Pelaksanaan Ko-Kurikuler di SMPN 1 Eromoko Dirasakan Positif, Bentuk Karakter dan Kreativitas Siswa

Print Friendly and PDF

Siswa SMPN 1 Eromoko saat mengikuti senam sehat bersama.


Pelaksanaan Ko-Kurikuler di SMPN 1 Eromoko Dirasakan Positif, Bentuk Karakter dan Kreativitas Siswa

Wonogiri — majalahlarise.com - Pelaksanaan kegiatan ko-kurikuler di SMP Negeri 1 Eromoko dirasakan membawa dampak positif bagi siswa maupun guru. Program yang dilaksanakan secara terstruktur ini mampu menumbuhkan kebiasaan baik, memperkuat karakter, serta mendorong kreativitas peserta didik melalui pembelajaran berbasis proyek.

Kepala SMP Negeri 1 Eromoko, Susanto, saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (7/2/2026), menjelaskan pelaksanaan ko-kurikuler mengacu pada regulasi yang telah ditetapkan pemerintah dengan pengalokasian waktu khusus dalam tatap muka pembelajaran.

“Sesuai regulasi yang ada, kami mengalokasikan waktu tersendiri dalam pembelajaran tatap muka. Untuk mata pelajaran wajib sudah memiliki alokasi kurikuler yang jelas, kemudian kami sebar dalam satu minggu,” ujar Susanto.

Pembiasaan mengaji bersama-sama.


Ia menguraikan, selain pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran dan penguatan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, sekolah juga menerapkan proyek kolaboratif antar mata pelajaran. Proyek tersebut dilaksanakan setiap hari Jumat dengan alokasi lima Capaian Pembelajaran (CP) yang digunakan penuh selama satu hari.

“Untuk Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dilaksanakan setiap pagi mulai Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Sabtu. Sementara proyek kolaborasi antar mata pelajaran kami laksanakan hari Jumat,” tuturnya.

Menurut Susanto, pelaksanaan ko-kurikuler secara terpisah dari kegiatan intrakurikuler membuat proses pendidikan terasa lebih tertata dan nyaman dibandingkan sebelumnya. Regulasi yang kini lebih jelas membantu sekolah dalam mengelola gerak pembelajaran dan aktivitas siswa secara menyeluruh.

“Dulu antara intrakurikuler dan ko-kurikuler masih bercampur. Sekarang terlihat lebih jelas, tertata, dan pelaksanaannya bisa saling mendukung,” jelasnya.

Pembiasaan sarapan bagi pada siswa.


Dampak positif juga mulai terlihat pada perubahan perilaku dan karakter siswa. Susanto mencontohkan pembiasaan kegiatan keagamaan seperti salat Dhuha yang dilaksanakan setiap Kamis.

“Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan, kecuali siswa perempuan yang sedang berhalangan. Untuk siswa nonmuslim, sekolah tetap memberikan ruang dan pendampingan sesuai keyakinan masing-masing,” katanya.

Ia menilai kebiasaan-kebiasaan baik tersebut mulai membentuk karakter siswa menjadi lebih tertib, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial. Selain itu, guru dan siswa juga terdorong untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan kelas.

“Anak-anak tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga berekspresi dan mengalami langsung proses pembelajaran. Ini menjadi aplikasi nyata pendidikan,” ungkapnya.

Susanto berharap ke depan target pembelajaran, khususnya yang berkaitan dengan profil lulusan, dapat semakin dipertajam sehingga benar-benar melekat pada diri siswa setelah lulus. Ia juga meyakini kurikulum ini akan terus berkembang dengan inovasi yang tidak selalu menuntut biaya besar.

“Yang penting inovatif dan membekas bagi anak. Saya berharap kebijakan ini tetap dipertahankan pemerintah agar sekolah memiliki persepsi yang sama, meski bentuk dan variasi kegiatan bisa berbeda,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Kelas 8, Ita Purnama Sari, didampingi Koordinator Kelas 9 Tatik Haryati dan Koordinator Kelas 7 Yeni Oktianingsih, memaparkan pelaksanaan ko-kurikuler berbasis proyek diawali dengan proses identifikasi kondisi siswa dan lingkungan sekolah.

“Dalam setiap kegiatan, kami awali dengan melihat kondisi anak dan lingkungan. Contohnya proyek bertema lingkungan dengan judul Taman Kelasku, Paru-Paru Sekolahku,” ujar Ita.

Ia menjelaskan, proyek tersebut dilatarbelakangi kondisi taman sekolah yang kurang tertata. Melalui kegiatan tersebut, setiap kelas merancang, menata, dan memperindah taman kelasnya masing-masing melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

Selain proyek lingkungan, kegiatan ko-kurikuler setiap Jumat juga diisi dengan literasi, hidup sehat, olahraga, konsumsi makanan sehat, hingga kegiatan outbound yang berorientasi pada penguatan fisik dan karakter siswa.

“Semua kegiatan berbasis proyek. Dampaknya mulai terlihat, anak lebih bugar, lebih suka berolahraga, dan kepedulian terhadap kesehatan meningkat,” jelasnya.

Menurut Ita, kegiatan seperti penataan taman juga melatih siswa untuk rapi, peduli lingkungan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab yang berkelanjutan.

“Setelah membuat taman, anak-anak punya tanggung jawab menjaga dan merawatnya. Ini melatih kemandirian dan tanggung jawab,” katanya.

Ia menambahkan, dalam beberapa kesempatan siswa mampu menjalankan kegiatan secara mandiri meski tanpa pendamping wali kelas karena keterbatasan jumlah guru.

“Anak-anak tetap bekerja dengan baik, tamannya jadi bagus. Ini menunjukkan karakter tanggung jawab sudah mulai tumbuh,” pungkasnya. (Sofyan)


Baca juga: SD Muhammadiyah PK Banyudono Gelar Super Outing Class ke Singapura–Malaysia, Perkuat Pembelajaran Global Siswa


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top