GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Kampus Harus Siapkan Profil Lulusan Program Studi yang Kompeten dan Siap Kerja Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha dan Industri Era Digital
Kampus Harus Siapkan Profil Lulusan Program Studi yang Kompeten dan Siap Kerja Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha dan Industri Era Digital
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
"Kawan, bergerak dan berkarya merajut cerita dengan kata untuk dikenang sepanjang masa saat senja menuju ke peraduannya”
Indonesia meluluskan lebih dari 1,3 juta calon sarjana (lulusan pendidikan tinggi) setiap tahun. Meskipun angka kelulusan sangat tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat ada sekitar 1 juta lulusan sarjana yang belum terserap oleh lapangan kerja (https://www.google.com/search?q=jumlah+calon+sarjana+di+Indonesia+tahun+2026&oq=jumlah+calon+sarjana+di+Indonesia+tahun+2026&gs). Data yang dideskripsikan tersebut merupakan dasar penulis untuk menuliskan kegelisahan dan renungan bagi dosen, pengelola program studi, fakultas, kampus, dan Kemdiktisaintek Republik Indonesia di Indonesia. Perkembangan zaman digital yang terus diwarnai dengan kecerdasan buatan (AI) dan aplikasi digital lainnya tentu akan menjadi kekhawatiran dan keraguan bagi multigenerasi NKRI. Banyak hal yang sudah disajikan dalam berbagai sumber literasi digital dan nondigital untuk dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Namun demikian, apakah dunia kampus yang melahirkan para sarjana juga sudah menyiapkan berbagai perangkat dan membekali para mahasiswanya dengan aneka keterampilan digital yang diperlukan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan industri saat ini.
Berdasarkan data Kemdiktisaintek RI bahwa sarjana yang lulus setiap tahun sekitar 1,3 juta dan sekitar 1 juta menganggur merupakan pekerjaan rumah bagi pemangku kepentingan terkait. Data ini menjadi bahan renungan bagi para pengelola program studi, fakultas, dan rektor pada kampus negeri dan swasta di seluruh wilayah Indonesia. Mengapa demikian? Pertanyaan ini harus dijawab oleh pengelola kampus yang disebut rektor/ketua/direktur. Pertama, bagaimanakah profil lulusan sarjana yang akan dihasilkan? Pertanyaan tersebut merupakan target dan realisasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang harus ditetapkan dan diwujudkan oleh rektor/ketua/direktur sebagai penanggung jawab dan pengelola kampus. Kemudian kedua, Sarjana bidang apa? Misalnya sarjana pendidikan, saintek, sosial humaniora, dan sarjana lainnya itu menjadi CPL yang harus dirumuskan dan diwujudkan oleh seorang pengelola fakultas atau dekan. Kemudian ketiga, sarjana bidang tertentu yang bagaimanakah? CPL program studi dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) tersebut merupakan CPL dna CPMK yang harus direalisasikan oleh dosen pada program studi tersebut. Semua CPL dan CPMK tersebut harus menjadi rujukan dan dikolaborasikan dengan hasil evaluasi kurikulum yang disurvei melalui alumni program studi dan pengguna lulusan. Dengan demikian, peninjauan dan pengembangan kurikulum prodi untuk menyiapkan profil lulusan yang kompeten, siap kerja, melek literasi digital, kreatif, inovatif, berkarakter, siap bersaing dan bersanding dengan tenaga kerja lain di tingkat nasional dan internasional. Para sarjana yang dihasilkan era digital harus didasarkan pada evaluasi kurikulum, pendapat alumni, dan pengguna lulusan program studi yang sudah bekerja sehingga akan dapat disiapkan evaluasi kurikulum secara mikro dna makro sebagai dasar pengembangan kompetensi sarjana yang dihasilkan oleh program studi yang mengelola tersebut.
Perkembangan zaman yang terus bergerak dan didominasi dengan perangkat digital, maka diperlukan persiapan dan pembekalan yang benar-benar sesuai kebutuhan perkembangan zaman dan era digital kekinian. Program studi yang didirikan oleh kampus-kampus di seluruh Indonesia harus mulai bergerak dan berubah mindsetnya untuk adaptif dengan kebutuhan industri dan dunia usaha saat ini. Pemilihan materi, bahan ajar, media, bahan kajian untuk mendukung capaian kompetensi lulusan yang didasarkan pada CPL dan CPMK harus betul-betul diselaraskan dan disesuaikan kebutuhan perkembangan zaman. Program studi saat ini saling berlomba melakukan peninjauan dan mengembangkan kurikulum berbasis Outcame Based Education (OBE) harus benar-benar didasarkan dengan kebutuhan industry dan dunia kerja sesuai dengan perkembangan zaman dan generasi Z saat ini. Oleh karena, gen Z yang yang dihasilkan sebagai sarjana kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan harus benar-benar sarjana yang menguasai 4 keterampilan abad XXI, antara lain: (1) berpikir kreatif, (2) berpikir kritis, (3) kolaboratif, dan (4) komunikatif. Selain itu, generasi digital juga harus dibiasakan dan dibekali dengan enam literasi dasar, antara lain literasi: (1) menulis dan membaca, (2) numerasi, (3) sains, (4) digital, (5) keuangan, (6) budaya & kewargaan. Hal ini sejalan dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia, Gerakan Literasi Arfuzh Ratulisa (GELAR) yang dicanangkan oleh Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Surakarta dan Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) yang didirikan oleh Muhammad Rohmadi tanggal 2 Mei 2025 bersamaan peringatan hari Pendidikan Nasional setiap tahun.
Fakta dan data yang terjadi saat ini, rata-rata setiap bulan atau 3 bulan atau 6 bulan sekali kampus-kampus di seluruh wilayah Indonesia meluluskan sarjana melalui wisuda. Sesuai data yang disajikan oleh Kemdiktisaintek RI ternyata belum semua sarjana yang diluluskan perguruan tinggi terserap dalam dunia kerja yang diharapkan. Semua orang tua, mahasiswa, sarjana yang baru lulus ingin bekerja sesuai bidang keahlian dan kompetensi yang dimilikinya setelah lulus wisuda. Hal ini sesuai dengan indikator kinerja utama perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kemdiktisaintek RI antara lain: mengukur kualitas lulusan (bekerja/wirausaha), kompetensi dosen, pengalaman mahasiswa di luar kampus, riset, kemitraan dengan industri, serta kemandirian finansial (Data & Sumber: Kemdiktisaintek RI). Bahan renungan dan harus dipikirkan solusinya, bagaimana menyiapkan sarjana lulusan program studi masing-masing (prodi tempat kita sebagai dosen mengabdi/mengajar) agar dapat menjadi sarjana yang kompeten dan siap bekerja atau berwirausaha dalam dunia usaha dan industri sesuai dengan perkembangan zaman. Ruang-ruang diskusi untuk peningkatan kualitas dosen, mahasiswa, pengelola program studi, fakultas, dan rektorat harus sering dilaksanakan untuk mewujudkan mimpi besar merealisasikan CPL dan CPMK yang dirumuskan program studi, fakultas, dan universitas secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Kesiapan mental dan karakter sebagai sarjana yang kompeten dan memiliki penguasaan kompetensi hardskill dan softskill yang diperlukan pasar kerja dna industri kreatif akan sangat bermanfaat dan memberikan ruang gerak para sarjana untuk terus berkreasi, berinovasi tiada henti sesuai perkembangan zaman. Demikian pula, dosen harus terus memberikan aneka model kasus yang didasarkan pada perkembangan zaman digital dan kekinian sebagai sumber belajar digital dan nondigital. Kemudian upaya untuk meningkatkan kualitas diri para mahasiswa dan calon sarjana era digital harus terus dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek dan dipraktikkan untuk menghasilkan proyek unggulan yang dapat dipamerkan kepada dunia usaha dan industri secara kolaboratif. Upaya untuk membiasakan dan menyelaraskan kebutuhan dunia kerja dan industri maka kerja sama untuk magang, kolaborasi praktisi kerja, dan kolaborasi akademik di kelas dan luar kelas harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Orientasi kurikulum OBE yang dikembangkan oleh semua prodi pada kampus negeri dan swasta di Indonesia semoga bukan sekadar perangkat administrasi untuk memenuhi persyaratan akreditasi, bukan sekadar selebrasi, tetapi harus menjadi rujukan untuk menyiapkan sarjana era digital yang siap berkreasi dan berinovasi tiada henti sepanjang zaman.
Komitmen semua pihak, pemerintah pusat melalui Kemdiktisaintek RI, daerah, rektor/ketua/direktur, dekan, ketua prodi, dosen, tenaga administrasi, pustakawan, praktisi, penggiat literasi, asosiasi program studi, asosiasi dosen, dunia usaha dan dunia industri untuk bersatu, bergerak, dan menyamakan persepsi menjadi jawaban bagi perguruan tinggi agar prodi-prodinya tetap diminati oleh masyarakat dan industri secara berkelanjutan. Dengan demikian tidak akan pernah ada kekhawatiran saat ada wacana prodi-prodi yang tidak diminati oleh masyarakat akan ditutup oleh Kemdiktisaintek RI.
Pengelola kampus, fakultas, dan program studi harus dapat meyakinkan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa prodi-prodi yang dikelola oleh fakultas dan universitas di Indonesia memang layak berdiri tegak, bersaing, bersanding karena memiliki pembeda dan menghasilkan sarjana yang siap bekerja dan bersaing pada dunia usaha dan industri era digital. Apabila prodi-prodi yang dikelola memang sudah tidak relevan dengan kebutuhan industri dan dunia usaha maka dengan kesadaran mandiri program studi, fakultas, dan perguruan tinggi untuk menutup dan mengganti prodi baru yang sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar sesuai dengan perkembangan zaman.
“Komitmen untuk terus ikut serta bergerak dan memantik semangat multigenerasi Indonesia untuk terus berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) bersama Komunitas Diklisa (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) merupakan langkah nyata untuk wujudkan mimpi dna imajinasi hidup sekali mati sekali harus bermanfaat untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat”
Istana Arfuzh ratulisa dan Diklisa Yogyakarta, 16 Juli 2026
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...

Tidak ada komentar: