GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pentingnya Memelihara dan Meningkatkan Kompetensi Dosen Secara Bertahap dan Berkelanjutan di Seluruh Wilayah NKRI
Pentingnya Memelihara dan Meningkatkan Kompetensi Dosen Secara Bertahap dan Berkelanjutan di Seluruh Wilayah NKRI
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
"Kawan, komitmen untuk terus bergerak dan menggerakkan gerakan literasi Ratulisa (rajin menulis dan membaca) merupakan upaya partisipasi yang nyata untuk menyiapkan generasi emas NKRI”
Profesi dosen merupakan profesi yang sangat mulia dunia akhirat karena terus berbagi ilmu, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan. Hal tersebut dapat terwujud apabila semua aktivitas dosen dalam melaksanakan tugas tri dharma perguruan tinggi diniatkan untuk ibadah sepanjang hayat. Sosok dosen harus dapat menjadi teladan yang dicontoh oleh mahasiswa dan masyarakat di seluruh wilayah NKRI. Permasalahan pendapatan atau gaji, sertifikasi dosen, besar, sedang, kecil itu pilihan rasa yang terletak pada hati untuk menerima dengan rasa syukur atas semua rezeki yang diterimanya. Dengan demikian menjadi dosen itu pilihan mulia untuk setiap orang dengan berbagai perspektif dan pertimbangan masing-masing untuk beribadah, mengabdi, dan berbagi ilmu, untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat.
Beberapa waktu yang lalu beredar informai rencana pemberlakuan kebijakan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisantek) untuk keberlanjutan tunjangan profesi dosen atau sertifikasi dosen (serdos) harus mengikuti pengembangan diri minimal setahun sekali dengan durasi pelatihan minimal 20 jam pelatihan (JP). Satu JP setara 45 menit. Jadi apabila pelatihan 20 JP dikalikan 45 menit sama dengan 900 menit atau 15 jam. Akhirnya saat rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, kebijakan tersebut sementara dibatalkan oleh Mendiktisaintek sampai dikeluarkan kebijakan penggantinya setelah dilakukan kajian secara mendalam (baca: https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8516088/mendikti-syarat-kelanjutan-serdos-20-jp-setahun-ditiadakan-sampai). Berdasarkan penjelasan tersebut ternyata telah meresahkan sebagian besar dosen di seluruh wilayah Indonesia. Sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan apabila kebijakan tersebut diberlakukan. Hal ini sebagai wujud komitmen dan pemeliharan serta peningkatan kualitas sosok dosen yang sudah tersertifikasi atau pun belum tersertifikasi.
Terlepas ada atau tidaknya kebijakan untuk peningkatan kompetensi dosen setelah tersertifikasi atau belum tersertifikasi sudah selayaknya dosen abad XXI memang harus terus belajar dan membelajarkan diri sepanjang hayat. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi hardskill dan softskill dosen secara kreatif dan berkelanjutan. Kegiatan pelatihan kompetensi sesuai bidang keahlian dan keilmuan merupakan keniscayaan yang harus dilaksanakan secara rutin untuk mendukung kegiatan tri dharma perguruan tinggi dan akreditasi program studi. Seluruh dosen di Indonesia yang bertugas di perguruan tinggi negeri dan swasta sudah seharusnya melakukan 5M berikut: (1) merencanakan program peningkatan kompetensi diri secara rutin, (2) melaksanakan program peningkatan kompetensi diri, (3) mengevaluasi pelaksanan program peningkatan kompetensi diri, (4) menindaklanjuti kekurangan program peningkatan kompetensi diri, dan (5) merancang proyek keberlanjutan untuk pemeliharaan dan peningkatan kompetensi diri secara bertahap dan berkelanjutan. Apabila dosen dengan kesadaran diri dapat melaksanakan 5M di atas maka akan tetap terjaga dan terpelihara kualitas kompetensi diri dosen secara berkelanjutan.
Dosen yang sudah tersertifikasi atau belum tersertifikasi, memang harus terus melakukan inovasi dan kreativitas melalui tri dharma perguruan tinggi untuk memelihara dan meningkatkan kompetensi dirinya. Misalnya dosen mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat): (1) menulis artikel ilmiah, (2) menulis artikel opini media cetak dan online, (3) menulis proposal penelitian nasional dan internasional, (4) metodologi penelitian kualitatif, (5) metodologi penelitian kuantitatif, (6) metode pembelajaran mendalam, (7) metode pembelajaran berbasis proyek, dan seterusnya. Upaya untuk terus memelihara dan meningkatkan kualitas diri tersebut dapat dilakukan bersama Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa atau Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra); Lembaga Diklat, Lembaga Sertifikasi, asosiasi dosen, asosiasi program studi, dan badan diklat terkait yang menjadi penyelenggara diklat peningkatan kompetensi dosen secara berkelanjutan, dan lembaga-lembaga lain yang relevan.
Akhirnya dosen yang sudah tersertifikasi dan yang belum tersertifikasi sudah seharusnya terus menjaga, memelihara, dan meningkatkan kompetensi hardskill dan softskill secara bertahap dan berkelanjutan. Hal ini sebagai upaya untuk membuat ruang pengembangan diri, peluang, dan tantangan untuk bersaing dan berdaya sanding dengan dosen-dosen lain, baik di tingkat nasional dan internasional. Oleh karena itu dosen harus terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan akademik atau ilmiah yang mendukung tri dharma perguruan tinggi secara bertahap dan menyeluruh. Yakinlah bahwa setiap proses belajar dan membelajarkan diri akan dapat berdampak pada upaya peningkatan kualitas diri dan peningkatan kompetensi dosen abad XXI yang juoss guandhos puoll untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, tangguh, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratif bagi multigenerasi NKRI.
“Dosen sebaiknya terus melakukan evaluasi diri secara berkelanjutan untuk menyiapkan program pemeliharaan dan peningkatan kompetensi diri secara berkelanjutan sehingga memiliki daya saing dan daya sanding secara komprehensif, baik di tingkat nasional maupun internasional”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 5 Juni 2026
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...

Tidak ada komentar: