Tarhib Ramadan, Dai Champions MUI Ajak Sambut Puasa dengan Suka Cita

Print Friendly and PDF

 

Khutbah Jumat yang berlangsung di Lapangan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta.

Tarhib Ramadan, Dai Champions MUI Ajak Sambut Puasa dengan Suka Cita

SOLO – majalahlarise.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Dai Champions Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dwi Jatmiko, mengajak umat Islam menyambut ibadah puasa dengan penuh suka cita dan kegembiraan melalui tarhib Ramadan, Jumat (6/2/2026).

Pesan tersebut disampaikan saat khutbah Jumat yang berlangsung di Lapangan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Jalan Kartini No. 1, wilayah barat Pura Mangkunegaran atau tepat di utara Masjid Al Wustha. Kegiatan ini diikuti seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, tenaga pendidik, hingga tenaga kependidikan.

Mengawali khutbahnya, Dwi Jatmiko mengajak jamaah meningkatkan rasa syukur atas limpahan nikmat Allah Swt. yang terus mengiringi kehidupan manusia.

“Rasa syukur dapat diwujudkan dengan senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., melalui ketaatan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi seluruh larangan-Nya,” tuturnya.

Ia kemudian mengajak jamaah bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, serta para sahabat. Dalam khutbahnya, dai yang berasal dari Banyuanyar tersebut membacakan hadits Nabi Riwayat Ahmad tentang keutamaan bulan Ramadan sebagai bulan penuh keberkahan, saat pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.

Dwi Jatmiko menguraikan makna puasa sebagai upaya menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Selain menahan lapar dan dahaga, ibadah puasa juga menuntut pengendalian sikap dan perilaku.

Ia menjelaskan terdapat sejumlah perbuatan yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa, seperti menggunjing, fitnah, iri, dengki, dan ria. Puasa Ramadan memiliki hukum wajib bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat.

“Ketentuan wajib puasa berlaku bagi mereka yang telah balig, ditandai dengan mimpi basah bagi laki-laki dan haid bagi perempuan. Ketika kewajiban ini ditinggalkan tanpa alasan syar’i, maka termasuk dosa besar,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan ibadah puasa harus dilandasi niat semata-mata karena Allah Swt., bukan karena dorongan manusia ataupun kepentingan duniawi.

Namun demikian, Islam memberikan keringanan bagi kelompok tertentu, seperti musafir, orang sakit yang berpotensi sembuh, perempuan haid, nifas, hamil, serta menyusui.

“Mereka mendapatkan rukhshah untuk tidak berpuasa, tetapi wajib mengganti puasa di hari lain,” ungkapnya.

Sementara itu, orang lanjut usia renta serta penderita sakit menahun yang tidak memungkinkan untuk sembuh memperoleh keringanan tidak berpuasa dengan kewajiban membayar fidyah tanpa harus mengqada.

Pelaksanaan khutbah Jumat berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Menutup khutbahnya, Dwi Jatmiko memanjatkan doa agar seluruh jamaah senantiasa mampu berbuat kebaikan dengan kepedulian terhadap agama, sesama manusia, lingkungan, dan sistem kehidupan. (Sofyan)


Baca juga: KL Lazismu SD Muhammadiyah PK Solo Raih Lazismu Solo Award 2025


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top