga diajak memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ketiga warisan budaya tersebut. Menurut Adi Deswijaya, seni tradisi memiliki peran penting sebagai media pendidikan karakter.

"Seni tradisi bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi sarana menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan spiritualitas kepada generasi muda," ungkapnya.

Pada materi karawitan, Adi Deswijaya menjelaskan setiap instrumen gamelan memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi hingga menghasilkan harmoni. Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya kerja sama, pengendalian diri, empati, kesabaran, serta penghargaan terhadap sesama.

"Karawitan mengajarkan manusia untuk hidup selaras, memiliki rasa empati, bersabar, dan selalu mengedepankan rasa dalam setiap tindakan," katanya.

Sementara itu, materi Tari Dolalak mengulas sejarah kesenian khas Purworejo yang berkembang dari masa kolonial menjadi seni pertunjukan sarat pesan perjuangan, kritik sosial, dan nilai religius. Gerakan, kostum, hingga syair pengiring mencerminkan keberanian, gotong royong, penghormatan terhadap martabat manusia, serta hubungan manusia dengan Tuhan.

"Keindahan Tari Dolalak lahir dari kebersamaan, sementara gerakannya mencerminkan semangat pantang menyerah dan penghormatan terhadap martabat manusia," tutur Adi Deswijaya.

Pada pembahasan tembang macapat, peserta dikenalkan makna filosofis setiap jenis tembang yang menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dalam kandungan hingga akhir kehidupan. Tembang Maskumambang, Mijil, Sinom, Asmaradana, Pangkur, hingga Pocung memuat pesan moral tentang pendidikan, cinta kasih, tanggung jawab, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta kesadaran spiritual.

"Macapat menjadi media pembelajaran nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun melalui syair dan tembang," ujarnya.

Adi Deswijaya menjelaskan pelestarian seni budaya lokal perlu dimulai dari dunia pendidikan agar nilai-nilai luhur tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya, termasuk kepada peserta didik berkebutuhan khusus di SLB.

"Pelestarian seni budaya lokal harus dimulai dari dunia pendidikan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya," tegasnya.

Menutup kegiatan, Adi Deswijaya berharap materi yang telah diberikan dapat menjadi bekal bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran muatan lokal yang lebih kreatif, bermakna, dan sesuai kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.

"Harapan saya, materi ini dapat menjadi bekal bagi para guru SLB untuk diimplementasikan kepada anak didik ABK dan semakin menambah wawasan para guru," pungkasnya. (Sofyan)


Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Jalin MoU dengan UiTM Johor Malaysia, Perkuat Jejaring Akademik Internasional


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top