GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
PEK empek “Wong Kito Galo” Bu Nurhayati, Bertahan Sejak 2008 di Tengah Tantangan UMKM
PEK empek “Wong Kito Galo” Bu Nurhayati, Bertahan Sejak 2008 di Tengah Tantangan UMKM
WONOGIRI – majalahlarise.com - Aroma khas pempek Palembang terus menguar dari dapur sederhana milik Nurhayati di kawasan Perum Palem Pesona, Wonogiri. Perempuan asli Palembang ini setia merintis usaha PEK empek sejak tahun 2008, menghadirkan cita rasa “wong kito galo” di tanah perantauan.
Nurhayati menuturkan, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Ia mengaku sempat mengalami berbagai tantangan, terutama saat pandemi COVID-19 hingga maraknya pelaku usaha serupa. “Jatuh bangunnya usaha itu luar biasa. Pas COVID itu benar-benar reseller itu banyak sekali. Setelah itu PEK empek laku keras, tapi yang meniru juga banyak, di situ tantangannya,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap bertahan dengan strategi sederhana, yakni menjaga kualitas dan konsistensi produksi setiap hari. Dalam sehari, Nurhayati mampu memproduksi sekitar 24 hingga 48 porsi PEK empek. Produk tersebut dipasarkan dengan cara dititipkan ke kafe, penjual sayur, hingga melalui jaringan penjualan online. “Setiap hari produksi, jadi barang itu baru terus, ada terus,” jelasnya.
Menariknya, hingga kini Nurhayati masih mempertahankan harga jual Rp10.000 per porsi. Ia mengaku belum berani menaikkan harga karena khawatir memengaruhi daya beli konsumen. “Harganya masih standar, belum berani naik. Takutnya nanti kalau dinaikkan malah enggak laku,” katanya.
Dalam mengelola usaha, Nurhayati juga mengaku tidak terlalu fokus pada perhitungan rinci biaya produksi. Baginya, yang terpenting adalah usaha tetap berjalan dan memberikan manfaat bagi keluarga.
“Kalau dihitung semua, dari bensin, listrik, gas, tenaga, bisa-bisa enggak jadi jualan. Tapi alhamdulillah, walaupun sedikit, bisa bantu ekonomi keluarga, biayai sekolah anak, dan sedikit nabung,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar bisnis, usaha PEK empek ini menjadi bukti ketangguhan seorang perempuan perantau dalam menjaga tradisi kuliner sekaligus menopang ekonomi keluarga. Dengan semangat pantang menyerah, Nurhayati terus menghadirkan PEK empek khas Palembang yang kini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Wonogiri. (Sofyan)
Baca juga: Pembelajaran Coding dan AI dengan Pendekatan Joyful Learning Dorong Kreativitas Siswa
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mengikuti kegiatan Parents Day dengan tema “Reuse, Membuat Hiasan Bunga ...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...

Tidak ada komentar: