GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Merajut Komunikasi yang Baik dan Santun bagi Guru dan Dosen Agar Tidak Memantik Kekerasan di Sekolah dan Kampus dalam Perspektif Pragmatik
Merajut Komunikasi yang Baik dan Santun bagi Guru dan Dosen Agar Tidak Memantik Kekerasan di Sekolah dan Kampus dalam Perspektif Pragmatik
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum. |
"Kawan, cerita menjadi kenangan yang tidak akan lekang oleh waktu kala senja menuju ke peraduannya tanpa sua dalam selimut kabut yang indah memesona sepanjang masa”
Peristiwa pengeroyokan siswa terhadap salah satu guru bahasa Inggris di SMKN Tanjung Jabung Jambi merupakan berita yang sangat mengejutkan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Peristiwa ini sangat memalukan sekaligus sebagai bahan refkleksi bagi semua pihak, siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dinas pendidikan, dosen, perguruan tinggi, pengambil kebijakan, Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, dan seluruh masyarakat Indonesia. Salah siapakah peristiwa ini? Guru, siswa, kepala sekolah, orang tua, masyarakat, atau bahkan dosennya waktu kuliah di kampus dahulu? Hal ini menjadi topik yang harus didiskusikan dan dibahas auntuk menemukan solusi terbaik untuk mengatasi darurat kekerasan di sekolah dan kampus yang terjadi selama ini. Evaluasi semua aspek perangkat pendidikan pada jenjang sekolah dasar, menengah, dan tinggi menjadi sangat penting untuk dilaksanakan sebagai langkah praktis yang dapat dilakukan untuk segera menentukan tindak lanjutnya.
Ujaran yang dilontarkan oleh salah satu siswa SMK N di Jambi, sesuai pengakuannya pada salah satu media online “Woi, diam!” ternyata memiliki daya lokusi dan perlokusi yang sangat kuat bagi lawan tutur yang mendengarnya. Berdasarkan konteks situasi saat itu, sesuai pengakuan penutur yang berada dalam satu kelas setelah selesai pembelajaran. Namun demikian ternyata kekuatan ujaran tersebut berdampak sampai ke luar kelas yang menjadi pemantik salah satu guru (yang dalam ceritanya terus dikeroyok oleh siswa SMKN tersebut) masuk kelas dan melakukan aksi penamparan (sesuai pengakuan siswa yang ditampar). Terlepas siapa yang benar dan yang salah sebenarnya, konteks tuturan dan peristiwa ini tentu tidak hanya ada pada satu konteks peristiwa saat itu saja. Peristiwa ujaran yang disampaiakn siswa tersebut kemudian meyulut lawan tutur (salah satu guru yang masuk kelas) tentu memiliki kekuatan tutur yang sangat luar biasa sehingga dapat mendorongnya untuk masuk kelas menemui si penutur siswa ini dan kemudian terjadilah peristiwa pengeroyokan siswa terhadap guru tersebut. Merujuk peristiwa tutur tersebut berarti ada konteks pengalaman Bersama antara penutur dengan lawan tutur sehingga terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan tersebut. Dalam perspektif pragmatik, ujaran “Wou diam!” ini memiliki implikatur yang ingin disampaikan oleh siswa kepada yang dituju, apakah teman-temannya di kelas atau salah satu gurunya yang di dalam kelas atau luar kelas, atau partisipan lain. Hal ini hanya penutur dan guru yang tahu dengan segala kejujuran di dalam hatinya. Namun demikian, dalam perspektif pragmatik bahwa peristiwa ini terjadi pasti ada sebab akibat sebagai konteks yang melatarbelakanginya dan seharusnya tidak perlu terjadi apabila semua pihak, yakni guru dan siswa dapat menahan kesabaran dan dapat mengendalikan emosi dan hawa nafsunya.
Peran penting guru di dalam kelas dan luar kelas untuk mendidik, membimbing, dan menjadi teman pembelajaran dan diskusi menjadi sangat penting untuk dapat membentuk karakter siswa yang baik dan berkarakter. Guru memiliki kekuatan ujaran yang sangat berarti di telinga siswanya. Setiap kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan bahkan wacana akan didengarkan dan dipatuhi oleh seluruh siswanya. Dalam konteks pembelajaran, guru sebagai manajer pembelajaran di kelas memiliki kekuasaan penuh untuk dapat menyiapkan, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan menindaklanjuti kegiatan belajar dan membelajarkan diri seluruh siswanya. Proses belajar dan membelajarkan diri bagi siswa dengan menggunakan media apa, metode apa, sarana dan prasarana apa tentu akan dapat diputuskan dan dieksekusi oleh gurunya. Oleh karena itu, guru memiliki kekuatan yang sangat luar biasa di dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan siswanya seperti orang tuanya. Hanya pada kasus-kasus tertentu, guru harus memilih dan memilah teknik dan cara tertentu karena siswa yang dihadapinya berbeda karakter dan perilakunya.
Dosen sebagai pendidik di perguruan tinggi yang menyiapkan calon guru pada pendidikan dasar, menengah, dan tinggi juga harus dapat menjadi teladan dalam proses belajar dan membelajarkan diri bagi mahasiswanya. Proses pembentukan karakter mahasiswa FKIP, STKIP, Tarbiyah, Institut Pendidikan, dan sejenisnya yang menyiapkan calon guru dan dosen harus benar-benar memilih dan memilah teknik dan strategi yang tepat. Hal ini sebagai modal dasar untuk dapat menyiapkan calon guru dan dosen abad XXI yang tangguh, berkarakter, cerdas, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratif. Komitmen dosen abad xxi untuk dapat menyiapkan guru-guru dan dosen abad xxi harus dimulai dengan memberikan pondasi dasar 5M: (1) meluruskan niat untuk ibadah sebagai guru dan dosen, (2) mengenali hakikat guru dan dosen yang sesungguhnya, (3) membelajarkan diri dengan literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) dan belajar Bersama komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa dan Sastra) sepanjang hayat sebagai guru dan dosen, (4) mengembangkan kompetensi diri sebagai guru dan dosen abad XXI terus-menerus sesuai perkembangan zaman, (5) mendoakan peserta didik dan mahasiswa sepanjang hayat. Kelima M tersebut akan menjadi landasan dasar untuk dapat menguatkan kompetensi hardskill dan softskill mahasiswa sebagai calon guru dan dosen abad xxi yang hebat luar biasa dengan segala keunggulnnya.
Berdasarkan peran dan fungsi guru dan dosen abad XXI di atas tentu harus ada kolaborasi antara guru dan dosen abad xxi untuk dapat menyiapkan calon guru dan dosen abad XXI. Hal ini sebagai langkah nyata dan praktis agar tidak terulang lagi peristiwa darurat kekerasan di sekolah dan kampus seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Peristiwa darurat kekerasan di sekolah dan kampus harus dihentikan dan bahkan dihilangkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Proses penyembuhan darurat kekerasan di sekolah dan kampus tidak dapat dilakukan sepihak. Oleh karena itu diperlukan kerja kolaboratif dan gotong royong semua pihak. Kolaborasi antara orang tua, guru, siswa, kepala sekolah, dinas pendidikan, pemangku kepentingan, dan seluruh masyarakat Indonesia sangat penting untuk dapat merealisasikannya. Hal ini sebagai bentuk kepedulian dan upaya kita untuk dapat memahami semua aspek konteks dalam komunikasi pragmatik anatara lain: penutur, lawan tutur, konteks tuturan, sarana tutur, tujuan tuturan, dan situasi tutur yang menyertai tuturan yang terjadi. Dengan proses pembelajaran dan pemahaman konteks tuturan dalam berkomunikasi, baik individu dengan individu atau individu dengan kelompok, atau bahkan kelompok dengan kelompok di dalam masyarakat pastilah akan terjadi kedamian dan kenyamanan. Semua proses komunikasi yang baik, snatun, damai, nyaman, dan menyenangkan sebagai bukti tidak terjadi kegagalan pragmatik dalam berkomunikasi sehai-hari.
Guru, siswa, dosen, mahasiswa, kepala sekolah, dekan, rektor, kepala dinas, dirjen GTK, orang tua, menteri, bupati, gubernur, dan masyarakat harus dapat mengambil kebijakan dan menanamkan kembali pilar-pilar berkomunikasi yang baik dan santun dalam segala konteks tuturannya. Kekuatan tuturan memiliki ketajaman seperti mata pisau yang siap mengiris dan merobek-robek objeknya apabila tidak digunakan secara tepat. Oleh karena itu, seluruh masyarakat NKRI harus belajar dan membelajarkan pragmatik serta implementasinya secara bertahap dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terjadi kegagalan pragmatik dalam berkomunikasi kepada siapa pun di mana saja dan kapan saja. Selamat belajar dan mencoba dalam multikonteks kehidupan kebhinekaan di NKRI.
“Mimpi dan imajinasi lebih kuat dari pengetahuan kita maka wujudkan mimpi dan imajinasimu dengan menuliskan, meyakini, memperjuangkan, dan bertawakan kepada pemiliki semesta yang maha segalanya”
Istana Arfuzh Ratulisa dan DIKLISA Surakarta, 20 Januri 2026
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...

Tidak ada komentar: