Layanan BK Berbasis Risalah Akhlak Filosofis: Strategi Tepat Membangun Karakter Unggul

Print Friendly and PDF

Layanan BK Berbasis Risalah Akhlak Filosofis: Strategi Tepat Membangun Karakter Unggul


Oleh: Dewi Rahmadina, S.Psi

Guru Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 1 Sukoharjo


Dewi Rahmadina, S.Psi


       Remaja saat ini hidup di era digital yang tidak hanya menyajikan berbagai macam kemudahan, namun juga sarat dengan tantangan dalam pembentukan karakter positif. Remaja dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat. Ruang digital dapat membantu mereka dalam berinovasi dan mengembangkan kreatifitas. Remaja dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses pendidikan maupun pekerjaan.

       Namun selain dampak positif, terdapat sisi negatif dari kemudahan akses digital tersebut. Remaja rentan terpapar hal-hal negatif seperti pornografi, agresifitas, bullying, gaya hidup hedonistik, ujaran kebencian, dan lain sebagainya. Sebuah survei dari Pusat Penelitian Kebijakan BRIN pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 75% remaja di Indonesia terpapar konten digital negatif seperti pornografi, hoaks, dan kekerasan cyber setidaknya sekali dalam sebulan. Fenomena seperti pergaulan bebas, perundungan, hilangnya rasa hormat terhadap orang tua maupun guru, berkata kasar, serta mudah tersulut emosi, merupakan bentuk degradasi moral yang memerlukan perhatian serius oleh berbagai pihak. Permasalahan ini jika tidak ditangani dapat menghambat perkembangan remaja yang tentunya akan berdampak pada masa depannya.

       Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mencetak generasi yang berkarakter unggul. Bimbingan dan konseling (BK) yang merupakan salah satu elemen dalam sistem pendidikan juga memiliki peran strategis. Salah satu upaya yang dilakukan guru BK dalam membantu siswa yang terjebak dalam perilaku negatif adalah dengan menerapkan teknik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) yang dikembangkan oleh Albert Ellis. Teknik ini bertujuan untuk: mengubah pikiran irasional menjadi rasional, membangun perilaku sehat, dan membantu individu menerima diri secara realistis. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) terbukti dapat dimanfaatkan untuk membantu guru BK dalam mereduksi perilaku negatif siswa. 

       Agar penerapan teknik ini berhasil maksimal, maka guru BK mengintegrasikan dengan nilai-nilai risalah akhlak. Risalah akhlak filosofis Muhammadiyah dapat dijadikan nilai rujukan dalam membangun karakter siswa. Tujuan dari risalah akhlak filosofis sendiri adalah (1) membentuk manusia berakhlak mulia. (2) mengembangkan kesadaran ihsan. (3) menjadikan manusia mampu mencapai kebahagiaan hakiki. (4) menjadi pedoman moral yang relevan lintas zaman. Hal ini berkaitan dengan tujuan teknik REBT. Mengintegrasikan risalah akhlak filosofis Muhammadiyah dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berarti menyatukan nilai spiritual Islam dengan psikologi kognitif. Pendekatan ini mengubah pemikiran irasional menjadi rasional, dipadukan dengan kesadaran tauhid dan ihsan untuk membentuk karakter yang tangguh dan berorientasi pada kebaikan universal.

       Berikut tahapan membangun karakter unggul dalam praktik REBT terintegrasi nilai akhlak filosofis: Pertama (A) (Activating Event): identifikasi permasalahan dalam hidup, misalnya pergaulan bebas. Ke dua (B) (Beliefs): menggali keyakinan irasional, misalnya siswa mempunyai pikiran mengikuti trend agar tidak ketinggalan zaman. Ke tiga (C) (Consequence): konsekuensi berupa perasaan berdosa, hati tidak tenang, perilaku menyimpang. Ke empat (D) (Disputing): merubah keyakinan irasional ini dengan nilai-nilai filosofis dan spiritual Islam, selaras dengan larangan mengenai zina telah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surat Al-Isra' ayat 32. Artinya: “dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Ke lima (E) (Effective New Philosophy): membangun filosofi baru yang rasional dan religius sesuai risalah akhlak dengan mengkaji makna Surat Al-Baqarah Ayat 42 yang artinya “dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”.

       Penerapan teknik REBT yang selaras dengan nilai-nilai akhlak filosofis akan sangat membantu guru BK dalam membangun karakter positif siswa, apalagi saat ini remaja cenderung mengalami kehampaan spritual. Internalisasi Ihsan, yaitu membiasakan kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi perilaku kita akan membuat kita selalu hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selanjutnya praktik perilaku (amal shalih): menerapkan pemikiran rasional tersebut menjadi tindakan nyata, seperti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua hal yang dilarang.

       Jika konsep tersebut diterapkan dengan baik maka remaja akan terhindar dari perilaku-perilaku menyimpang dan akan terbentuk karakter unggul, sehingga generasi muda kita siap meyambut Indonesia emas 2045. Dengan karakter unggul generasi muda akan mampu bersaing di kancah regional maupun global. Penerapan teknik REBT terintegrasi nilai-nilai akhlak filosofis ini memerlukan konsistensi dan komitmen bersama untuk saling peduli. Oleh karena itu kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, baik orang tua, sekolah, maupun masyarakat luas sangat diperlukan. 

       Jadi tanggung jawab pembentukan karakter unggul bukan hanya peran sekolah, namun juga unsur lain terutama keluarga atau orang tua. Allah berfirman di dalam Al-Quran tepatnya Surat At-Tahrim ayat 6, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." Melalui ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga. Menjaga diri dan keluarga dengan cara mengajarkan ilmu agama, mengajak untuk ketaatan terhadap perintah Allah dan melarang keluarga dari perbuatan maksiat. Ketika ada kolaborasi pihak sekolah dan orang tua, maka upaya yang dilakukan oleh guru BK akan berdampak maksimal dan diharapkan melekat dalam diri remaja. 


Referensi:

Erford, B. T. (2017). 40 Teknik yang Harus Diketahui Setiap Konselor. Pustaka Pelajar

https://muhammadiyah.or.id/2020/12/risalah-akhlak-muhammadiyah-merujuk-kepada-semangat-beramal-dan-mengabdi/

https://mozaik.inilah.com/quran 







Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top