GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pentingnya Kolaborasi Guru dan Dosen Abad XXI untuk Wujudkan Pendidikan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat sebagai Media Pembentukan Karakter Anak Indonesia
Pentingnya Kolaborasi Guru dan Dosen Abad XXI untuk Wujudkan Pendidikan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat sebagai Media Pembentukan Karakter Anak Indonesia
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & Komunitas DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum. |
“Anak adalah amanah, harapan, dan investasi masa depan kita. Peluklah dan berikanlah cakrawala pengetahuan akhirat dan dunia dengan kepedulian dan kasih sayang yang berbasis literasi dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa”
Mari diingat bersama! Asyiknya saat makan bersama keluarga waktu bersama bapak, ibu, dan saudara di kampung kala senja mulai menuju ke peraduannya. Dalam kesederhanaan di masa lampau, masih terngiang di benak kita makan di atas tikar dengan lauk seadanya, telur yang dibelah sejumlah keluarga, urapan daun singkong, bayung, bayam, dengan wajah ceria, kebersamaan, dan keharmonisan keluarga di desa yang jauh dari keramaian kota dan ditemani suara jangkrik dan katak waktu malam hari. Keluarga akan selalu menjadi surga terindah di dunia bagi kita sepanjang masa. Bapak dan ibu menjadi teladan pendidikan bagi anak-anak pada ranah keluarga sebagai upaya untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang baik, berkarakter, kretaif, inovatif, produktif, dan inspiratif sebagai generasi emas Indonesia 2045.
Pembentukan karakter dan sikap mental yang kuat dalam diri anak harus dimulai pada ranah keluarga. Ibu dan bapak sebagai model guru dan teladan sejati harus selalu membiasakan sikap tindak tutur, gaya tutur, etika, sopan santun, pembiasaan diri, keberanian, rasa percaya diri, kesabaran, dan terus berdoa mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian bapak dan ibu harus terus menanamkan nilai-nilai aqidah keimanan, mental yang kuat, integritas, kerja keras, komunikasi, kerja sama, tidak mudah putus asa, disiplin, rajin belajar, berliterasi dengan ratulisa, dan berusaha terus-menerus untuk berbagi ilmu dan kebaikan untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat. Komitmen bapak dan ibu pada ranah pendidikan keluarga untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat dapat menjadi modal awal bagi anak-anak Indonesia untuk bersikap dan berkomunikasi dengan bahasa yang santun dan etika ketika bertemu dengan teman, guru di sekolah, dosen di kampus, dan masyarakat dalam multikonteks kehidupan ketika terjun di masyarakat. Dengan demikian, pendidikan keluarga yang dikolaborasikan dengan pendidikan pada ranah sekolah dan masyarakat akan menjadi media kolaborasi utama pendidikan nonformal dan formal untuk membentuk karakter anak berbasis pendidikan dan keteladanan kedua orang tua di rumah, guru dan dosen di sekolah dan kampus, dan masyarakat dalam multikonteks kehidupan.
Ibu dan bapak sebagai model guru dan dosen sejati harus menjadi teladan mendidik dengan kepedulian dan kasih sayang. Kepedulian dan kasih sayang yang diajarkan kepada anak-anak di rumah menjadi role model bagi anak ketika bertindak dan bersikap di luar rumah. Selain itu, ibu dan bapak harus benar-benar dapat menjadi cerminan bagi anak-anak untuk berbuat dan bertanggung jawab terhadap apa yang harus dikerjakan di rumah sebagai bentuk implementasi pendidikan karakter bagi anak-anak. Contoh, Ibu dan bapak selalu mengingatkan dan mengajak anak untuk menjalankan ibadah, bangun tidur sepagi mungkin, membereskan tempat tidur secara mandiri, mandi dan gosok gigi setalah bangun tidur, menyiapkan perangkat sekolah, belajar membaca dan menulis, mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, dan juga melatih kerja sama di rumah untuk saling membantu dnegan saudara-saudara dan juga membantu kedua orang tua.
Bapak dan ibu sebagai kepala keluarga harus menanamkan sikap keteladanan bekerja keras dan disiplin. Komitmen karakter ini harus dimiliki anak-anak untuk membangun komitmen dan integritas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Selain itu, anak-anak harus selalu diajak berlatih bekerja di ranah keluarga, seperti kerja bakti membersihkan rumah dan lingkungan sekitarnya setiap hari Minggu, masing-masing anak diberi tanggung jawab untuk membersihkan lantai dan kamar mandi setiap hari. Bagi anak putri ditugasi untuk menyiapkan sarapan dan membantu ibunya memasak di dapur. Hal ini sebagai upaya untuk membentuk dan membangun karakter anak-anak sejak dini di ranah keluarga, kemudian akan dilanjutkan pada ranah sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian keteladanan seorang bapak dapat menjadi contoh dan cermin bagi anak-anaknya untuk bekal tumbuh menjadi anak remaja dan dewasa dengan mental yang kuat dan berintegritas.
Komitmen dan kerja sama antara bapak dan ibu harus diikuti dengan komunikasi, keterbukaan, dan keharmonisan bersama. Perkembangan teknologi yang sangat pesat kadang kala memisahkan yang dekat menjadi terasa sangat jauh (lihat yang paling dekat dengan anak-anak sekarang Adalah HP atau gawai yang ada dalam genggaman mereka). Hal ini tidak boleh terjadi di dalam keluarga dengan cara membangun komunikasi lisan secara rutin antara bapak, ibu, dan anak-anaknya setiap saat di rumah. Kemudian dalam komunikasi tersebut harus selalu dibangun sistem keterbukaan informasi, apa pun, di mana pun, dan kapan pun. Ibaratnya meskipun yang dibicarakan itu tidak penting tetapi harus diupayakan untuk ngobrol bersama di dalam berbagai kesempatan di rumah.
Komunikasi dan keterbukaan inilah yang nantinya akan mengantarkan keluarga dalam situasi yang sejuk dan harmonis. Keharmonisan keluarga akan dapat terbentuk ketika masing-masing anggota keluarga dapat memahami posisi dan peran masing masing. Dengan demikian perwujudan pendidikan karakter dalam keluarga akan dapat terbentuk sejak dini ketika masing-masing anggota keluarga dapat saling menghargai satu dengan yang lain dan menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bermasyarakat. Pendidikan yang ditanamkan pada ranah keluarga akan menjadi modal dasar untuk memasuki pendidikan formal pada sekolah, dan akan menjadi modal anak-anak Indonesia yang berkarakter dan hebat luar biasa memasuki kampus kehidupan Masyarakat dalam multikonteks kehidupan.
Pendidikan pada ranah keluarga merupakan tahapan penanaman. Aneka nilai-nilai karakter dan kebaikan mulai ditanamkan oleh ibu, bapak, kakak di ranah keluarga. Kemudian dalam proses untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter tersebut harus dimulai dan biasakan secara rutin di ranah keluarga sehingga akan menghasilkan budaya dan kebiasaan bagi anak. Sebagai contoh, mengajak sholat magrib, subuh, isyak, dan subuh berjamaah di masjid. Bagaimanapun caranya tugas ibu memotivasi dan menguatkan anak-anak untuk semangat ke masjid, dan tugas seorang ayah untuk mengeksekusi mengajak ke masjid. Kemudian waktu sholat subuh pasti sulit bangun, maka dengan kelembutan kita bangunkan kemudian kita ajak ke masjid. Apabila belum bangun juga, langsung digendong saja. Ini salah satu upaya orang tua untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam berbuat dan menanamkan nilai-nilai karakter kedisiplinan bagi anak-anaknya. Demikian untuk belajar ngaji dan ilmu dunia. Semua kita targetkan setiap hari untuk bercerita santai dan berbagi cerita mengenai kegiatan seharian di sekolah dan juga sekaligus kita menambahkan informasi-informasi penting bagi anak-anak.
Tahap pendidikan pada ranah sekolah sebagai bentuk penguatan. Salah besar ketika kita menyekolahkan anak kemudian diserahkan 100% menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah pendidikan nak kita. Sekolah sebagai media pendidikan formal bagi anak untuk menguatkan nilai-nilai pendidikan yang sudah diterima dari ibu dan bapaknya. Oleh karena itu, keberanian anak di sekolah juga bergantung pola pendampingan dan pendidikan anak-anak di rumah. Oleh karena itu, nilai-nilai penguatan yang dimiliki anak-anak di rumah akan dapat dikuatkan dan dikembangkan di sekolah bersama guru dan teman-temannya. Khususnya untuk menguatkan nilai-nilai individu, sosial, dan religius yang bersinergi dengan lingkungannya. Hal ini sebagai bentuk penguatan diri dan mental dalam rangka mewujudkan mimpi dan cita-citanya di masa yang akan datang.
Masyarakat sebagai laboratorium kehidupan menjadi media pendidikan karakter bagi anak-anak Indonesia untuk mengimplementasikan dan mengembangkan. Proses pendidikan yang diperoleh dari bapak dan ibu pada ranah pendidikan keluarga, akan sangat terasa pada saat anak-anak belajar di sekolah dan terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Pada saat di rumah diajari untuk saling tersenyum, menyapa, menghargai, menghormati, saling membantu, bersodakoh, belajar, bekerja keras, berusaha, beribadah,berdoa, berdisiplin, jujur,dan saling berbagai kepada yang kurang mampu maka saat anak-anak saat bertemu teman di sekolah dan masyarakat, baik di sekolah dan ranah masyarakat sosial akan tampak hasilnya. Praktik nyata inilah yang harus dikuatkan sinergisitas dan kolaborasi nyata pendidikan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Merujuk deskripsi dan pemikiran di atas, diperlukan peran guru, dosen abad XXI, dan pemerintah pusat dan daerah untuk terus membangun super tim pendidikan yang mengolaborasikan pendidikan berbasis orang tua, guru di sekolah, dosen di kampus, masyarakat, dan dunia usaha dan dunia industry (DUDI) pada kampus kehidupan. Upaya sinergis ini tentu akan berdampak sangat baik untuk menyiapkan generasi emas Indonesia 2045 yang tangguh, berkarakter, bermental baja, tidak mudah menyerah, tidak mudah putus asa, berintegritas, kreatif, kritis,inovatif, komunikatif, kolaboratif, produktif, dan inspiratif. Ruang gerak yang berdampak guru & dosen abad XXI, pemerintah pusat dan daerah, DUDI, sangat ditunggu agar dapat menjadi mediator dan inisiator untuk mewujudkan pendidikan kolaboratif yang diimpi-impikan oleh seluruh rakayat Indoensia.
Mimpi dan imajinasi lebih kuat dari pengetahuan kita. Hal ini bukan hal yang mudah untuk merealisasikannya. Fakta dan data empirik yang ditemukan dalam dunia pendidikan sejak Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Merdeka, 17 Agustus 1945 sampai sekarang 17 Maret 2026 (saat penulis menulis artikel ini) masih banyak yang harus diperbaiki dengan rumus 5M: (1) mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan Pendidikan di Indonesia; (2) merencanakan aneka program unggulan pendidikan yang realistis; (3) melaksanakan aneka program unggulan pendidikan yang realistis dan berdampak untuk semua masyarakat NKRI; (4) mengevaluasi semua program unggulan pendidikan yang berdampak, kinerja guru, dan dosen di seluruh wilayah NKRI; dan (5) menindaklanjuti secara cepat dan tepat sasaran berdasarkan semua hasil evaluasi dan audit yang dilakukan setiap tahun untuk meningkatkan kualitas dan akses pendidikan di Indonesia. Peran guru, dosen, pemerintah pusat dan daerah, DUDI untuk mewujudkan pendidikan kolaboratif ini akan sangat penting dan dinantikan hasilnya oleh seluruh masyarakat NKRI hari ini, besok, dan yang akan datang.
Dengan demikian, pola pendidikan yang dibangun pada ranah keluarga, sekolah, dan masyarakat akan tampak hasilnya secara utuh dan merata bagi seluruh Masyarakat NKRI. Kalau pun ada yang kurang itu hal yang wajar dan manusiawi sehingga kita terus evaluasi untuk terus berbenah dan memperbaiki diri bersama anak-anak kita. Kunci utama gunakan hati dan kelembutan dalam mendidik anak-anak kita, karena sebenarnya tidak ada satu manusia pun yang mau dihardik atau dibentak-bentak dengan kasar, disalahkan, dianggap kurang, dianggap miskin, dianggap tidak mampu. Dengan demikian, sebagai guru dan dosen abad XXI agar dirindukan sepanjang hayat oleh murid dan mahasiswa kita maka jadilah fasilitator dan teman belajar murid dan mahasiswa sebagai orang tua kedua bagi mereka di sekolah dan masyarakat. Guru dan dosen abad XXI harus mulai bergerak mengolaborasikan Pendidikan kolaboratif Bersama orang tua, Masyarakat, Dudi, dan pemerintah pusat dan daerah secara sinergis, berkesinambungan, dan berkelanjutan untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat.
Akhirnya, di akhir bulan Ramadhan ini segala kekurangan dan kesalahan penulis bersama Keluarga Besar Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra (DIKLISA) mohon dimaafkan lahir dan batin. Dengan tulus ikhlas, penulis mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita dipertemukan kembali dalam waktu dan gelombang yang berbeda dengan semangat belajar dan membelajarkan diri sepanjang hayat untuk terus berliterasi dengan Ratulisa bersama Diklisa sepanjang masa.
“Berkatalah lembut dan sabar dengan senyum ikhlas dari hati (senyum 228) maka setiap orang akan selalu menyambutmu dengan ceria dan menyenangkan hati sebagai wujud implementasi pendidikan karakter dalam multikonteks kehidupan”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 17 Maret 2026
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mengikuti kegiatan Parents Day dengan tema “Reuse, Membuat Hiasan Bunga ...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...

Tidak ada komentar: