Workshop Dubbing, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univet Bantara Sukoharjo Dilatih Ciptakan Karakter Suara Profesional

Print Friendly and PDF

 

Narasumber Sofyan Yuli Antonius saat menjelaskan tentang teknik dubber.

Workshop Dubbing, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univet Bantara Sukoharjo Dilatih Ciptakan Karakter Suara Profesional

Sukoharjo – majalahlarise.com - Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo menggelar workshop bertajuk “Menciptakan Jiwa dalam Suara, Teknik Dubber Membentuk Karakter Tokoh” pada Rabu (22/4/2026) di Gedung D FISH Univet Bantara Sukoharjo.

Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi media radio dan voice over, Sofyan Yuli Antonius sebagai narasumber. Workshop ini menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa dalam mata kuliah pilihan yaitu produksi siaran radio sekaligus menjawab kebutuhan industri kreatif berbasis audio yang terus berkembang.

Wakil Dekan FISH sekaligus dosen pengampu mata kuliah produksi siaran radio, Henny Sri Kusumawati, S.Sos, M.Ikom menyampaikan kegiatan ini dirancang untuk membuka wawasan mahasiswa terhadap peluang karier di bidang dubbing dan voice over.

“Kami sebagai pengampu mata kuliah produksi siaran radio mencoba mencari peluang-peluang dalam dunia radio yang berkembang sangat kompetitif. Mahasiswa perlu dipersiapkan agar lebih siap, percaya diri, dan mampu melihat peluang, termasuk di balik layar atau dapur produksi audio,” tuturnya.

Narasumber Sofyan Yuli Antonius saat foto bersama peserta workshop dubber.


Ia menguraikan, dunia dubbing dan produksi suara saat ini memiliki potensi besar, seiring meningkatnya kebutuhan konten digital seperti film, animasi, iklan, hingga media sosial.

“Peluang di dunia dubbing masih sangat terbuka. Mahasiswa tidak hanya belajar teknis siaran, tetapi juga diarahkan untuk mampu menciptakan konten kreatif yang inovatif dan menarik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Henny menuturkan bahwa workshop ini menitikberatkan pada penguatan soft skill mahasiswa, khususnya dalam mengenali karakter suara sebagai identitas diri.

“Kami ingin mahasiswa mampu mengenali potensi suara dan karakter dirinya secara lebih mendalam. Tidak sekadar instan, tetapi melalui proses penghayatan, latihan vokal, teknik napas, serta konsentrasi agar mampu menciptakan jiwa dalam setiap karakter,” ungkapnya.

Menurutnya, proses pembentukan karakter suara membutuhkan latihan berkelanjutan dan penghayatan yang kuat, bukan sekadar meniru suara.

“Kalau hanya mengikuti tren instan, hasilnya hanya di permukaan. Dalam workshop ini mahasiswa diajak masuk lebih dalam, memahami jiwa karakter, lalu menampilkannya melalui suara,” tambahnya.

Sebagai target luaran, pihak kampus mentargetkan  capaian bagi peserta workshop. “Kami menargetkan setiap mahasiswa minimal memiliki lima karakter penokohan yang bisa mereka kuasai. Ini menjadi bekal penting untuk produksi karya audio maupun konten kreatif ke depan,” imbuhnya.

Sementara itu, dalam sesi materi, Sofyan Yuli Antonius menguraikan secara komprehensif konsep dasar hingga praktik dubbing. Ia menyampaikan dubbing merupakan proses penting dalam industri audiovisual.

“Dubbing adalah proses mengisi atau mengganti suara tokoh dalam media audiovisual sesuai karakter dan cerita. Seorang dubber bukan hanya berbicara, tetapi harus mampu menyampaikan emosi, pesan, dan identitas tokoh,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kekuatan utama seorang dubber terletak pada kemampuannya menghidupkan karakter melalui suara.

“Suara adalah identitas karakter. Tanpa suara yang tepat, karakter akan terasa kosong. Dubber pada dasarnya adalah aktor yang bermain lewat suara,” katanya.

Dalam pemaparan materi, peserta dikenalkan berbagai unsur pembentuk karakter suara, meliputi pitch (tinggi rendah suara), tone (warna suara), tempo (cepat lambat), artikulasi, serta penghayatan emosi.

Selain itu, Sofyan juga menguraikan teknik dasar dubbing yang harus dikuasai, antara lain memahami naskah, menentukan karakter suara, menggunakan teknik pernapasan yang tepat, serta kemampuan sinkronisasi dengan gerak bibir atau lip sync.

“Latihan menjadi kunci utama. Setiap rekaman harus dievaluasi agar kualitas suara semakin berkembang,” ujarnya.

Menurut Sofyan, kemampuan dubbing tidak hanya bermanfaat untuk industri media, tetapi juga meningkatkan keterampilan komunikasi.

“Belajar dubbing bisa meningkatkan public speaking, kepercayaan diri, serta kreativitas. Ini sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, peluang karier di bidang voice over semakin luas, mulai dari pengisi suara iklan, film, animasi, hingga konten digital.

“Kunci menjadi dubber adalah memadukan suara, emosi, dan imajinasi. Suara bukan sekadar bunyi, tetapi jiwa dari sebuah karakter,” pungkasnya.

Melalui workshop ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi Univet Bantara diharapkan mampu mengembangkan potensi diri secara maksimal, serta siap bersaing di industri kreatif, khususnya dalam bidang produksi audio dan konten digital yang terus berkembang pesat. (Sofyan)


Baca juga: Belajar PAI Makin Interaktif dengan Layar Sentuh IFP


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top