PENINGKATAN KETERAMPILAN BICARA DALAM SESORAH DENGAN MODEL KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION PADA PESERTA DIDIK KELAS XI

Print Friendly and PDF

PENINGKATAN KETERAMPILAN BICARA DALAM SESORAH DENGAN MODEL KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION PADA PESERTA DIDIK KELAS XI

Oleh: Anggraita Dyah Tantri, S.Pd

SMA Negeri 1 Maos Kabupaten Cilacap Jawa Tengah

Anggraita Dyah Tantri, S.Pd


      Kemampuan berbicara dapat diperoleh di sekolah maupun di luar sekolah. Namun kemampuan berbicara sering kita jumpai di dalam pembelajaran disekolah. Di dalam pembelajaran terutama dalam kebahasaan, peserta didik dituntut untuk mampu berbicara agar dapat mengungkapkan pikiran,ide, pengalaman, serta perasaan mereka. Namun berbicara tidak semudah yang kita bayangkan, ada kalanya sebelum berbicara peserta didik mengalami kesulitan-kesulitan di dalam menuangkan ide atau gagasan ke dalam bahasa lisan. Salah satunya adalah keterampilan sesorah (pidato) dalam pelajaran bahasa Jawa. Peserta didik masih rendah motivasinya dalam mempelajari materi tersebut. Hal tersebut disebabkan salah satunya adalah karena mata pelajaran bahasa Jawa bukan sebagai mata pelajaran yang utama di setiap sekolah, sehingga peserta didik cenderung malas dan bosan dengan materi yang diajarkan. 

       Ada beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap keterampilan berbicara, yaitu diantaranya adalah peserta didik kurang termotivasi untuk berbicara, kurangnya pengetahuan peserta didik tentang bagaimana cara berbicara terutama berbicara sesorah. Selain dari faktor peserta didik, guru juga berpengaruh pada keterampilan berbicara. Dalam pembelajaran, segala hal yang dilakukan guru di dalam kelas seperti penggunaan strategi dan media pembelajaran sangat berpengaruh dalam penguasaan peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam pembelajaran sehingga mampu menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar hingga akhirnya dapat meningkatkan kompetensi maupun kecerdasan peserta didik.

       Para peserta didik berlatih sesorah pada saat pembelajaran saja. Peserta didik merasa kurang antusias untukberlatih sesorah karena peserta didik kurang menguasai bahasa Jawa krama dan kurang memahami materi sesorah sehingga peserta didik menganggap bersesorah itu kurang menarik. Guru di tuntut untuk lebih aktif dan kreatif dalam menggunakan metode pembelajaran yang dapat mendukung proses pembelajaran berbicara khususnya pada materi sesorah karena dewasa ini banyak metode atau strategi yang menyenangkan untuk kegiatan pembelajaran.

       Metode berbicara yang dapat digunakan dalam pembelajaran banyak jenisnya, tetapi tidak semua metode sama efektifnya untuk semua bidang studi. Oleh karena itu, guru sebagai pengelola pembelajaran perlu mempertimbangkan kesesuaian metode yang digunakannya. Salah satu syarat menetapkan metode adalah memilih metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan, serta sesuai dengan keadaan peserta didik. Guru dapat menentukan metode yang tepat dan kontekstual agar penggunaannya dalam pembelajaran dapat memberikan hasil yang optimal.  Salah satu upaya tersebut yaitu menggunakan model kooperatif tipe group investigation.

       Penulis memilih model kooperatif tipe group investigation sebagai metode pembelajaran dengan alasan menarik. Karena nantinya setiap peserta didik dapat aktif untuk menyumbangkan ide-ide mereka untuk kelompok mereka. Selain itu, peserta didik dapat berlatih bertanggung jawab untuk tidak mementingkan dirinya sendiri. Sehingga dapat lebih menarik minat peserta didik. Selain itu, peserta didik yang belum mampu mengidentifikasikan sebuah peristiwa ataupun gambar yang ada dalam pikiran masing-masing untuk dirangkai ke dalam bentuk tulisan yang nantinya akan di sampaikan kepada pendengar, akan terbantu oleh teman-teman satu kelompoknya. Pembelajaran kooperatif ini bergantung pada efektivitas kelompok- kelompok peserta didik tersebut. Dalam pembelajaran ini, guru diharapkan mampu membentuk kelompok-kelompok kooperatif dengan berhati-hati agar semua anggotanya dapat bekerja sama untuk memaksimalkan pembelajarannya sendiri dan pembelajaran teman-teman satu kelompoknya. Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab mempelajari apa yang disajikan dan membantu teman-teman satu anggota untuk mempelajari juga (Miftahul, 2011: 32). Model Pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat digunakan guru untuk mengembangkan kreativitas peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top