GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
KWT Sumber Urip Desa Sugihan Bagikan Puluhan Paket Bibit Tanaman dan Lele, Dukung Ketahanan Pangan Warga
![]() |
| Pembagian bibit tanaman kepada warga desa Sugihan. |
KWT Sumber Urip Desa Sugihan Bagikan Puluhan Paket Bibit Tanaman dan Lele, Dukung Ketahanan Pangan Warga
SUKOHARJO – majalahlarise.com – Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Urip II, Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, membagikan puluhan paket bibit tanaman dan ikan lele kepada warga, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan masyarakat sekaligus mengembangkan kebun percontohan yang dikelola KWT Sumber Urip II dengan konsep pertanian berkelanjutan dan terintegrasi.
Kepala Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Sukardi, mengatakan kegiatan pembagian bibit telah dilakukan secara rutin. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman pangan, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat dan memiliki keberlanjutan.
“Awalnya kegiatan ini memang sudah rutin. Ini juga untuk persiapan desa binaan. Intinya, apa yang kita laksanakan harus bermanfaat dan ada tindak lanjut seterusnya, tidak hanya berhenti,” ujar Sukardi.
![]() |
| Berbagai jenis tanaman dikembangkan di kebun KWT diantaranya labu, pare, labu madu hingga sayuran seperti kangkung, tomat dan terong. |
Ia menjelaskan, berbagai jenis tanaman dikembangkan di kebun KWT, mulai dari labu, pare, labu madu hingga sayuran seperti kangkung, tomat dan terong.
Menurut Sukardi, pengembangan tanaman secara bersama-sama di kebun KWT memudahkan proses pengawasan dibandingkan apabila seluruh bibit langsung ditanam secara mandiri di rumah warga.
“Kalau ditanam di rumah-rumah sejak awal kan sulit untuk mengawasi. Makanya dikerjakan bersama di kebun. Kebetulan akan ada monitoring, kemudian hasilnya kita bagikan kepada warga untuk ditanam di rumah masing-masing, sehingga pengawasannya juga lebih aman,” jelasnya.
Selain pengembangan tanaman pangan, Desa Sugihan juga mendorong kegiatan pendukung lainnya, salah satunya melalui bank sampah yang telah berjalan di tengah masyarakat.
Dua Tahun Bangun Kebun KWT
Ketua KWT Sumber Urip II, Cici Aprilia, mengungkapkan kebun yang kini dikembangkan merupakan hasil perjuangan anggota secara bertahap selama sekitar dua tahun.
“Sedikit demi sedikit kalau dilihat sekarang sudah seperti ini. Dulu luar biasa perjuangannya. Lahan ini sebelumnya tidak ada apa-apanya, kemudian selama sekitar dua tahun dibenahi tahap demi tahap,” kata Cici.
Berbagai jenis tanaman telah dikembangkan di kebun tersebut. Salah satu komoditas yang menjadi andalan KWT Sumber Urip II adalah kangkung karena memiliki masa panen relatif cepat dan permintaan pasar cukup tinggi.
“Kangkung di sini benar-benar menjadi primadona. Pemasarannya paling banyak dan juga menghasilkan paling banyak untuk kita. Jadi bisa dikatakan kangkung naik kelas,” ujarnya.
Cici menjelaskan, satu petak tanaman kangkung dapat menghasilkan sekitar Rp100 ribu. Dengan masa panen sekitar 22 hingga 25 hari, kangkung memiliki perputaran produksi dan ekonomi yang cukup cepat.
“Perputaran uang kita cepat dari kangkung sendiri. Belum lagi dari ternak lainnya. Ada ayam yang menghasilkan telur, ada lele yang selain dikonsumsi sendiri juga bisa dipasarkan, kemudian buah-buahan,” jelasnya.
Terapkan Pertanian Terintegrasi
KWT Sumber Urip II juga mengembangkan konsep integrated farming atau pertanian terintegrasi. Melalui konsep tersebut, hasil dari satu kegiatan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan lainnya sehingga limbah dapat ditekan.
Cici mencontohkan sisa tanaman dan bonggol sayuran yang tidak langsung dibuang. Bahan tersebut dikembalikan ke kebun untuk diolah menjadi kompos dan selanjutnya dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.
“Sayuran yang kita tanam kemudian kita konsumsi. Kalau ada sisa atau bonggolnya, tidak kami buang, tetapi kami kembalikan ke kebun untuk dikomposkan. Hasil pupuknya kemudian dikembalikan lagi untuk nutrisi tanaman,” terangnya.
Konsep tersebut juga diterapkan dengan mengintegrasikan tanaman dan peternakan. Sisa hasil tanaman dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, sementara hasil dari peternakan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Menurut Cici, pola tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Kembangkan Pengairan Semiotomatis
Untuk menjawab persoalan pengairan, terutama ketika cuaca panas, KWT Sumber Urip II mengembangkan sejumlah inovasi sederhana.
Cici mengatakan, pengelolaan pengairan selama ini banyak dilakukan oleh ibu-ibu yang juga memiliki aktivitas rumah tangga. Karena itu, diperlukan sistem pengairan yang praktis dan efisien.
“Kita belajar dari masalah kita sendiri. Contohnya pengairan yang dikelola ibu-ibu. Mereka juga punya banyak pekerjaan di rumah, sementara cuaca sedang panas. Kami mencari cara bagaimana pengairan bisa dibuat mudah dan praktis,” katanya.
Dari kebutuhan tersebut, KWT mengembangkan sistem pengairan semiotomatis. Ketika pompa dinyalakan, pengairan dapat berjalan dan menyebar ke area tanaman.
Selain itu, KWT Sumber Urip II memanfaatkan barang bekas untuk mendukung kegiatan bercocok tanam, salah satunya melalui sistem penanaman kapiler.
Pemanfaatan barang bekas tersebut menjadi bagian dari upaya KWT mengembangkan pertanian yang produktif secara ekonomi sekaligus memperhatikan aspek lingkungan.
Cici berharap program ketahanan pangan dan berbagai inovasi yang dikembangkan KWT Sumber Urip II dapat terus berlanjut serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya program ini terus berlanjut. Jadi kita bisa menjadi solusi untuk masalah yang kita hadapi sendiri, dengan terus belajar dan mengembangkan apa yang ada di lingkungan kita,” pungkasnya. (Sofyan)
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...


Tidak ada komentar: