Analisis Karya Sastra Semiotika Ferdinand De Saussure Pada Novel Manjali Karya Ayu Utami

Print Friendly and PDF

Analisis Karya Sastra Semiotika Ferdinand De Saussure Pada Novel Manjali Karya Ayu Utami

Oleh: Salma Nur Jannah

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa Seni dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

salma210fbsb.2023@student.uny.ac.id


      Novel tidak hanya bercerita. Ia juga menyimpan banyak tanda yang berbicara lebih dalam daripada sekadar konflik antar tokoh atau alur perjalanan. Begitu pula yang terlihat dalam Manjali, salah satu karya penting Ayu Utami yang sarat simbol, sejarah Jawa, spiritualitas, dan kritik terhadap relasi manusia alam. Jika novel ini dibaca dengan kacamata semiotika Ferdinand de Saussure teori yang memandang bahasa sebagai sistem tanda maka kita akan menemukan lapisan pesan yang begitu kaya dan relevan untuk percakapan budaya hari ini.

      Saussure menyebut bahwa setiap tanda terdiri dari dua sisi: penanda (bentuk fisik berupa kata, gambar, atau objek), dan petanda (makna yang tersimpan di baliknya). Hubungan keduanya bersifat arbitrer, tetapi dipahami melalui kesepakatan budaya. Dalam karya sastra, tanda hadir dalam diksi, dialog, objek, ruang, bahkan gerak tubuh. Semua itu saling terhubung membentuk makna utuh dalam cerita.

       Dengan pendekatan ini, Manjali tidak hanya menjadi kisah perjalanan Marja dan Parang Jati. Novel tersebut berubah menjadi jaringan simbol yang mencerminkan identitas, spiritualitas, sejarah, dan ekofeminisme.

     Salah satu penanda paling kuat dalam novel adalah Candi Calwanarang. Ia bukan sekadar lokasi, melainkan simbol sejarah Jawa dan spiritualitas Hindu-Siwa. Kehadiran candi itu membuat Marja seperti terhubung dengan masa silam: seolah hidup kembali seribu tahun lalu sebagai Ratna Manjali, putri Calwanarang.

       Sebagai penanda fisik, candi menampilkan relief, arca, dan ruang arkeologis. Namun sebagai petanda, ia memuat makna tentang kekuasaan, magi, kesedihan, dan kekuatan perempuan dalam sejarah Jawa. Ayu Utami menghadirkan Calwanarang bukan sebagai sosok jahat yang sering muncul dalam cerita rakyat, melainkan simbol perempuan yang direpresi struktur patriarki.

      Melalui candi, pembaca diajak merenungkan bagaimana narasi sejarah dibangun dan siapa yang berhak menafsirkan masa lalu.

      Gunung Lawu, Trowulan, dan situs-situs arkeologi lain juga menjadi penanda penting. Pada permukaan, ruang tersebut hanyalah lokasi pendakian dan penelitian arkeologi. Namun dalam pembacaan semiotik, gunung menjelma menjadi petanda spiritualitas, proses pencarian diri, bahkan kritik ekologis.

      Ayu Utami menggunakan alam sebagai simbol kehadiran energi yang lebih besar dari manusia. Ketika tanah digambarkan retak, angin bergerak tidak biasa, atau langit menampilkan warna tertentu, semua itu menjadi tanda yang merekam emosi tokoh dan kondisi lingkungan.

     Novel ini seolah berkata bahwa merusak alam sama dengan merusak tubuh perempuan sebuah gagasan inti dalam ekofeminisme.

      Manjali menampilkan banyak benda arkeologis: arca Bhairawa, relief erotis, prabhamandala, terowongan candi, dan struktur batu purbakala. Dalam semiotika, benda-benda ini bukan dekorasi cerita, tetapi penanda visual yang mengandung makna konseptual.

      Relief erotis mengingatkan pembaca bahwa tubuh khususnya tubuh perempuan selalu menjadi medan perebutan makna antara moralitas, kekuasaan, dan spiritualitas.

      Terowongan menjadi simbol perjalanan menuju kesadaran baru; ruang gelap yang membawa tokoh pada transformasi.

      Ayu Utami berhasil membuat benda-benda kultural itu berbicara kembali, seolah menghidupkan percakapan antara masa lalu dan masa kini.

      Selain tanda fisik, novel ini penuh dengan tanda konseptual: konflik batin, cinta, kecemburuan, dan pencarian identitas. Marja mengalami guncangan emosional ketika kedekatannya dengan Parang Jati tumbuh, sementara ia masih menjalin hubungan dengan Yuda. Konflik itu menjadi penanda tentang dilema moral, pencarian diri, dan kerentanan manusia.

      Ketiga tokoh utama juga menjadi tanda yang saling melengkapi yaitu Parang Jati: penanda kearifan Jawa, spiritualitas, dan kedekatan dengan alam. Yuda: penanda modernitas, rasionalitas, dan kebebasan. Jacques: penanda perspektif Barat, ilmiah, dan objektif.

      Ketiganya membawa petanda yang berbeda tentang cara melihat dunia, menciptakan dialektika budaya dalam novel.

Nama “Manjali”: Jejak Identitas yang Tersimpan

Nama Manjali sendiri merupakan tanda konseptual yang kuat. Ia menghubungkan Marja dengan Ratna Manjali, sekaligus membangun dimensi mitologis dan historis. Ayu Utami seakan membangun jembatan identitas antara perempuan masa kini dan masa lalu.

      Dengan demikian, identitas dalam novel tidak statis. Ia cair, terbentuk oleh memori, ruang, dan sejarah yang mempengaruhi tokoh.

      Dalam banyak bagian, Marja melihat warna langit berubah, merasakan angin tertentu, atau mengalami sensasi fisik yang tidak biasa. Tanda-tanda ini menggambarkan kondisi psikis tokoh. Saussure menegaskan bahwa penanda tidak selalu berupa kata; gambar, warna, dan gerak bisa menjadi tanda yang sangat kuat.

     Ayu Utami memanfaatkan alam dan tubuh sebagai bahasa ketiga yang berada di antara kata-kata dan pikiran untuk menggambarkan pergolakan batin tokoh.

Jika seluruh tanda dalam Manjali dirangkai, kita menemukan tiga tema besar:

1. Sejarah Jawa bukan hanya masa lalu, tetapi ruang interpretasi. Melalui Calwanarang dan situs-situs kuno, novel ini mempertanyakan bagaimana sejarah ditulis dan siapa yang memiliki kuasa mengisahkannya.

2. Spiritualitas adalah perjalanan personal. Gunung Lawu, terowongan candi, hingga pengalaman intuitif Marja menunjukkan bahwa spiritualitas bukan doktrin, melainkan proses menyelami diri melalui tanda-tanda alam dan budaya.

3. Alam dan perempuan berada dalam satu garis perlawanan. Ayu Utami menggunakan simbol-simbol alam dan tubuh untuk menyampaikan kritik ekofeminisme: kerusakan lingkungan dan ketidakadilan gender adalah persoalan yang saling terkait.

     Dari pemaparan itu dapat disimpulkan Analisis semiotika terhadap Manjali memperlihatkan bahwa novel ini tidak hanya menyajikan kisah perjalanan tokoh, tetapi juga mengajak pembaca memahami dunia melalui simbol-simbol yang menghubungkan masa lalu–kini, tubuh–alam, dan perempuan–kekuasaan.

     Melalui tanda-tanda itu, Ayu Utami menghadirkan kritik sosial, spiritualitas, dan refleksi budaya yang tetap relevan bagi pembaca modern. Pada akhirnya, membaca Manjali adalah membaca bahasa tanda—dan pada saat yang sama, membaca diri kita sendiri di tengah pergulatan sejarah dan zaman.


REFERENSI

Abror, M., Subahtiar, D. (2024). Kode Semiotika Roland Barthes pada Antologi Puisi Duka Mu Abadi Karya Sapardi Djoko Damono. AKSARA: Jurnal Bahasa dan Sastra. 25 (1) 42-56. http://dx.doi.org/10.23960/aksara/v25i1.pp42-56. 

Cercle Ferdinand de Saussure. (2023, 13 Desember). Language and Semiotic Studies, Vol. 8, No. 1: Special Issue – Ferdinand de Saussure in Contemporary Semiotics (B. Sørensen & T. Thellefsen, Eds.). https://www.cercleferdinanddesaussure.org/2023/12/13/language-and-semiotic-studies-vol-8-n-1-2023-special-issue-ferdinand-de-saussure-in-contemporary-semiotics-ed-b-sorensen-and-t-thellefsen/.

Patriansyah, M. (2014). Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Karya Patung Rajudin Berjudul Manyeso Diri. Ekspresi Seni, 16(2), 239. https://doi.org/10.26887/ekse.v16i2.76.

Pitriansyah, M. (2014). Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Karya Patung Rajudin Berjudul Manyeso Diri. Ekspresi Seni, 16(2), 239. https://doi.org/10.26887/ekse.v16i2.76. 

Sinaga, R. (2023) Analasis Semiotika Ferdinan De Saussure dalam Novel Garis Waktu Karya Fiersa Besari. Enggang: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya. 4 (1). 

Utami, Ayu. (2023). Manjali. Gramedia Jakarta

 Wiyatmi, Wiyatmi., Suryaman, M., Swatikasari, E. (2016). Litera: Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Penelitiannya. 15 (2) 281-291. https://doi.org/10.21831/ltr.v15i2.11829.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top