Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang Dukung Program Untirta Banten Buka Kampus Baru di Banten Selatan

Print Friendly and PDF

Prof. Ahmad Sihabudin bersama Abah Usep Suyatma Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang.


Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang Dukung Program Untirta Banten Buka Kampus Baru di Banten Selatan

Banten- majalahlarise.com -Pembukaan kampus baru Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten yang menjadi salah satu program strategis dari Calon Rektor Untirta, Prof. Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si  mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari tokoh dan Ketua Kasepuhan Cisungsang, Abah Usep Suyatma.  

Kasepuhan adat Cisungsang sebagai salah satu dari dari 37 desa Adat di Kabupaten Lebak yang terletak di kaki Gunung Halimun, tepatnya di Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Salah satu upacara adat yang kemudian berkembang menjadi wisata budaya tahunan yang terkenal dari kasepuhan ini adalah acara Seren Taun.

“Kami tentu saja sangat mendukung rencana Prof. Sihab, untuk membuka  kampus baru Untirta di wilayah kami di Banten Selatan. Hal ini adalah mimpi besar kami selama ini, dapat menyekolahkan anak-anak kami hingga ke perguruan tinggi negeri yang jaraknya dekat,” ungkap Abah Usep.

Menurut Abah Usep, selama ini putera puteri Banten Selatan lebih tertinggal dalam hal akses pendidikan tinggi dibandingkan anak-anak dari daerah lain di Banten. Selain tingkat ekonomi masyarakat yang rendah, infrastruktur pendidikan di Banten Selatan memang jauh tertinggal dibandingkan wilayah di Banten Utara.

Baca juga: Ini Tujuan Unisri Tandatangani MoU dengan 7 Perusahaan/ Lembaga

Wilayah Banten Selatan yang dulu sempat dikenal sebagai daerah penghasil emas terbesar di Indonesia dengan keberadaan PT Antam di Cikotok, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak kini menjadi wilayah yang tertinggal dibandingkan daerah lain. Masa kejayaan era tambang emas di daerah tersebut berakhir pada tahun 1998, saat PT Antam menyatakan tambang emas Cikotok masuk masa fase pasca tambang. Dan pada tahun 2015 seluruh kegiatan pasca tambang di sana benar-benar dihentikan.

“Jangankan perguruan tinggi, lembaga pendidikan tingkat dasar, menangah dan atas yang betul-betul baik masih jauh dari kata memadai. Di wilayah kami belum ada kampus, apalagi kampus negeri,” kata Abah Usep.

Menghadapi kondisi ini, Prof. Dr. Ahmad Sihabudin, calon Rektor Untirta mengaku siap berkolaborasi dengan Pemda Lebak, Kemendikbudristek, Kementrian BUMN, dan stakeholders lainnya untuk membuka  Kampus Baru Untirta di daerah Cibeber atau Bayah, Kabupaten Lebak.  

“Kita bisa minta persetujuan pemerintah untuk dapat menggunakan lahan dan aset-aset eks tambang Cikotok yang saat ini mangkrak untuk menjadi kampus pengembangan Untirta. Demi memberikan akses pendidikan tinggi yang terbuka serta sebagai upaya berkontribusi bagi pengembangan SDM di Banten Selatan, saya pikir ini program yang sangat strategis untuk mendapat dukungan semua pihak,” kata Ahmad Sihabudin.

Saat ini, menurut Abah Usep, siswa dari kecamatan-kecamatan di Banten Selatan, seperti Bayah, Cibeber, Cilograng, dan Pangarangan harus pergi jauh ke kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bandung dan Bogor. Hal demikian dirasakan langsung oleh kedua anaknya yang harus kuliah jauh ke Bandung. Bahkan, untuk kuliah ke Kota Serang, yang nota bene adalah Ibukota Provinsi Banten, dimana anak-anak dari Kasepuhan Cisungsang dan sekitarnya harus menempuh perjalanan 5 sampai 6 Jam.

“Sulitnya kondisi untuk mengakses pendidikan tinggi disebabkan keberadaan kampus memang jauh dari tempat kami. Jadi, bila kampus Untirta baru dibuka di daerah kami, kami berharap ikut mendorong kemajuan daerah Banten Selatan, yang selama ini dirasakan kurang mendapatkan prioritas pembangunan, baik pembangunan infrastruktur maupun sumber daya manusia,” jelas Abah Usep.

Ia benar-benar berharap, wacana pembangunan Kampus Baru Untirta di Banten Selatan  bisa benar-benar terwujud. “Jika kampus negeri di Banten Selatan dibuka, ini menjadi bukti jika pemerintah memang benar-benar hadir dan peduli dengan pembangunan sumber daya manusia di seluruh wilayah Indonesia. Pemerataan pendidikan berkualitas untuk seluruh rakyat Indonesia, termasuk di tempat kami yang selama ini kami rasakan kurang mendapat perhatian mudah-mudahan akan benar-benar kami rasakan,” tegas Abah Usep penuh harapan. (Sofyan)

Baca juga: SMP Negeri 8 Surakarta Gelar Workshop Pengembangan Perangkat Ajar Kurikulum Merdeka


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top