Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani Ajak Generasi Muda Perkuat Budaya Membaca dan Menulis di Festival Literasi Nasional 2026

Print Friendly and PDF

Talkshow Festival Literasi Nasional 2026 yang digelar Nyalanesia menghadirkan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.


Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani Ajak Generasi Muda Perkuat Budaya Membaca dan Menulis di Festival Literasi Nasional 2026

Solo - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengajak generasi muda memperkuat budaya membaca dan menulis dalam Talkshow Festival Literasi Nasional 2026 yang digelar Nyalanesia di Emerald Ballroom Paragon Hotel Solo, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, pegiat literasi, hingga pemerhati pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Suasana talkshow berlangsung hangat dan interaktif dengan pembahasan mengenai pentingnya literasi di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Dalam paparannya, Astrid menjelaskan literasi menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, budaya membaca dan menulis harus terus diperkuat agar masyarakat mampu berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh arus informasi yang bergerak cepat.


“Literasi bukan hanya soal membaca tulisan, tetapi bagaimana seseorang memahami informasi, berpikir kritis, lalu mampu menuangkannya kembali menjadi gagasan maupun karya yang bermanfaat,” ujarnya.

Astrid mengatakan kemampuan menulis tidak hadir secara instan, melainkan dibangun melalui kebiasaan membaca, keberanian mencoba, dan konsistensi belajar. Karena itu, ia mendorong para pelajar mulai menulis dari hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

“Menulis itu soal keberanian memulai. Tidak perlu menunggu sempurna. Tulis saja dulu apa yang ada dalam pikiran dan pengalaman kita,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Astrid juga membagikan sejumlah tips agar lebih produktif menulis, salah satunya dengan membiasakan membaca setiap hari untuk memperkaya wawasan dan sudut pandang. Ia juga menyarankan para pelajar memiliki jurnal atau catatan harian sebagai latihan menuangkan ide dalam bentuk tulisan.

“Kalau ingin menjadi penulis, maka harus akrab dengan buku dan tulisan. Luangkan waktu membaca setiap hari walaupun hanya beberapa halaman,” ujarnya.

Astrid turut mengajak guru dan kepala sekolah menjadi penggerak budaya literasi di lingkungan pendidikan. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan generasi muda yang gemar membaca, berani berpendapat, dan produktif menghasilkan karya.

“Anak-anak harus diberi ruang untuk berani berpendapat dan berkarya. Jangan hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis melalui literasi,” katanya.

Ia juga menilai perkembangan teknologi digital dapat menjadi peluang besar untuk memperkuat budaya literasi apabila dimanfaatkan secara positif. Generasi muda didorong tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu menghasilkan konten edukatif dan inspiratif melalui tulisan maupun karya kreatif lainnya.

Festival Literasi Nasional 2026 menjadi ajang bertemunya pegiat pendidikan dan literasi dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman, inovasi, serta gagasan dalam meningkatkan budaya membaca dan menulis di Indonesia. Kegiatan tersebut diramaikan dengan talkshow inspiratif, diskusi pendidikan, pameran karya literasi, hingga sesi motivasi bagi pelajar dan tenaga pendidik.

Dalam talkshow tersebut, Astrid juga membagikan pengalaman pribadinya dalam proses menulis hingga berhasil menerbitkan buku The Untold Story Astrid Widayani. Ia mengaku proses penulisan dilakukan di tengah kesibukannya sebagai pejabat publik.

Menurutnya, setiap orang memiliki cerita hidup yang unik dan dapat menjadi inspirasi jika dituangkan dalam sebuah tulisan.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang masyarakatnya gemar membaca dan menulis. Karena dari literasi lahir pemikiran besar, inovasi, dan perubahan untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Is/ Sofyan)


Baca juga: Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang Gelar Kampanye Bahaya Pernikahan Dini di Tambakrejo untuk Tekan Dispensasi Nikah


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top