GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Dua Dekade “24 Jam Menari” ISI Surakarta, Ruang Tanpa Batas Menembus Medan Budaya
![]() |
| Ketua Pelaksana Eko Supendi saat menjelaskan pelaksanaan 24 jam menari saat konferensi pers. |
Dua Dekade “24 Jam Menari” ISI Surakarta, Ruang Tanpa Batas Menembus Medan Budaya
Surakarta — majalahlarise.com - Perayaan Hari Tari Dunia melalui helatan “24 Jam Menari” yang digelar oleh Institut Seni Indonesia Surakarta kembali hadir dengan semangat yang terus menyala. Tahun 2026 menjadi momentum istimewa karena menandai dua dekade perjalanan event yang telah menjelma sebagai ikon perayaan seni tari berskala nasional hingga internasional. Mengusung tema “Tanpa Batas: Menembus Medan Budaya”, kegiatan ini menghadirkan ruang terbuka bagi penari, koreografer, akademisi, hingga masyarakat untuk saling berbagi gagasan, pengalaman, serta memperluas kemungkinan kolaborasi lintas budaya.
Ketua Umum panitia, Prof. Maryono, dalam jumpa pers. Jumat (24/4/2026) menyampaikan kegiatan ini tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga momentum refleksi akademis tentang posisi tari dalam perspektif antropologis dan sosiologis.
“Kegiatan seni tari yang melibatkan pengalaman lintas daerah hingga mancanegara menjadi bagian penting dalam memperkuat eksistensi seni pertunjukan Indonesia,” tuturnya.
Ia juga menguraikan perjalanan panjang seni tari yang terus berkembang dari masa ASKI hingga menjadi ISI Surakarta, serta pengalaman tampil di berbagai negara sebagai bagian dari proses pembesaran panggung seni tari Indonesia. “Pengalaman saya untuk menjadi penari cukup luas karena saya sudah tampil di Eropa, Asia, dan berbagai daerah. Itu menjadi bagian dari proses bagaimana tari berkembang menjadi pertunjukan yang lebih besar,” ujarnya.
Rangkaian acara tahun ini berlangsung selama 24 jam non-stop dengan beragam agenda, mulai dari opening, festival pertunjukan, sajian tari dari keraton, hingga orasi budaya oleh Sardono W Kusumo. Selain itu, digelar pula Dance Department Summit Meeting yang diikuti perguruan tinggi seni dari dalam dan luar negeri, bazar industri kreatif, serta penampilan lebih dari 100 kelompok seni dari 24 kota di Indonesia dan mancanegara. Salah satu kurator seni yang terlibat adalah Matthew Isaac Cohen dari Jerman, yang turut menjaga kualitas artistik pertunjukan.
Ketua Program Studi Seni Tari, Nandang Wisnu Pamenang, menguraikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan peran perguruan tinggi seni dalam menjawab tantangan zaman. “Program ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga bagian dari upaya peningkatan Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi serta kontribusi terhadap SDGs,” jelasnya.
Ia menambahkan, summit meeting menjadi forum strategis untuk membahas kurikulum, kerja sama, hingga kesiapan lulusan agar mampu bersaing di dunia industri. “Kami berharap dukungan berbagai pihak, termasuk media, dapat membantu menyebarluaskan semangat 24 Jam Menari sehingga mampu memberi dampak nyata bagi perkembangan seni dan generasi muda,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Eko Supendi menjelaskan setiap tahun kegiatan ini menghadirkan dua format utama, yakni festival dan aksi menari selama 24 jam non-stop. Tahun ini, sembilan penari terpilih dari berbagai daerah hingga internasional akan menantang ketahanan fisik dan mental mereka. “Pada intinya dari tahun ke tahun ada dua model bentuk pertunjukan, yaitu festival dan menari 24 jam non-stop. Dua agenda ini selalu dipertunjukkan setiap tahun,” katanya.
Pertunjukan akan tersebar di berbagai titik seperti pendopo, teater kecil, teater besar, hingga teater terbuka. Ia juga menyebut persiapan telah mencapai 95 persen dengan dukungan lebih dari 500 personel. “Kami melibatkan lebih dari 500 tim dan ini menjadi perhelatan yang sangat luar biasa, bahkan bisa dikatakan satu-satunya di dunia,” ungkapnya.
Dari sisi pelaku seni, pengalaman personal menjadi warna tersendiri dalam perhelatan ini. Adif Mahendra mengisahkan perjalanan panjangnya sejak hanya menjadi penonton hingga akhirnya terlibat langsung sebagai penari.
“Saya dulu hanya mengagumi penari 24 jam non-stop, tidak pernah terpikir bisa menjadi bagian dari itu,” tuturnya.
Ia menyampaikan partisipasinya bukan sekadar performa, melainkan bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada para guru dan keluarga. “Menjadi penari 24 jam ini adalah cara saya berterima kasih kepada orang tua, dosen, guru, dan semua yang telah memberi pelajaran hidup, sekaligus wujud syukur kepada Tuhan,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Sekar Tri Kusuma yang merasa keterlibatannya sebagai bagian dari perjalanan pulang ke dunia yang telah lama ia kenal. “Terus terang saya senang sekali, luar biasa, bersyukur, dan tidak menyangka bisa terlibat dalam perjalanan besar 24 Jam Menari ini. Rasanya seperti pulang ke rumah sendiri,” ungkapnya.
Ia menjelaskan persiapan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fisik tetapi juga mental dan spiritual melalui latihan rutin hingga meditasi. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan pertunjukan, tetapi bagaimana memberikan kontribusi setelahnya bagi perkembangan seni dan ekonomi kreatif.
Dengan semangat tanpa batas, dua dekade “24 Jam Menari” ISI Surakarta membuktikan bahwa seni tari memiliki daya hidup yang kuat sebagai media komunikasi lintas budaya. Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini menjadi ruang dialog global yang merayakan keberagaman dalam harmoni gerak, sekaligus memperkuat jejaring budaya dan membuka cakrawala baru bagi masyarakat dalam memahami seni pertunjukan. (Sofyan)
Baca juga: Belajar PAI Makin Interaktif dengan Layar Sentuh IFP
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mengikuti kegiatan Parents Day dengan tema “Reuse, Membuat Hiasan Bunga ...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...

Tidak ada komentar: