PPG Univet Bantara Gelar Workshop Penguatan Kebhinekaan, Bekali Calon Guru Berkarakter dan Nasionalis

Print Friendly and PDF

Rektor Univet, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka Workshop Penguatan Kebhinekaan.


PPG Univet Bantara Gelar Workshop Penguatan Kebhinekaan, Bekali Calon Guru Berkarakter dan Nasionalis

Sukoharjo - majalahlarise.com – Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Sukoharjo) menggelar Workshop Penguatan Kebhinekaan di Ruang Seminar Gedung H Lantai 3, Senin (13/7/2026). Kegiatan yang diikuti 174 mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Suwarto untuk memperkuat wawasan kebhinekaan, nasionalisme, dan karakter calon guru sebelum terjun ke dunia pendidikan.

Rektor Univet, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum, menjelaskan penguatan nilai bela negara dalam Program Pendidikan Profesi Guru menjadi bagian penting dari kurikulum soft skill. Menurutnya, guru tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga karakter kuat agar mampu menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik sejak dini. Nilai yang perlu diperkuat meliputi disiplin, cinta tanah air, toleransi, serta persatuan bangsa di tengah tantangan menurunnya semangat nasionalisme dan meningkatnya potensi perpecahan sosial.

"Guru harus memiliki karakter yang kuat karena mereka akan menanamkan nilai-nilai disiplin, cinta tanah air, toleransi, dan persatuan kepada generasi bangsa. Nilai-nilai itu perlu diperkuat agar Indonesia tetap menjadi bangsa yang kokoh," ujar Prof. Farida.

Prof. Dr. Suwarto memaparkan konsep penguatan kebhinekaan melalui lima dimensi.


Ia juga menjelaskan pentingnya keberpihakan terhadap produk dalam negeri dan pemberdayaan usaha kecil sebagai bentuk nyata kecintaan kepada bangsa. Selain itu, disiplin dinilai menjadi fondasi utama untuk mencegah berbagai penyimpangan, termasuk korupsi dan penyalahgunaan anggaran. 

"Disiplin berarti menjalankan tugas sesuai kewajiban. Jika nilai ini tertanam sejak calon guru, mereka akan mampu membentuk generasi muda yang berintegritas," katanya.

Prof. Farida berharap program penguatan bela negara dalam PPG terus dikembangkan melalui metode pembelajaran yang lebih variatif, seperti kegiatan luar ruang, latihan kedisiplinan, kunjungan sosial, hingga retret pembentukan karakter. 

"Saya berharap kegiatan ini dikembangkan lagi dengan aktivitas luar ruang agar rasa disiplin, kepedulian, dan semangat kebangsaan peserta semakin kuat. Jika dipersiapkan sejak dini, Insya Allah Indonesia dapat kembali menjadi bangsa yang maju sesuai cita-cita para pendiri bangsa," tuturnya.


Koordinator PPG Univet, Dr. Mukti Widayati, M.Hum, menjelaskan workshop penguatan kebhinekaan merupakan program Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTK PPG) yang wajib dilaksanakan oleh seluruh penyelenggara PPG. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dipersiapkan menjadi guru profesional yang memiliki sikap toleran, menghargai keberagaman, serta siap mengabdi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga pendidik.

Dalam sesi materi, Prof. Dr. Suwarto memaparkan konsep penguatan kebhinekaan melalui lima dimensi, yakni kebhinekaan global, kebhinekaan rasional, kebhinekaan dalam skala personal, kebhinekaan di lingkungan sekolah, serta mewujudkan sekolah yang damai dan inklusif. Menurutnya, seluruh upaya membangun budaya kebhinekaan harus dimulai dari perubahan sikap individu sebelum berkembang menjadi budaya positif di lingkungan sekolah.

"Perubahan perilaku setiap individu menjadi fondasi utama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang harmonis, inklusif, dan mampu menumbuhkan semangat saling menghargai di tengah keberagaman," terangnya. (Sofyan)


Baca juga: MPLS SMP Negeri 2 Manyaran 2026 Resmi Dibuka, Utamakan Sekolah Ramah dan Bebas Perundungan 


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top