MPBI Pascasarjana Univet Bantara Gelar Seminar Akademik Bahas Pemanfaatan AI untuk Publikasi Jurnal Bereputasi

Print Friendly and PDF

Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dosen Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) selaku narasumber saat menyampaikan materi menulis ilmiah diera AI: Etika, Strategi dan Publikasi.


MPBI Pascasarjana Univet Bantara Gelar Seminar Akademik Bahas Pemanfaatan AI untuk Publikasi Jurnal Bereputasi

SUKOHARJO - majalahlarise.com - Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Program Pascasarjana Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menggelar Seminar Akademik Pascasarjana bertema “Pemanfaatan AI secara Etis dan Efektif dalam Penulisan Karya Ilmiah Pembelajaran Bahasa menuju Publikasi Jurnal Bereputasi”, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Gedung H Lantai 3 Univet Bantara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dosen Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS), sebagai narasumber. Seminar diikuti mahasiswa MPBI Pascasarjana dan menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk meningkatkan wawasan serta keterampilan mahasiswa dalam penulisan dan publikasi karya ilmiah.

Direktur Pascasarjana Univet Bantara, Dr. Veronika Unun Pratiwi, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang membahas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara aktif dan praktis dalam dunia akademik.


Menurutnya, perkembangan AI semakin berpengaruh dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, pembelajaran, teknologi, penelitian, serta pengembangan karya ilmiah. Pendidik dan mahasiswa perlu mengikuti perkembangan tersebut sekaligus memahami cara memanfaatkan AI secara tepat.

“AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses kerja. Namun, hasil yang diberikan AI tidak selalu benar sehingga tetap membutuhkan pemeriksaan dan penyuntingan manusia,” jelasnya.

Ia menjelaskan, AI tidak semestinya menggantikan peran manusia dalam proses pendidikan maupun akademik. Kemampuan manusia untuk memahami persoalan, mengarahkan penggunaan teknologi, memeriksa informasi, serta mengembangkan gagasan tetap diperlukan untuk menghasilkan karya berkualitas.

Direktur Pascasarjana Univet Bantara berharap pemanfaatan AI dilakukan secara bijak dan produktif, terutama untuk mendukung pendidik dan mahasiswa menghasilkan artikel maupun karya ilmiah yang layak dipublikasikan.

Sementara itu, Ketua Panitia, Arif Wahyudi, S.Pd., menyampaikan kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari tugas perkuliahan mahasiswa sekaligus merespons perkembangan kecerdasan artifisial yang semakin luas digunakan dalam dunia pendidikan dan penelitian.

“Workshop ini bertujuan meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta dalam memanfaatkan AI untuk penulisan karya ilmiah dengan tetap memperhatikan etika, integritas akademik, dan kualitas publikasi,” ujarnya.

Ia menyebut kegiatan diikuti 79 peserta yang terdiri atas 60 mahasiswa kelas I, 10 mahasiswa kelas RPL, dan 9 mahasiswa kelas reguler. Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari pimpinan, dosen Pascasarjana, serta Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.

Kegiatan dilaksanakan secara mandiri melalui kontribusi peserta sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk membangun tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan mengelola kegiatan akademik secara profesional.

Sementara itu, Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., selaku keynote speaker, menyampaikan apresiasi atas seminar yang mengangkat pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara etis dan efektif dalam pendidikan, khususnya pembelajaran bahasa dan publikasi karya ilmiah.

Prof. Farida menjelaskan kehadiran AI telah membawa perubahan dalam ekosistem pendidikan. AI tidak hanya berfungsi sebagai perangkat teknologi, tetapi juga dapat mendukung transformasi pedagogis melalui adaptive learning, analitik pembelajaran, pemberian umpan balik secara real time, serta dukungan data dalam pengambilan keputusan selama proses pembelajaran.

Menurutnya, AI dapat memberikan manfaat dalam mendukung penguasaan keterampilan abad ke-21, meningkatkan efisiensi administrasi, serta mendukung peningkatan kualitas pendidikan agar lebih inklusif, relevan, dan responsif terhadap perkembangan global.

Namun, pemanfaatan AI juga menghadirkan tantangan, antara lain bias algoritmik, privasi dan keamanan data, ketimpangan akses teknologi, ketergantungan terhadap teknologi, serta perubahan peran manusia dalam pembelajaran.

“AI perlu ditempatkan sebagai mitra yang membantu pekerjaan manusia, bukan sebagai pengganti manusia,” jelas Prof. Farida.

Ia mengingatkan mahasiswa, guru, kepala sekolah, pengawas, calon pendidik, dan akademisi untuk menggunakan AI secara aktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab. AI dapat membantu proses analisis maupun penyusunan karya ilmiah, tetapi integritas akademik tetap perlu menjadi landasan.

Prof. Farida berharap seminar tersebut memberikan pengetahuan praktis kepada peserta dalam memanfaatkan AI secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mengembangkan karya ilmiah.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., menjelaskan AI dapat diposisikan sebagai tool atau alat yang membantu mahasiswa maupun dosen dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan penulisan karya ilmiah.

“AI sebagai tool dapat membantu kita dalam berbagai pekerjaan akademik. Namun, pemanfaatannya harus tetap berlandaskan kejujuran dan etika akademik,” tuturnya.

Menurut Prof. Sarwiji, AI sebaiknya digunakan sebagai mitra yang memperkuat proses berpikir manusia, membantu menemukan informasi, mengolah gagasan, dan mendukung pekerjaan akademik. Penggunaan AI secara tidak bertanggung jawab berpotensi menimbulkan persoalan akademik, termasuk plagiarisme dan menghasilkan karya yang tidak mencerminkan kemampuan penulis.

Karena itu, tanggung jawab penggunaan AI tidak hanya berada pada mahasiswa atau penulis. Dosen dan supervisor juga memiliki peran dalam mengawasi serta mengarahkan mahasiswa agar menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

Supervisor, lanjutnya, tidak cukup hanya mengingatkan mahasiswa mengenai etika penggunaan AI, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab. Apabila ditemukan persoalan seperti plagiarisme atau penggunaan sumber tanpa mencantumkan rujukan, dosen dapat memberikan penilaian sekaligus mengarahkan mahasiswa untuk memperbaiki karya ilmiahnya.

Pada tingkat institusi, Prof. Sarwiji juga mendorong adanya regulasi atau pedoman yang jelas mengenai penggunaan AI. Pedoman tersebut diperlukan agar dosen dan mahasiswa memiliki acuan yang sama dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk kepentingan akademik.

Selain pemanfaatan AI, Prof. Sarwiji mengajak mahasiswa pascasarjana memperhatikan kualitas sumber referensi dalam penyusunan karya ilmiah. Menurutnya, kemudahan memperoleh buku, jurnal, dan artikel melalui internet membuat mahasiswa memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber ilmiah. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilih sumber yang kredibel.

Mahasiswa perlu mampu menemukan jurnal bereputasi dan membedakan publikasi ilmiah yang berkualitas dengan jurnal yang kurang kredibel. Dalam penulisan karya ilmiah, mahasiswa dapat memanfaatkan artikel dari jurnal internasional yang terindeks Scopus atau Web of Science serta jurnal nasional terakreditasi Sinta.

Meski demikian, ia mengingatkan kualitas artikel tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan peringkat jurnal. Artikel yang diterbitkan pada jurnal Sinta 5 atau Sinta 6, misalnya, tidak otomatis memiliki kualitas yang rendah.

“Artikel tetap perlu dibaca dan dikaji. Kita perlu melihat metodologi, argumentasi, data, serta relevansinya dengan penelitian yang sedang dilakukan,” jelasnya.

Prof. Sarwiji juga mengingatkan mahasiswa agar cermat dalam memilih jurnal untuk publikasi. Perkembangan industri penerbitan membuat publikasi ilmiah juga bersinggungan dengan kepentingan bisnis. Karena itu, peneliti perlu mencermati karakteristik pengelolaan jurnal sebelum menjadikannya sebagai tempat publikasi maupun sumber referensi.

Salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah konsistensi jumlah artikel yang diterbitkan dalam setiap edisi. Namun, indikator tersebut tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kualitas jurnal. Penilaian tetap perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melihat berbagai aspek pengelolaan dan kualitas publikasi. (Sofyan)


Baca juga: Empat Hari, Tri Haryoko Bikin Wayang Daur Ulang Janaka dan Srikandi Ukuran Jumbo untuk Kriya Nusa 2026


Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top