PERAN GURU TAMAN KANAK-KANAK

Print Friendly and PDF

PERAN GURU TAMAN KANAK-KANAK

Oleh: Sri Winarsih, S.Pd

TK PKK Kebonagung, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur


Sri Winarsih, S.Pd



       Guru Taman Kanak-Kanak (TK) tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga penjaga moral peserta didiknya. Pekerjaan sebagai guru TK tidaklah mudah, membutuhkan kesungguhan dan kesabaran bekerja bersama anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses subjek memaknai pekerjaannya sebagai guru TK sejak awal memutuskan menjadi guru TK hingga menemukan makna menjadi guru TK. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Subjek dalam penelitian ini berjumlah tiga orang dipilih dengan teknik purposive. Peneliti menentukan karakteristik subjek adalah guru TK, telah mengajar lebih dari sepuluh tahun, bekerja di Taman Kanak-Kanak swasta, telah mengikuti sertifikasi guru. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Peneliti menggunakan model analisis eksplikasi data, yaitu proses mengeksplikasikan ungkapan subjek yang masih tersirat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek memaknai positif pekerjaan sebagai guru TK.

       Makna pekerjaan pada guru TK dipengaruhi oleh interaksi antara komponen personal, komponen sosial, komponen spiritual, dan komponen nilai (Bastaman, 1996). Motivasi intrinsik yang dimiliki ketiga subjek memunculkan kepuasan dalam bekerja. Nilai-nilai yang diperoleh dari orang tua membuat subjek pantang menyerah menghadapi tantangan pekerjaan. Subjek memandang guru adalah perwujudan cita-cita, pekerjaan yang menyenangkan, panggilan jiwa untuk mencerdaskan anak bangsa.

       Pendidikan pertama dan utama anak usia dini menjadi tanggung jawab orang tua. Penanaman akhlak mulia, pembiasaan positif, dan perkembangan fisik-kognitif-bahasa-emosional menjadi isu utama pada anak usia dini. Sebagian orang tua merasa tidak menguasai pendampingan perkembangan anak usia dini. Fenomena kedua orang tua bekerja membuat banyak orang tua memutuskan mengalihkan sebagian tugas pengasuhan anak pada lembaga pendidikan anak usia dini. Penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilalui anak usia dini. Upaya PAUD tidak hanya dari sisi pendidikan saja, tetapi termasuk upaya pemberian gizi dan kesehatan anak secara terpadu dan komprehensif (Depdiknas, dalam Sujiono, 2009, h. 7). Pendidikan pada anak usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam perawatan, pengasuhan, dan pendidikan pada anak dengan menciptakan lingkungan di mana anak dapat mengeksplorasi pengalaman belajar dari lingkungan (Sujiono, 2009, h. 7). Istilah pendidik pada PAUD terdapat beberapa sebutan, yaitu guru bagi pendidik TK, istilah pamong belajar bagi pendidik di Kelompok Bermain (KB), dan sebutan lain seperti tutor, fasilitator, ustad-ustadzah, kader pada jalur pendidikan non formal. Pada penelitian ini fokus pada sebutan guru yang merujuk pada pendidik di Taman Kanak-Kanak (TK).

      Guru TK (Sujiono, 2009, h. 12) secara khusus menyebutkan guru TK memiliki sembilan peran bagi peserta didiknya, yaitu dalam berinteraksi, pengasuhan, mengatur tekanan, memberi fasilitasi, perencanaan, pengayaan, menangani masalah, pembelajaran, serta bimbingan dan pemeliharaan.

       Guru TK, seperti halnya guru pada jalur pendidikan formal lainnya, adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik (Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005). Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (pasal 20 Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005).

       Penemuan makna pekerjaan oleh guru PAUD sangat penting. Guru yang menghayati pekerjaannya dengan penuh makna akan melakukan aktivitas dengan penuh gairah, menghargai setiap pengalaman berbeda setiap hari, dan tidak merasakan kehampaan dalam aktivitas keseharian. Guru PAUD yang menemukan makna melalui pekerjaannya akan menikmati setiap pekerjaan yang dijalani, tanpa menghiraukan seberapa banyak peran dan tanggung jawab yang harus dijalani. Berbeda dengan guru yang menghayati pekerjaan tanpa makna akan merasakan pekerjaan dan tugas-tugas harian sebagai beban, muncul kejenuhan, dan kebosanan.

        Pekerjaan sebagai guru TK adalah pekerjaan yang membutuhkan komitmen, kesungguhan, dan kesabaran. Anak usia dini yang dilayani oleh guru TK mempunyai karakteristik yang membutuhkan penanganan khusus. Seorang guru TK perlu memahami tahap perkembangan anak usia dini, menguasai metode pembelajaran dengan memperhatikan prinsip saintifik, dan menyusun evaluasi tiap-tiap anak berdasarkan capaian perkembangan secara berkala. Guru TK perlu menjalin hubungan baik dengan orang tua peserta didik, rekan kerja, dan pengelola sekolah sehingga tercipta lingkungan sosial yang mendukung perkembangan anak usia dini. Keputusan menjadi guru TK bagi ketiga subjek adalah panggilan jiwa, berasal dari niat untuk mengamalkan ilmu, mencerdaskan anak bangsa, dan amanah yang harus dilaksanakan untuk menjadi manfaat bagi banyak orang.

        Proses memaknai pekerjaan sebagai bagian dari makna hidup dimulai dari interaksi antara komponen dari makna, yaitu komponen personal, komponen sosial, komponen spiritual, dan komponen nilai. Interaksi keempat komponen tersebut akan mempengaruhi penghayatan makna pekerjaan pada guru TK. Komponen personal berisi unsur pemahaman diri dan pengubahan sikap. Komponen sosial berisi dukungan sosial, faktor pemicu kesadaran diri, dan model ideal pengarahan diri. Komponen spiritual berisi keimanan sebagai dasar dari kehidupan beragama. Komponen nilai meliputi pencarian makna hidup, penemuan makna hidup, ketertarikan diri terhadap makna hidup, kegiatan terarah pada tujuan, tantangan, dan keberhasilan memenuhi makna hidup. 


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top