Pelatihan Formulasi Pakan Ayam Kampung di SMK Negeri 1 Trucuk Klaten Dorong Lulusan Siap Wirausaha Agribisnis

Print Friendly and PDF

Prof. Dr. Ir. Ali Mursyid Wahyu Mulyono saat menyampaikan materi pelatihan formulasi pakan ayam kampung kepada siswa SMK Negeri 1 Trucuk Klaten.


Pelatihan Formulasi Pakan Ayam Kampung di SMK Negeri 1 Trucuk Klaten Dorong Lulusan Siap Wirausaha Agribisnis

Klaten — majalahlarise.com - Komitmen mencetak lulusan kompeten dan adaptif terhadap kebutuhan industri terus ditunjukkan SMK Negeri 1 Trucuk, Kabupaten Klaten, melalui pelatihan formulasi pakan ayam kampung yang dilaksanakan pada 9 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif Bidang Ilmu (PMKBI) yang didanai oleh LPPM Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo Tahun Anggaran 2025/2026.

Pelatihan ini digagas oleh tim akademisi dari Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Univet Bangun Nusantara yang diketuai Prof. Dr. Ir. Ali Mursyid Wahyu Mulyono, M.P, IPU dengan anggota Dr. Catur Suci Purwati, S.Pt., M.Sc. dan Muhammad Husein, S.Pt., M.Sc. 

Sebanyak 20 siswa kelas XI Program Keahlian Peternakan menjadi peserta utama dalam kegiatan ini, yang dirancang sebagai bekal keterampilan praktis menghadapi dunia kerja sekaligus membuka peluang wirausaha di sektor agribisnis unggas.

Prof. Ali Mursyid Wahyu Mulyono menyampaikan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi riil usaha peternakan skala mikro yang masih menghadapi tantangan tingginya biaya pakan pabrikan.

“Sebagian lulusan SMK memilih terjun ke sektor informal, termasuk usaha ternak ayam kampung. Namun, biaya pakan yang tinggi sering menjadi kendala utama. Melalui pelatihan ini, siswa kami bekali kemampuan menyusun pakan secara mandiri berbasis bahan lokal yang lebih ekonomis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penguasaan teknik formulasi pakan menjadi kompetensi strategis karena pakan menyumbang hingga 70–80 persen dari total biaya produksi ternak. Dengan keterampilan ini, pelaku usaha mikro dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kualitas nutrisi ternak.

Pembelajaran Terstruktur dan Berbasis Praktik

Kegiatan pelatihan dirancang secara sistematis melalui tiga tahapan utama, yakni sosialisasi, penyampaian materi, serta praktik dan penerapan teknologi. Pada tahap awal, peserta mendapatkan pengenalan konsep dasar melalui ceramah dan diskusi selama 20 menit.

Selanjutnya, selama 60 menit, peserta menerima materi inti yang mencakup pemahaman nutrisi dan bahan pakan ayam kampung, serta teknik formulasi pakan. Materi ini dilengkapi dengan diskusi interaktif yang mendorong siswa aktif bertanya dan mengkaji permasalahan nyata di lapangan.

Tahap paling krusial adalah praktik formulasi pakan selama 60 menit, di mana siswa secara langsung melakukan perhitungan komposisi bahan pakan menggunakan metode Square Pearson berbantuan perangkat lunak Microsoft Excel. Selain itu, peserta juga diberikan tugas mandiri selama tujuh hari untuk memperdalam keterampilan yang telah dipelajari.

Dr. Catur Suci Purwati menguraikan pendekatan pembelajaran yang digunakan menitikberatkan pada keterlibatan aktif peserta.

“Metode yang kami gunakan mengombinasikan teori dan praktik secara seimbang. Diskusi menjadi ruang bagi siswa untuk mengasah pemahaman, sementara praktik langsung memperkuat keterampilan teknis mereka,” jelasnya.

Antusiasme Tinggi dan Diskusi Kritis

Selama pelaksanaan, suasana pelatihan berlangsung kondusif dan partisipatif. Siswa menunjukkan antusiasme tinggi yang terlihat dari keaktifan dalam bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan yang muncul tidak hanya bersifat dasar, tetapi juga menyentuh aspek teknis, seperti penggunaan metode matematis dalam formulasi pakan dan pentingnya keseimbangan nutrisi.

Muhammad Husein menuturkan, banyak siswa sebelumnya belum memahami bahwa formulasi pakan harus berbasis target kandungan nutrisi, terutama protein dan asam amino.

“Kesadaran ini penting karena dalam praktik peternakan, ketepatan nutrisi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan efisiensi produksi ayam,” katanya.

Ia menambahkan, diskusi juga membuka wawasan siswa tentang pentingnya data komposisi bahan pakan dalam menyusun ransum yang seimbang dan ekonomis.

Hasil Nyata: Peningkatan Pemahaman Signifikan

Hasil evaluasi menunjukkan pelatihan ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pemahaman siswa. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 47,5 (kategori cukup) pada pre-test menjadi 80,0 (kategori sangat baik) pada post-test, dengan peningkatan sebesar 68 persen.

Secara lebih rinci, pemahaman tentang teknik formulasi pakan meningkat sebesar 107 persen, dari nilai 36,3 (kategori rendah) menjadi 75,0 (kategori baik). Sementara itu, pemahaman tentang nutrisi dan bahan pakan meningkat 52 persen, dari 55,0 (kategori cukup) menjadi 83,3 (kategori sangat baik).

Prof. Ali menguraikan capaian ini menunjukkan keberhasilan pelatihan dalam mentransfer keterampilan aplikatif kepada siswa.

“Peningkatan yang tinggi pada aspek formulasi menunjukkan siswa mampu memahami metode perhitungan yang sebelumnya dianggap sulit. Ini menjadi modal penting untuk praktik di lapangan,” ungkapnya.

Salah satu siswa peserta pelatihan mengaku mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya.

“Kami jadi lebih paham bagaimana menentukan komposisi pakan yang tepat. Tidak sekadar teori, tetapi langsung praktik menggunakan Excel,” tuturnya.

Dukungan Lingkungan dan Potensi Sekolah

Sebagai sekolah berbasis teknologi pertanian, SMK Negeri 1 Trucuk memiliki sarana pendukung yang memadai, termasuk lahan praktik seluas lebih dari 70 ribu meter persegi, akses listrik, serta jaringan internet. Sekolah ini juga aktif menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri guna meningkatkan kesiapan lulusan.

Program keahlian peternakan di sekolah ini mencakup agribisnis produksi ternak serta keperawatan hewan, yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus membuka peluang usaha mandiri bagi lulusan.

Mendorong Kemandirian dan Daya Saing

Secara keseluruhan, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas kognitif siswa, tetapi juga menumbuhkan pola pikir kewirausahaan. Kemampuan memanfaatkan bahan pakan lokal menjadi solusi strategis dalam menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing usaha ternak ayam kampung.

Tim pengabdian berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan program pendampingan agar siswa mampu mengimplementasikan keterampilan formulasi pakan secara mandiri dan berkelanjutan.

“Harapannya, siswa tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja di bidang peternakan,” pungkas Prof. Ali. (Sofyan)


Baca juga: SD Muhammadiyah PK Banyudono Kirim Delegasi Ikuti Cambridge Teachers Training di Purwokerto


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top