PKW LKP Amalia 2026 Resmi Dibuka, Cetak Wirausaha Muda Menjahit Busana Shibori di Sukoharjo

Print Friendly and PDF

Penyerahan alat dan bahan kepada peserta sebagai tanda resmi dibuka pelaksanaan PKW LKP Amalia Tahun 2026.


PKW LKP Amalia 2026 Resmi Dibuka, Cetak Wirausaha Muda Menjahit Busana Shibori di Sukoharjo

Sukoharjo - majalahlarise.com - Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Amalia resmi membuka Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Tahun 2026 keterampilan menjahit busana shibori di SFA Steak & Resto Gentan Sukoharjo, Jumat (29/5/2026). Program tersebut merupakan kerja sama LKP Amalia dengan Direktorat Kursus dan Pelatihan Dirjen Pendidikan Vokasi Kemdikbud RI, Batik Diajeng, Bunda Collection, serta platform digital Gampang go.com. Kegiatan dihadiri instruktur kewirausahaan Dr. R. Djayendra Dewa, para instruktur pelatihan, tamu undangan, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo.

Pimpinan LKP Amalia, Hani Safitri, SE MM, melaporkan program PKW tahun ini menyasar 20 peserta usia 16 hingga 24 tahun dengan latar belakang anak usia sekolah tidak sekolah dan keluarga kurang mampu. Menurutnya, proses seleksi dilakukan secara ketat agar peserta yang terpilih benar-benar memiliki motivasi kuat untuk berwirausaha. 

Kabid Pembinaan PAUD & PNF Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo, Warsini, S.Sos, MM, mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo sekaligus membuka kegiatan memberikan motivasi kepada seluruh peserta.


Ia menjelaskan sosialisasi program dilakukan secara masif melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, hingga jaringan PKK dan pemerintah kelurahan. Dari promosi tersebut tercatat sekitar 40 pendaftar yang berminat mengikuti program PKW. Setelah melalui wawancara, peserta dipilih berdasarkan keseriusan dan motivasi untuk berkembang. 

“Ada yang kami nilai hanya ingin mengisi waktu luang sehingga tidak lolos seleksi. Kami ingin peserta yang serius dan siap berkembang,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, program PKW menggunakan metode Project Based Learning (PjBL) yang menekankan praktik langsung berbasis proyek dan dunia usaha nyata. Peserta tidak hanya mendapatkan teori kewirausahaan dan keterampilan menjahit, tetapi juga praktik langsung di unit usaha Amalia Fashion. 

“Kami ingin peserta merasakan sensasi benar-benar punya usaha. Mereka belajar menyapa pelanggan, menerima order, membuat pola, memotong bahan sampai proses jahit selesai,” ungkapnya.

Perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo, Pimpinan LKP Amalia, para instruktur pelatihan dan peserta PKW saat foto bersama.


Untuk memperkuat kompetensi peserta, LKP Amalia menggandeng sejumlah UMKM dan pelaku usaha seperti Bunda Collection dan Batik Diajeng. Peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan industri ke Klaten guna melihat langsung proses produksi kain shibori dan konveksi. Selain itu, lembaga menggandeng koperasi dan Bank Jateng Syariah guna membuka akses pembiayaan usaha setelah peserta menyelesaikan pelatihan. 

“Kami ingin mereka tidak hanya selesai pelatihan, tetapi benar-benar bisa merintis usaha mandiri dengan dukungan jaringan usaha dan keuangan,” katanya.

Program PKW menjahit busana shibori tersebut memiliki total 250 jam pelajaran yang terdiri atas 195 jam keterampilan menjahit, 50 jam kewirausahaan, serta materi tambahan lainnya. Pelatihan dilaksanakan selama 36 kali pertemuan mulai Rabu hingga Sabtu pukul 08.00 sampai 16.00 WIB dengan dukungan instruktur kompeten bersertifikasi. 

“Kami masih mengejar kualitas. Karena tujuan utama program ini bukan hanya peserta bisa menjahit, tetapi mampu menghasilkan produk yang layak jual dan memiliki mental wirausaha,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Pembinaan PAUD & PNF Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo, Warsini, S.Sos, MM, mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo sekaligus membuka kegiatan memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar memanfaatkan kesempatan pelatihan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, program yang dijalankan LKP Amalia selama ini mendapat dukungan pemerintah pusat karena mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan membuka peluang kerja bagi generasi muda. 

Warsini menyampaikan peserta yang lolos program merupakan peserta terbaik hasil seleksi program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurutnya, peserta memperoleh fasilitas pelatihan dan sarana usaha tanpa biaya besar sehingga harus dimanfaatkan dengan disiplin dan penuh semangat. 

“Pemerintah hadir di sini untuk panjenengan semua. Jenengan tidak butuh biaya sama sekali, tetapi mendapatkan ilmu dan sarana untuk merintis usaha sendiri maupun bekerja di perusahaan yang membutuhkan keahlian,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya karakter, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam meraih kesuksesan. Warsini mengapresiasi kontribusi LKP Amalia dalam membantu pemerintah daerah mencetak tenaga kerja sekaligus mendukung pengentasan pengangguran. 

“Orang itu kalau ingin maju harus berkarakter, memiliki budi pekerti, kreativitas, dan inovasi. Sekarang semuanya sudah serba aplikasi,” katanya.

Salah satu peserta PKW, Gilang Pamungkas dari Mayang RT 2 RW 4, mengaku mengikuti program tersebut karena memiliki keinginan kuat menjadi wirausaha mandiri. Sebelumnya ia bekerja sebagai teknisi servis komputer bersama kakaknya selama sekitar tiga tahun dan kemudian menjadi tukang amplas di Xavier Valve. “Saya tertarik dengan program ini untuk berjuang menjadi wirausaha,” ujar Gilang.

Ketertarikan Gilang pada dunia menjahit tumbuh sejak kecil karena sering melihat kakaknya menjahit di rumah. Melalui pelatihan PKW, ia berharap mampu membangun usaha mandiri dari nol hingga sukses. “Harapan saya setelah mengikuti PKW ini nantinya bisa menjadi wirausaha yang sukses mulai dari nol hingga sukses,” katanya.

Peserta lainnya, Astri Edilia Rahma warga Tegal Mulyo, Bener, Wonosari, Klaten, mengikuti program PKW karena ingin menambah keterampilan menjahit sekaligus membuka peluang usaha rumahan. Sebagai ibu rumah tangga dengan satu anak, Astri menilai keterampilan menjahit dapat menjadi aktivitas produktif yang membantu perekonomian keluarga. 

“Saya mengikuti program ini karena saya ibu rumah tangga yang punya satu anak. Saya berpikir menjahit bukan hal yang membosankan, lalu saya melihat kursus PKW ini di media sosial dan akhirnya bergabung,” ujarnya.

Astri berharap setelah menyelesaikan program tersebut dirinya mampu membangun usaha jahit rumahan tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai ibu dan istri. (Sofyan)


Baca juga: HUT Ke-41 SMPN 2 Selogiri Hadirkan Beragam Kegiatan Edukatif dan Hiburan, Usung Tema Karakter Kuat dan Anak Hebat


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top