Dosen FIB UNS Paparkan Perubahan Stigma Negatif Wisata Kemukus dengan UMKM Masyarakat Sragen melalui Siaran Bersama RRI

Print Friendly and PDF

Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A. selaku dosen Sastra Indonesia FIB UNS, Ketua Manassa Komesariat Solo, dan Owner Rumah Roti dan Kue NYEZZ, sebagai narasumber 



Dosen FIB UNS Paparkan Perubahan Stigma Negatif Wisata Kemukus dengan UMKM Masyarakat Sragen melalui Siaran Bersama RRI

Solo- majalahlarise.com -Wisata religi Gunung Kemukus, Sragen telah mendapatkan stigma negatif sejak lama. Potensi wisata ziarah ini juga mendatangkan stigma negatif terhadap wilayah Kemukus itu sendiri. 

Stigma-stigma negatif yang didatangkan berdasar kepercayaan ini membuat wisata di Kawasan Kemukus tidak ramah anak dan kurang diminati sebagai wisata keluarga. Maka dari itu, perlu sinergi yang diiringi dengan komitmen untuk berproses untuk mengubah stigma wisata di kawasan Kemukus ini dari negatif menjadi stigma yang positif melalui pemberdayaan UMKM masyarakat tersebut. 

Radio Republik Indonesia (RRI) mengundang Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A. selaku dosen Sastra Indonesia FIB UNS, Ketua Manassa Komesariat Solo, dan Owner Rumah Roti dan Kue NYEZZ, sebagai narasumber untuk membahas hal tersebut melalui wawancara dan disiarkan langsung melalui ‘Mozaik Indonesia’ radio FM 101 Mhz pukul 15.00 sampai 16.00 WIB. Senin (29/4/2024). Melalui siaran ini, Asep Yudha Wirajaya, S.S.,M.A. mengungkap perjuangan masyarakat kawasan Kemukus mengubah stigma dan citra wisata mereka dengan tajuk “Memaksimalkan Potensi Pasar”. 

Baca juga: SD Muhammadiyah PK Banyudono Kirimkan Timnya ke Festival Lomba Seni Siswa Nasional

Pemerintah Sragen ingin mengubah wisata Kemukus ini menjadi wisata yang ramah anak. Maka dari itu, untuk mengubah hal ini perlu usaha yang strategis. Hal yang pertama kali dilakukan untuk mempersiapkan perubahan ini adalah dengan membangun kerja sama antara masyarakat dan pemerintah. 

“Pengubahan stigma negatif objek wisata ini harus dilakukan secara bebarengan dari atas, yaitu pemerintah maupun dari bawah atau dari masyarakat kita sendiri. Perubahan ini tentu saja perlu didukung oleh pemerintah agar hasil yang ingin dicapai dan apa yang ingin diubah ini menjadi lebih cepat dan lebih maksimal,” ujar dosen FIB UNS ini. 

Pemetaan dan pengklasifikasian UMKM yang dikembangkan juga diperlukan karena beragam jenis UMKM ini harus mendapatkan perhatian dan strategi yang berbeda. Seperti pada usaha snack, masyarakat diajarkan untuk membuat makanan yang sehat dan memiliki izin yang resmi melalui pendaftaran NIB. “Selain itu, kami juga mengajak pelaku usaha untuk melakukan studi banding. Di situ akan memungkinkan adanya terjadi interaksi yang positif, saling tanya dan berbagi, kemudian ilmu yang diperoleh dibawa ke Kemukus, dan ditularkan dengan masyarakat setempat. Dengan cara seperti ini, harapannya akan tumbuh kesadaran bahwa pengubahan stigma negatif ini perlu proses dan perjuangan, serta kerja sama yang baik dari semua pihak,” imbuhnya.

Menurut Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A,  tidak hanya UMKM di bidang kuliner, masyarakat Kemukus juga mengembangkan UMKM tekstil dan UMKM jasa yang turut menjadi penunjang perubahan wisata di wilayah tersebut. “UMKM tekstil yang dikembangkan adalah batik Kemukus. Pada awalnya, masyarakat hanya melakukan sub-kontrak, masyarakat mengambil bahan dari juragan Solo kemudian dikerjakan di rumah. Akan tetapi, semakin lama masayarakat mulai memproduksi batiknya sendiri, sampai saat ini batik motif Kemukus sudah digunakan,” jelasnya.

Dalam pemasaran UMKM ini, masyarakat bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan mengintegrasikan segitiga emas, yaitu Kemukus, Kedungombo, dan Sangiran, sehingga terintegrasi bersama dengan Pemprov Jateng dan Pemkab Sragen untuk mendukung kelas wisata ini tidak hanya sebagai wisata lokal tetapi juga wisata internasional. (Shalma/ Sofyan)

Baca juga: Hadirkan Narasumber Dosen DKV ISI Surakarta, UIN Raden Mas Said Surakarta Adakan FGD Pendirian Prodi Baru


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top