MPLS Ramah SMP Negeri 1 Wuryantoro Tanamkan Karakter, Disiplin, dan Cinta Lingkungan kepada 190 Siswa Baru

Print Friendly and PDF

Peserta MPLS mengikuti kegiatan Gotasiru (Goresan Tangan Siswa Baru) dengan membuat poster, karikatur, puisi, maupun cerpen menggunakan peralatan masing-masing.


MPLS Ramah SMP Negeri 1 Wuryantoro Tanamkan Karakter, Disiplin, dan Cinta Lingkungan kepada 190 Siswa Baru

Wonogiri - majalahlarise.com – SMP Negeri 1 Wuryantoro menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 selama lima hari, Senin (13/7/2026) hingga Jumat (17/7/2026), dengan melibatkan 190 peserta didik baru. Kegiatan mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang menempatkan MPLS sebagai pengalaman belajar pertama di sekolah untuk menumbuhkan karakter, memperkuat profil lulusan, sekaligus membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bermakna, dan menggembirakan.

Kepala SMP Negeri 1 Wuryantoro, Is Budiyarti, S.Pd., menjelaskan konsep MPLS Ramah merupakan komitmen sekolah menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, perundungan (bullying), intoleransi, maupun tindakan diskriminatif. Menurutnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga rumah kedua yang memberikan rasa aman, nyaman, bahagia, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

"MPLS Ramah mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026. Kegiatan pertama bagi murid yang diterima di satuan pendidikan bertujuan menumbuhkan dan memperkuat karakter serta profil lulusan melalui pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Sekolah harus menjadi rumah kedua yang membuat murid merasa aman, nyaman, bahagia, dan senang. Hubungan guru dan murid dibangun dengan kasih sayang sehingga tercipta iklim sekolah yang positif," ujar Is Budiyarti.

Ia menambahkan, konsep ramah diwujudkan melalui tiga pilar utama, yakni ramah anak, ramah lingkungan, dan ramah budaya. Seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab menciptakan suasana belajar yang saling menghargai sehingga setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal tanpa rasa takut maupun tekanan.

Sebagai implementasi konsep tersebut, sekolah mengawali MPLS dengan sosialisasi kepada peserta didik dan orang tua, pengenalan Wiyata Mandala yang melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah, penyusunan kesepakatan bersama mengenai hak dan kewajiban seluruh warga sekolah, serta pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) sebagai fondasi pembentukan karakter siswa sejak hari pertama memasuki lingkungan sekolah.

Pelatihan Tata Upacara Bendera dan Baris berbaris bersama Koramil Wuryantoro.


Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Tri Pujihastuti, S.Pd., menjelaskan MPLS tidak hanya mengenalkan lingkungan fisik sekolah, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara peserta didik dengan guru serta warga sekolah. Dengan cara itu, siswa baru diharapkan lebih cepat beradaptasi dan memiliki rasa memiliki terhadap sekolah.

"Program kami membangun sekolah yang nyaman dan aman. Semaksimal mungkin kami melayani anak-anak supaya mereka berada di SMP Negeri 1 Wuryantoro merasa nyaman dan aman. Kami juga mengenalkan guru, staf, kepala sekolah, serta lingkungan sekolah agar mereka lebih dekat dan cepat beradaptasi," jelas perempuan yang akrab disapa Tri Puji.

Selama lima hari, sekolah telah menyusun jadwal kegiatan secara sistematis. Hari pertama diisi dengan penjelasan perlengkapan MPLS, upacara pembukaan, pengecekan peserta, pengenalan kurikulum dan mata pelajaran, tata tertib sekolah, kesepakatan bersama, pembiasaan budaya sekolah, pengenalan prestasi sekolah, hingga materi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Seluruh kegiatan dipusatkan di lapangan upacara, aula, dan ruang kelas.

Peserta MPLS mengikuti edukasi Gemar Menabung bekerja sama dengan Bank Jateng.


Memasuki hari kedua, peserta memperoleh materi mengenai Mars SMP Negeri 1 Wuryantoro, visi dan misi sekolah, profil lulusan, pendidikan karakter, bela negara, cinta tanah air, serta materi Sekolah Aman dan Nyaman. Materi tersebut bertujuan menumbuhkan rasa bangga terhadap sekolah sekaligus memperkuat semangat nasionalisme dan kedisiplinan sejak dini.

Hari ketiga diisi dengan apel pagi, nuansa keagamaan, Senam Anak Indonesia Hebat, pelatihan Tata Upacara Bendera (TUB) bersama Koramil Wuryantoro, kegiatan MPLS Resik dan Indah melalui aksi pilah sampah serta cinta lingkungan, kemudian dilanjutkan edukasi Gemar Menabung bekerja sama dengan Bank Jateng. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membangun budaya hidup hemat dan literasi keuangan.

Pada hari keempat, peserta mengikuti kegiatan Gotasiru (Goresan Tangan Siswa Baru) dengan membuat poster, karikatur, puisi, maupun cerpen menggunakan peralatan masing-masing. Kreativitas siswa kemudian ditampilkan dalam unjuk bakat yang diakhiri dengan refleksi seluruh rangkaian kegiatan MPLS.

Siswa mengikuti kegiatan MPLS Resik dan Indah melalui aksi pilah sampah serta cinta lingkungan.


Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat (17/7/2026) dengan tema "Indah" (Pilah Sampah dan Cinta Lingkungan). Peserta mengikuti apel pagi, Senam Anak Indonesia Hebat, demonstrasi ekstrakurikuler, upacara penutupan, dan kegiatan perpisahan bertajuk "Sayonara". Selain itu, siswa diajak mengikuti berbagai aktivitas edukatif seperti menggambar, membuat cap tangan pada banner sebagai simbol kebersamaan, gotong royong membersihkan lingkungan sekolah, berkebun, serta demonstrasi kelistrikan.

Pada penutupan MPLS, sekolah juga menyampaikan pesan motivasi melalui materi "Coba Ingat Nasihat Saya" yang berisi tiga nilai utama, yaitu berani, disiplin, dan berakhlak. Siswa didorong berani bermimpi, berani mencoba, berani bertanya, serta berani memperbaiki kesalahan. Mereka juga diingatkan pentingnya disiplin karena bakat tanpa disiplin tidak akan menghasilkan prestasi, sedangkan ilmu yang disertai akhlak akan membawa keberkahan dalam kehidupan.

Tri Puji menegaskan tujuan utama MPLS bukan sekadar memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi membentuk karakter peserta didik sebagai bekal menghadapi masa depan. Menurutnya, seluruh siswa baru merupakan aset sekolah yang harus dibimbing menjadi generasi unggul.



"Kami berharap anak-anak menjadi pribadi yang tangguh, cinta NKRI, memiliki etika dan budi pekerti yang baik, serta mempunyai tujuan hidup dan cita-cita. Mereka adalah aset kami. Dengan segala daya upaya, kami berharap dapat membimbing dan mencintai anak-anak sebagai calon penerus bangsa," pungkasnya. (Sofyan)


Baca juga: Kekuatan Branding Sekolah dalam Memperoleh Siswa Baru


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top