Urip Iku Urup dalam Perspektif Pragmatik

Print Friendly and PDF

Urip Iku Urup dalam Perspektif Pragmatik


Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


"Kawan, hidup sekali mati sekali maka harus dapat berbagi kemaslahatan untuk umat sepanjang hayat "

      Urip iku urup berasal dari kata urip (Jawa) berarti hidup; iku (Jawa) berarti itu, dan urup (Jawa) berarti menyala. Kalimat urip iku urup (bahasa Jawa) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Hidup itu Menyala” memiliki implikatur pragmatik bahwa hidup itu harus menyala atau bersinar atau menyinari atau bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan. Maksud hidup harus menyala ini merupakan tindak tutur motivatif dan persuasif yang dapat memantik semangat hidup seluruh masyarakat Indonesia agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Artinya hidup bukan sekadar memikirkan diri sendiri tanpa peduli dan tanpa memiliki rasa empati kepada orang lain. Komitmen untuk hidup bermanfaat untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat harus ditanamkan dan dilatihkan kepada seluruh masyarkat NKRI sehingga akan menjadi virus-virus positif bagi seluruh masyarakat Indonesia.

       Hal ini dapat dilihat dalam berbagai konteks kasus bencana yang dialami oleh Saudara-saudara kita di Sumatra Barat, Sumatra Utara, Aceh, Lumajang Jawa Timur, Karawang Jawa Barat, dan masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang terdampak bencana alam. Kondisi kontekstual geografis tersebut memiliki deiksis tempat dan situasi yang dapat memantik kepedulian dan gotong-royong seluruh masyarakat Indonesia untuk iktu peduli membantu dan berbagi semampunya atau sesuai kemampuannya masing-masing. Semua bantuan dan dukungan yang diberikan akan dapat menjadi kekuatan untuk bangkit dan membangkitkan seluruh masyarakat yang terkena dampak bencana secara bertahap dan berkelanjutan di daerahnya masing-masing. Inilah wujud nyata kepedulian dan empati sesama masyarakat Indonesia dalam kebhinekaan.

       Apabila belum dapat membantu dalam bentuk bantuan uang atau harta benda ya tentu saja dapat membantu motivasi, semangat, dan doa kepada Saudara-saudara kita yang sedang mengalami dampak bencana alam di wilayahnya masing-masing. Justru tidak boleh menyampaikan komentar-komentar negatif yang dapat memantik perpecahan antarmasyarakat di seluruh wilayah NKRI. Kita semua bersaudara maka harus saling membantu, peduli, dan simpati kepada seluruh masyarakat NKRI. Dengan demikian tampak betul implikatur pragmatik dari kalimat urip iku urup atau hidup itu harus menyala atau bermanfaat bagi orang lain.

      Komunitas Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra (DIKLISA), Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa, Yuma Perkasa Group juga berusaha memahami dan mengimplementasikan implikatur pragmatik dalam kalimat urip iku urup secara bertahap dan berkelanjutan bersama komunitasnya yang tersebar di 38 provinsi. Upaya Diklisa, Arfuzh Ratulisa, dan Yuma Perkasa Group untuk terus ikut bergerak dan menggerakkan semua sektor dengan mengumpulkan dan mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana. Semua giat tersebut merupakan gerakan yang dilakukan sebagai upaya untuk memantik multigenerasi muda memiliki rasa peduli dan empati bersama-sama dalam multikonteks kehidupan. Komitmen untuk saling membantu dalam kebhinekaan tentu akan dapat menjadi semangat dan motivasi untuk bergandeng tangan dan bergotong royong bagi seluruh masyarakat NKRI untuk saling membantu dan berbagi. 

      Implikatur pragmatik dalam kalimat urup iku urup dapat menjadi pemantik gerakan moral dan karakter bagi seluruh masyarakat NKRI. Hal ini dapat dimulai dari tindak tutur yang diucapkan atau dituliskan oleh seluruh masyarakat NKRI harus memiliki implikatur motivatif dan persuasif. Implikatur motivatif dan persuasif ini dapat memantik semangat hidup dan bergotong-royong bagi seluruh masyarakat NKRI. Upaya bertutur yang baik, sopan, dan persuasif akan menguatkan semangat seluruh masyarakat Indonesia. Misalnya: (1) “Semoga Saudara-saudara kita yang sedang mengalami bencana tetap kuat, tabah, sabar, dan segera pulih kembali”; (2) “Terima kasih atas bantuan dan motivasinya dari seluruh masyarakat Indonesia, baik langsung maupun tidak langsung”; (3) ”Mohon maaf, apabila belum semua masyarakat dapat membantu Saudara-saudara kita yang terdampak bencana, semoga segera mendapatkan solusi terbaik dan pulih kembali”. Contoh-contoh kalimat di atas menjadi pemantik semangat dan mengandung implikatur pragmatik yang sopan, positif, persuasif, dan motivatif bagi seluruh masyarakat Indonesia, baik yang terdampak bencana maupun tidak.

      Merujuk kalimat-kalimat persuasif dan motivatif di atas seharusnya dapat dijadikan contoh bagi seluruh pejabat publik dan masyarakat yang ingin ikut ambil bagian dalam berbagai situasi sesuai peran dan partisipasinya masing-masing. Komitmen untuk saling menjaga, menghargai, menghormati, dan saling menjaga perasaan satu dengan yang lain merupakan implikatur dalam filsafat hidup urip iku urup. Komitmen setiap masyarakat untuk saling menjaga semangat, saling memantik rasa empati, rasa peduli, rasa gotong royong, dan rasa memiliki sesama Saudara di seluruh Indonesia harus terus dibangkitkan. Hal ini sebagai bukti bahwa seluruh masyarakat NKRI memiliki rasa cinta dan kasih sayang kepada seluruh Saudaranya yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.

       Dalam pragmatik dikenal istilah implikatur dan pranggapan dalam tindak tutur yang diucapkan oleh seorang penutur dan lawan tutur. Apabila penutur menuturkan tindak tutur berati tuturan tersebut mengandung implikatur. Kemudian lawan tutur dapat mempraanggapkan implikatur yang dituturkan oleh penutur tersebut secara langsung maupun tidak langsung. Seorang penutur pastilah memiliki maksud atau tujuan tuturan dibalik ujarannya. Hal ini dapat diuraikan dan dianalisis dengan melibatkan konteks tuturannya. Oleh karena itu, setiap penutur harus berhati-hati ketika bertutur kepada orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Tindak tutur yang salah saat menuturkan dapat memiliki praanggapan yang berbeda antara yang dimaksud oleh seorang penutur dengan lawan tutur atau masyarakat. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bertutur dan bertindak, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada seluruh masyarakat NKRI. Apalagi era media sosial dan era digital yang begitu lengkap, setiap individu harus berhati-hati karena diibaratkan dahulu mulutmu harimaumu dan sekarang jemarimu harimaumu.

       Manusia itu merupakan makhluk individu dan sosial yang memiliki kepekaan rasa, cipta, dan karsa. Oleh karena itu, sebagai sesama manusia yang hidup di bumi dalam konteks bermasyarakat dan berkehidupan sosial harus dapat saling asih, asah, asuh. Tidak boleh hidup bermasyarakat dengan pola adigang, adigung, dan adiguna yang akan merugikan masyarakat lain. Apabila tidak berhati-hati dalam bertutur dan bertindak tentu akan dapat berdampak negatif bagi penuturnya. Hal ini sebagai bentuk ungkapan dalam bahasa Jawa “Wong nandur bakale ngunduh” kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Orang yang menanam atau berbuat ya tentu akan memetik hasilnya”. Dengan demikian, seluruh masyarakat NKRI harus berhati-hati dalam bertutur dan bertindak sesama manusia dan masyarakat di seluruh wilayah NKRI. Salah kata atau salah ucap tentu implikaturnya akan berdampak besar kepada dirinya dan masyarakat lain. 

       Semangat untuk hidup bersama, bermasyarakat, bertetangga yang benar sesuai aturan, baik sesuai kebutuhan, dan santun sesuai norma kehidupan tentu akan dapat menjadikan masyarakat yang bahagia, bersatu, sejahtera, dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Oleh karena itu, seluruh masyarakat NKRI harus terus belajar bertutur yang benar, baik, dan santun, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Tidak ada satu orang pun manusia di bumi ini yang mau disakiti maka jangan pernah menyakiti orang lain apabila tidak ingin tersakiti oleh orang lain. Meskipun hanya dengan kata tetapi rasa sakit dan lukanya akan sulit disembuhkan. Dengan demikian, jadilah manusia yang selalu dapat menyenangkan diri sendiri dan orang lain sehingga tidak menyakiti hati orang lain.

     Solusi terbaik agar tetap hidup damai dan sejahtera saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain yaitu jangan sampai gagal pragamtik dalam berkomunikasi. Urip iku urup maka hidup harus terus menyala dan menyinari dunia seperti bintang, bulan, dan matahari yang selalu menyinari bumi, baik tampak, maupun tidak tampak oleh manusia. Teruslah berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa. Membacalah untuk menulis dan menulislah untuk dibaca umat sepanjang hayat. Di situlah letak kebermanfaatan, keberkahan hidup, dan aktivitas yang dilakukan di mana pun dan kapan pun kita berada.

“Belajar hidup seperti anak yang baru belajar berjalan, berlatih, jatuh, berjalan lagi, jatuh lagi, dan berjalan lagi sampai akhirnya dapat melihat jalan lempang untuk terus berjalan dan berlari sesuai dengan konteks kehidupan yang dihadapinya sepanjang masa”

Surakarta, 13 Desember 2025


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top