GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Keteladanan: Fondasi Sukses yang Terlupakan dalam Pendidikan Kita
Keteladanan: Fondasi Sukses yang Terlupakan dalam Pendidikan Kita
Oleh: Sugianto Cahyo Widodo, S.Pd
Guru Bimbingan dan Konseling SMK Veteran 1 Sukoharjo
![]() |
| Sugianto Cahyo Widodo, S.Pd |
Fenomena krisis figur teladan kian nyata di dunia pendidikan. Berbagai survei dan realitas di lapangan menunjukkan banyak siswa lebih mengenal selebgram, kreator konten, atau tokoh viral di media sosial dibandingkan sosok inspiratif di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Padahal, keteladanan merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter yang kuat sebagai bekal meraih kesuksesan.
Dalam dunia pendidikan, keberhasilan peserta didik tidak hanya diukur melalui nilai akademik. Kemampuan bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, peduli, dan memiliki integritas menjadi indikator penting yang menentukan keberhasilan seseorang di masa depan. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui proses pembiasaan yang didukung oleh keteladanan dari orang-orang di sekitarnya.
Dalam ranah Bimbingan dan Konseling, teori Social Learning yang dikemukakan Albert Bandura menjelaskan perilaku manusia terbentuk melalui proses observasi dan peniruan terhadap model yang dianggap penting. Orang tua, guru, teman sebaya, maupun tokoh publik memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, bersikap, dan bertindak seorang anak. Mereka tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari contoh nyata yang disaksikan setiap hari.
Di era digital, tantangan pembentukan karakter semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat membuat peserta didik mudah meniru berbagai perilaku yang mereka temui di media sosial tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kondisi ini menuntut keluarga dan sekolah untuk lebih aktif menghadirkan figur teladan yang mampu menjadi penyeimbang di tengah derasnya pengaruh dunia digital.
Konsep keteladanan tersebut selaras dengan nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 21, Allah SWT menegaskan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah atau teladan terbaik bagi umat manusia. Keteladanan Rasulullah menjadi bukti pendidikan karakter dibangun melalui perilaku nyata yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Islam mengajarkan pendidikan tidak berhenti pada penyampaian ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan proses membentuk akhlak, kepribadian, dan karakter mulia melalui contoh yang diberikan oleh pendidik. Oleh sebab itu, setiap guru memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan bagi peserta didiknya, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Sayangnya, masih banyak lembaga pendidikan yang lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan prestasi kompetitif. Aspek pembentukan karakter sering kali hanya menjadi pelengkap melalui kegiatan seremonial yang belum menyentuh perubahan perilaku secara mendalam. Padahal, pendidikan karakter memerlukan proses yang berkelanjutan dan konsisten.
Guru Bimbingan dan Konseling memiliki peran strategis dalam membangun budaya keteladanan di sekolah. Selain membantu menyelesaikan berbagai permasalahan peserta didik, guru Bimbingan dan Konseling dapat menjadi fasilitator yang menghubungkan siswa dengan figur-figur inspiratif, menyelenggarakan program mentoring, serta membangun lingkungan sekolah yang sarat dengan nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan semangat saling menghargai.
Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter. Orang tua perlu menjadi teladan pertama di rumah, guru memperkuat nilai-nilai tersebut di sekolah, sedangkan masyarakat menyediakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya perilaku positif. Apabila ketiga unsur ini berjalan seiring, peserta didik akan memiliki karakter yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Sudah saatnya dunia pendidikan kembali menempatkan keteladanan sebagai inti dari proses pembelajaran. Kesuksesan sejati tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kualitas karakter yang dibangun melalui contoh nyata. Ketika guru, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat mampu menjadi teladan yang baik, pendidikan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, berintegritas, dan siap memberikan manfaat bagi bangsa serta kemanusiaan.
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...

Tidak ada komentar: