Dari Kaca ke Mancanegara, Ketelatenan Bu Retno Bimo Merawat Wayang dalam Balutan Lukisan Kaca

Print Friendly and PDF

Bu Retno saat memegang lukisan kaca tokoh wayang hasil karyanya.


Dari Kaca ke Mancanegara, Ketelatenan Bu Retno Bimo Merawat Wayang dalam Balutan Lukisan Kaca

Wonogiri – majalahlarise.com - Di sudut perbukitan selatan Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Kampung Wayang Kepuhsari, Manyaran, denyut tradisi tak pernah benar-benar padam. Di antara suara kuas dan desis halus semprotan cat, lahir karya-karya lukisan kaca wayang yang tak hanya unik, tetapi juga diminati kolektor hingga mancanegara.

Di Sanggar Seni Wayang Asto Kenyo Art, tokoh-tokoh wayang kulit seolah menemukan rumah baru, bukan lagi di atas kulit kerbau, melainkan menari dalam pantulan kaca dan acrylic yang bening. Setiap garis, setiap warna, menuntut ketelitian dan kecermatan tingkat tinggi agar menghasilkan karya seni berkualitas.

Pelukis wayang media kaca, bu Retno Bimo akrab disapa menuturkan perjalanan panjangnya saat ditemui majalahlarise.com, Senin (23/2/2026).

“Awalnya sederhana. Waktu kecil, om saya pelukis kaca. Saya sering melihat prosesnya,” kenangnya.

Bu Retno tumbuh dalam lingkungan seni. Ia belajar di Sanggar Nimas Art, sanggar milik sang paman di Dusun Kepel, Kepuhsari. Namun, awal perjalanannya justru bukan langsung di kaca.

“Saya belajar dari wayang beber. Bikin ornamen-ornamen, flora, fauna yang dekoratif. Tujuannya supaya tangan lemas dulu,” ujarnya.

Media belajarnya pun tak biasa. Ia menggunakan kain menyerupai kanvas dan kertas daluang kertas tradisional dari kulit pohon daluang. Dari sana, kepekaan rasa dan keluwesan tangan mulai terasah.

Meski di sanggar tersebut juga memproduksi lukisan kaca, Bu Retno tak mendapat pembelajaran khusus. Ketertarikannya tumbuh dari minat dan imajinasi.

“Saya lihat saja sudah punya greget. Ada keinginan belajar sendiri,” katanya.

Selepas dari sanggar, ia melanjutkan pendidikan seni rupa. Namun, untuk lukis kaca, ia memilih jalur otodidak. Tahun 2002–2003 menjadi titik awal eksperimen panjangnya.

Proses itu tak selalu mulus. Kegagalan demi kegagalan pernah ia rasakan. Garis yang tak lurus, warna yang tak menyatu, hingga karya yang belum layak jual menjadi bagian dari perjalanan.

“Tapi usaha tidak mengkhianati hasil,” ucapnya dengan senyum.

Seiring waktu, garis yang semula “bengkok-bengkok” mulai rapi. Isian warna semakin halus. Campuran warna yang terus diulang akhirnya menemukan karakter khas.

Teknik lukis kaca memiliki tantangan tersendiri. Semua dikerjakan secara terbalik. Wayang memang sudah memiliki pakem tokoh tua di kanan, muda di kiri; laki-laki di kanan, perempuan di kiri sehingga arah hadap sudah jelas dalam tradisi Solo dan Yogyakarta. Namun pada lukis wajah realis, tantangannya jauh lebih mendebarkan.

“Kalau lukis wajah, deg-degannya luar biasa. Mirip atau tidak, baru kelihatan setelah selesai,” tuturnya.

Bagian wajah harus selesai dalam satu hari. Jika dilanjutkan keesokan harinya, percampuran warna basah dan kering tak akan menyatu sempurna. Risiko gagal pun besar.

Teknik background juga mengalami evolusi. Dari semprotan manual sederhana, kini ia menggunakan kompresor kecil hingga tabung besar seperti di bengkel. Ukuran dan jenis airbrush menentukan kualitas gradasi dan kesan dua dimensi pada latar.

Dalam perkembangannya, Bu Retno tak hanya mengerjakan wayang. Ia juga melukis wajah, bunga, hingga tema lain di media kaca maupun acrylic. Acrylic dipilih untuk kebutuhan pengiriman jarak jauh karena lebih aman dibanding kaca.

Untuk alat, ia menggunakan drawing pen atau rapido teknik berbagai ukuran, cat besi atau cat minyak untuk wayang, serta cat minyak khusus untuk lukis wajah yang tidak cepat kering dan mudah menyatu di media tanpa pori seperti kaca.

Dari sisi pemasaran, daya tarik utama tetap pada kekuatan karakter wayang. Karya-karyanya tak sekadar pajangan dinding, tetapi juga bisa diaplikasikan pada jendela, pintu, hingga elemen interior rumah.

Ukuran 40 x 60 cm pernah ia tawarkan di kisaran Rp950 ribu hingga Rp1 juta. Ukuran 50 x 70 cm bisa mencapai Rp1,35 juta hingga Rp1,5 juta. Kini, ia lebih fleksibel menyesuaikan anggaran pemesan, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Yang penting temanya bisa disesuaikan. Medianya juga tidak harus kaca,” ujarnya.

Namun bagi Bu Retno, lukisan kaca bukan semata urusan jual beli. Ada misi pelestarian yang ia emban. Ia berharap wayang tetap lestari dan diterima lintas kalangan dari dunia pendidikan hingga masyarakat umum.

Di sanggarnya, ia mengemas lukis kaca dalam paket workshop wisata. Wisatawan domestik maupun mancanegara diajak tak hanya membeli, tetapi juga merasakan proses kreatifnya.

“Yang awalnya tidak tahu jadi tahu. Yang tidak ingin jadi ingin. Yang tidak butuh jadi merasa perlu,” katanya.

Di Kampung Wayang Kepuhsari, kaca bukan sekadar media bening. Ia menjadi ruang tafsir baru bagi tradisi. Melalui ketelatenan dan kesabaran, Bu Retno membuktikan wayang mampu menembus batas zaman berkilau, memantul, dan terus hidup dari Wonogiri untuk dunia. (Sofyan)


Baca juga: Kuliah Subuh Desa Demangan Boyolali Angkat Tema Ramadhan Berdaya


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top