SMA Negeri 1 Wonogiri Gelar Kokurikuler Membatik, Tanamkan Cinta Budaya dan Kemandirian Siswa

Print Friendly and PDF

Siswa saat mengikuti proses membatik.

SMA Negeri 1 Wonogiri Gelar Kokurikuler Membatik, Tanamkan Cinta Budaya dan Kemandirian Siswa

WONOGIRI – majalahlarise.com - SMA Negeri 1 Wonogiri menyelenggarakan kegiatan kokurikuler membatik sebagai bagian dari penguatan karakter dan pelestarian budaya Jawa. Program ini diikuti sebanyak 430 siswa kelas X dan dilaksanakan bekerja sama dengan Batik Kalimosodo, pengrajin batik lokal Wonogiri.

Kepala SMA Negeri 1 Wonogiri, Drs. Susilo Joko Raharjo, M.Pd, saat ditemui di ruang kerjanya, menyampaikan kegiatan membatik menjadi bagian dari branding sekolah sebagai sekolah yang menjunjung nilai-nilai budaya luhur.

“Kami mengemban amanah dengan berbagai branding sekolah. Salah satu branding kami adalah sekolah yang menerapkan nilai-nilai budaya luhur. Melalui membatik, anak-anak belajar menghargai karya adiluhung para pendahulu, khususnya tradisi menggambar, nyanting, hingga proses pewarnaan,” tuturnya.

Ia menjelaskan, kegiatan ini juga menjadi ruang pembentukan karakter siswa. Selain melatih ketekunan dan kesabaran, membatik mampu menumbuhkan rasa percaya diri ketika siswa berhasil menghasilkan karya sendiri.

“Ketika mereka memiliki karya yang bagus, itu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus karakter cinta budaya nasional, khususnya budaya Jawa. Anak-anak merasa bangga karena karya itu akan menjadi seragam kebanggaan sekolah,” jelasnya.


Menurut Susilo, kegiatan kokurikuler membatik merupakan pengembangan dari program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang sebelumnya dijalankan. Sesuai instruksi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kegiatan tersebut kini dirangkum dalam bentuk kokurikuler.

Selama enam hari, para siswa menjalani seluruh tahapan membatik, mulai dari mendesain pola, mencanting, membuat remekan, mewarnai, mengunci warna dengan water glass, hingga proses pelorotan lilin melalui perebusan.

“Kami melihat proses berjalan bagus. Anak-anak terikat, fokus, tetapi tetap merasa enjoy. Bahkan pihak Batik Kalimosodo juga mengapresiasi karena siswa terlihat tekun dan tidak merasa tertekan,” ungkapnya.

Ke depan, sekolah berencana mengembangkan motif dengan variasi berbeda. Jika tahun ini menggunakan pola standar, tahun mendatang akan dikenalkan motif lain seperti parang dan variasi khas lainnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Dyah Retno Purwaningsih, S.Pd, menguraikan kegiatan diawali dengan sosialisasi ke kelas-kelas serta pengenalan contoh kain hasil tahun sebelumnya. Guru menyiapkan pola dasar yang kemudian dikembangkan siswa dalam kelompok berisi enam orang.

“Anak-anak bekerja dalam satu kelompok dengan bentangan kain sepanjang 10 meter. Mereka belajar menempatkan pola kertas A3 di atas kain secara proporsional, lalu bergantian menyelesaikan pola hingga semua kain dalam kelompok terselesaikan,” jelasnya.

Untuk perlengkapan, siswa diberi kebebasan menyediakan canting, malam, dan kompor secara mandiri atau melalui Batik Kalimosodo. Sekolah melalui dana BOS menyediakan pewarna dan water glass agar warna seragam.

Tahap mencanting menjadi pengalaman berkesan bagi siswa. Meski sempat terjadi kepanikan saat terkena tetesan malam panas, guru segera memberikan edukasi penanganan pertama dengan mengaliri air selama 30 menit sebelum diolesi salep.

“Anak-anak jadi belajar mengatasi kepanikan. Mereka tahu risikonya kecil dan bisa diatasi. Itu juga bagian dari pembelajaran,” katanya.

Setelah proses pewarnaan dan penguncian warna, siswa merebus kain untuk melorotkan lilin. Sekolah bahkan menyewa toren air dari PDAM untuk memperlancar proses pencucian, mengingat kebutuhan air cukup besar.

Dyah menambahkan, sekolah juga memperhatikan dampak lingkungan. Limbah air rebusan tidak dibuang sembarangan, tetapi ditampung semalam agar sisa lilin mengendap sebelum dibuang.

“Kami sudah diedukasi sejak tahun lalu agar limbah aman dan tidak menyumbat saluran air. Jadi ada prosedur khusus yang harus diikuti,” terangnya.

Rencananya, setelah Ramadan, siswa kelas X akan mulai mengenakan batik hasil karya mereka sendiri sebagai seragam sekolah. Setiap kain telah diberi nama sejak awal proses sehingga tidak tertukar.

Menurut Dyah, kegiatan ini menjadi solusi positif di tengah kebijakan sekolah yang tidak lagi mengadakan pengadaan seragam. Siswa belajar mandiri menyiapkan seragamnya sekaligus memperoleh pengalaman langsung dari awal hingga akhir proses produksi.

“Ini bukan sekadar pelajaran teori. Anak-anak mengalami sendiri, dari desain sampai jadi. Itu sangat memorable. Bahkan banyak yang membagikan prosesnya di media sosial karena merasa bangga,” ujarnya.

Ia berharap, pengalaman membatik dapat menjadi kecakapan hidup bagi siswa, baik sebagai hobi maupun peluang usaha di masa depan.

“Di sini tidak harus nilai matematika atau fisika yang menonjol. Anak-anak yang mungkin kurang termotivasi di kelas justru terlihat tekun dan bertanggung jawab saat membatik. Ini ruang mereka untuk bersinar,” pungkasnya. (Sofyan)


Baca juga: ASBF Wonogiri dan Klinik Asy Syifa Gelar Tebus Sembako Murah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Jelang Ramadhan 1447 H


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top