Kunjungan SD Muhammadiyah Palur ke SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo

Print Friendly and PDF

Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, Sri Sayekti saat menerima kunjungan studi inspirasi dari SD Muhammadiyah Palur Program Khusus Sukoharjo.


Kunjungan SD Muhammadiyah Palur ke SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo

Solo - majalahlarise.com - Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, Sri Sayekti menekankan pentingnya loyalitas, keikhlasan, dan pelayanan dalam menjaga keberlangsungan lembaga pendidikan Muhammadiyah saat menerima kunjungan studi inspirasi dari SD Muhammadiyah Palur Program Khusus Sukoharjo yang dipimpin Noor Afifah Rachmawati, Senin (25/5/2026).

Menurut Sri Sayekti, studi inspirasi bukan hanya menjadi ruang berbagi pengalaman dan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana mempererat loyalitas antar lembaga pendidikan Muhammadiyah.

“Lebih dari itu, studi inspirasi mampu merawat loyalitas dan menjemput keberkahan ilahi serta saling memberi inspirasi,” terangnya.

Ia menjelaskan, di tengah persaingan dunia pendidikan modern yang semakin ketat, keberhasilan lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan atau kecanggihan teknologi, melainkan oleh kekuatan spiritual dan karakter sumber daya manusianya.


“Fondasi terbesar keberhasilan sebuah institusi pendidikan swasta terletak pada kesucian niat, keselarasan pola pikir, serta loyalitas guru dan karyawannya,” jelasnya.

Sri Sayekti mengibaratkan sekolah dan madrasah Muhammadiyah sebagai “Kapal Dakwah” yang menjadi kendaraan utama syiar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Karena itu, ancaman terbesar sebuah lembaga pendidikan justru datang dari lemahnya integritas internal.

“Ancaman terbesar karamnya sebuah lembaga bukanlah kompetitor dari luar, melainkan rapuhnya perilaku dan integritas di dalam tubuh sendiri,” bebernya.

Ia juga mengungkapkan, banyak masyarakat meninggalkan lembaga pendidikan akibat perilaku petugas atau guru yang kurang baik. Menurutnya, faktor pelayanan dan empati menjadi penentu utama kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

“Sebesar 68 persen wali murid meninggalkan lembaga pendidikan karena kecewa terhadap perilaku petugas atau gurunya. Angka ini jauh melampaui faktor fasilitas maupun persoalan harga dan kompetisi,” urainya.

Untuk menjaga amanah masyarakat, Sri Sayekti mengajak seluruh guru dan karyawan memperkuat “Tiga Pilar Kesetiaan”. Pilar tersebut meliputi syukur dan balas budi, komitmen anti-sabotase terhadap lembaga, serta menjaga kehormatan tempat mencari rezeki.

Selain itu, guru dan karyawan juga didorong mengubah pola pikir dari mentalitas mengeluh menjadi mentalitas pejuang dengan prinsip “Justru karena...”.

“Melalui cara pandang ini, setiap keterbatasan tidak lagi dilihat sebagai hambatan, melainkan peluang dakwah untuk berbuat lebih baik,” jelasnya.

Sri Sayekti menambahkan, pelayanan yang excellent dan penuh keikhlasan akan berdampak langsung pada meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, termasuk dalam capaian Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

“Ketika seluruh perangkat sekolah melayani umat dengan penuh keikhlasan, target PPDB dapat tercapai maksimal hingga 100 persen,” ucapnya.

Di akhir penyampaiannya, ia mengingatkan pentingnya menghadirkan pelayanan sebagai bagian dari amal dan ikhtiar spiritual dalam membantu sesama.

“Setiap senyuman, tutur kata santun, dan bantuan tulus kepada wali murid merupakan bentuk Manajemen Ilahi, sebuah ikhtiar nyata untuk menolong sesama demi menjemput pertolongan Allah SWT,” pungkasnya. (Sofyan)


Baca juga: Prodi DKV ISI Surakarta Gelar Workshop Desain Grafis untuk Siswa SMA N 1 Slogohimo


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top