GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Ramadan Momentum Penguatan Profesionalisme dan Spiritualitas Guru PAI
![]() |
| Pengawas GPAI, Sumiyati saat menyampaikan materi dalam kegiatan peningkatan kompetensi guru PAI Kecamatan Banjarsari yang digelar di Korwil II Kecamatan Jebres. |
Ramadan Momentum Penguatan Profesionalisme dan Spiritualitas Guru PAI
SOLO – majalahlarise.com - Bulan suci Ramadan dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat profesionalisme sekaligus spiritualitas para Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI). Hal itu disampaikan Pengawas GPAI, Sumiyati, dalam kegiatan peningkatan kompetensi guru PAI Kecamatan Banjarsari yang digelar di Korwil II Kecamatan Jebres, Kamis (5/3/2026).
Kegiatan pembinaan ketakwaan Ramadan 1447 Hijriah tersebut diikuti 77 guru PAI dari sekolah negeri maupun swasta. Dalam pembinaannya, Sumiyati mengajak para guru untuk terus meningkatkan kualitas kinerja dan kompetensi sebagai pendidik.
“Kinerja sama dengan kualitas,” ujar Sumiyati di hadapan para peserta.
Ia menguraikan, peningkatan kompetensi guru merujuk pada regulasi pendidikan, di antaranya Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru serta Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang bimbingan dan konseling.
Menurutnya, guru PAI tidak hanya memiliki empat kompetensi dasar, melainkan juga perlu mengembangkan dua kompetensi tambahan, yaitu kompetensi spiritual dan kompetensi leadership.
“Dengan begitu, guru PAI tidak hanya memiliki empat kompetensi, tetapi juga dua kompetensi tambahan yaitu kompetensi spiritual yang mengandung enam subkompetensi dan leadership yang juga memiliki enam subkompetensi,” tutur Sumiyati.
Ia menjelaskan, dalam kompetensi spiritual, seorang guru perlu menyadari mengajar sebagai bagian dari ibadah. Guru juga perlu meyakini tugas mengajar sebagai rahmat dan amanah, sekaligus panggilan jiwa serta bentuk pengabdian.
Selain itu, mengajar juga menjadi sarana aktualisasi diri dan kehormatan. Guru dituntut menyadari mengajar sebagai pelayanan kepada peserta didik serta sebagai seni dan profesi yang memerlukan dedikasi tinggi.
Sumiyati juga menyoroti pentingnya kompetensi kepemimpinan bagi guru PAI. Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab penuh dalam pembelajaran agama di sekolah, sekaligus berperan mengorganisasi lingkungan pendidikan untuk membangun budaya Islami.
“Ada inisiatif untuk mengembangkan potensi satuan pendidikan, berkolaborasi dengan seluruh unsur di lingkungan sekolah, berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, serta melayani konsultasi keagamaan dan sosial,” jelasnya.
Sementara itu, narasumber kedua, Kartono, menguraikan empat kompetensi dasar guru secara umum. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pedagogik yang berkaitan dengan kemampuan mengajar, kompetensi profesional terkait penguasaan materi pelajaran, kompetensi kepribadian yang mencerminkan karakter guru, serta kompetensi sosial dalam membangun komunikasi dengan peserta didik.
“Kompetensi pedagogik berkaitan dengan bagaimana cara mengajar. Kompetensi profesional terkait penguasaan materi ajar, kompetensi kepribadian menyangkut karakter guru, dan kompetensi sosial berkaitan dengan komunikasi dengan anak didik,” kata Kartono.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (Kasi Pakis) Kementerian Agama Kota Surakarta, Encep Moh Ilham, memberikan motivasi kepada para guru agar terus meningkatkan kualitas diri.
Ia mengajak para guru untuk selalu bersyukur dengan cara mengambil pelajaran dari kehidupan melalui tiga tempat yang patut dikunjungi, yaitu makam, rumah sakit, dan penjara.
“Ziarah kubur bertujuan mengingat kematian dan mengambil pelajaran. Datangi juga rumah sakit, karena orang yang sakit ingin sehat dengan cara apa pun. Kemudian kunjungi penjara agar kita memahami arti kebebasan dan kehidupan,” ujar Encep.
Ia menambahkan, profesionalisme guru dapat dilihat dari tiga hal utama, yakni kualifikasi pendidikan minimal strata satu, kompetensi yang memadai, serta kinerja yang berkualitas dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. (Sofyan)
Baca juga: Polres Wonogiri Bersama Mafindo Gelar AI Ready ASEAN, Bekali Siswa Jadi Agen Perubahan Digital
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...


Tidak ada komentar: