Menjaga Irama Mimpi: Perjalanan Karier RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono Merawat Musik dari Hati

Print Friendly and PDF

RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono

 


Menjaga Irama Mimpi: Perjalanan Karier RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono Merawat Musik dari Hati

Solo- majalahlarise.com - Di sebuah rumah sederhana di kawasan Pura Mangkunegaran Keprabon, Banjarsari, Surakarta, musik tidak hanya berbunyi sebagai hiburan. Dari alamat di Jalan RA Kartini No. 20 itu, lahir ruang pembelajaran, panggung mimpi, dan perjalanan panjang seorang penggiat musik bernama RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono, owner Kursus Musik West Brother Solo.

Bagi Haryo, musik bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup yang ditempa oleh pengalaman, kegagalan, dan keteguhan untuk terus bertahan.

Tumbuh Bersama Musik Sejak Remaja

Ketertarikan Haryo pada musik bersemi sejak masa SMP, sekitar tahun 1997. Saat itu, ia bersama teman-temannya mendapat satu set alat musik yang menjadi awal terbentuknya band kecil.

“Saya main musik sejak SMP. Waktu itu kami dapat satu set alat musik pemberian KGPAA Mangkoenagoro IX, lalu bikin grup bareng teman SMP, adik, dan saudara,” tutur Haryo.

Bakat tersebut mengantarkannya mengikuti festival band dan cipta lagu di akhir 1990-an. Bahkan, band yang ia jalani sempat meraih penghargaan cipta lagu terbaik dan dilirik label rekaman nasional.

“Waktu itu kami sampai diajak makan malam dan ditawari garap album. Tapi karena mental masih anak SMA, justru muncul masalah internal dan akhirnya pecah,” ujarnya mengenang.

Persinggahan Dunia Hiburan dan Kegagalan Bisnis

Setelah lulus SMA sekitar tahun 2000, Haryo sempat mencicipi bangku kuliah, meski tidak sampai selesai. Tawaran dunia hiburan justru datang lebih cepat. Ia terlibat dalam proyek sinetron dan film bersama sejumlah pelaku industri hiburan nasional.

“Sempat main film, walaupun akhirnya cuma sampai lima episode karena perusahaan produksinya bermasalah. Tapi dari situ saya dapat pengalaman dan fee,” katanya.

Honor tersebut ia kumpulkan dan putar menjadi modal usaha batik. Bahkan, ia sempat menjadi pemasok tunggal di salah satu toko batik di Jakarta. Namun, musibah banjir besar Jakarta pada 2002 membuat seluruh aktivitas usaha terhenti.

“Di situ saya benar-benar merasakan gagal besar untuk pertama kalinya. Perputaran ekonomi berhenti total,” ungkapnya.

Kembali ke Musik dan Lahirnya West Brother

Di tengah kebingungan, musik kembali hadir. Pertemuan dengan teman SMP pada 2002 menjadi titik balik. Dari rumah keluarga di kawasan Mangkunegaran, Haryo membentuk band West Brother bersama kakak, adik, dan sahabatnya.

Awalnya, mereka membuka usaha rental PlayStation. Ruang kosong di belakang dimanfaatkan sebagai studio latihan band.

“Ternyata studionya ramai sekali. Sabtu bisa sampai 14 grup latihan, meski sewanya masih sepuluh ribu per jam,” ujarnya sambil tersenyum.

Studio kecil itu kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas musik anak muda.

Kursus Musik dari Sebuah Penolakan

Keinginan Haryo untuk belajar piano sempat mendapat respons yang justru menjadi pemantik semangat.

“Ayah saya bilang, ‘umurmu sudah tidak produktif, rasanya nggak usah belajar lagi’. Dari situ saya malah terpacu,” tuturnya.

Ia tetap belajar secara mandiri hingga bertemu seorang guru musik yang memberikan ide membuka kursus musik.

“Guru saya malah bilang, ‘Mas kan punya studio, kenapa nggak sekalian dibuka kursus musik?’ Dari situ saya kepikiran,” katanya.

Tahun 2003, ruang studio ditata ulang menjadi kelas drum, gitar, dan piano. Kursus musik West Brother pun resmi berjalan, meski dengan promosi sederhana.

“Awalnya promosi cuma lewat brosur, spanduk, dan acara tujuh belasan. Belum ada media sosial seperti sekarang,” jelasnya.

Bangkit Lewat Event Kreatif

Tahun 2004, godaan kembali datang lewat tawaran rekaman dari sebuah production house Jakarta. Namun, tawaran itu kembali berujung kekecewaan.

“Waktu itu kami sudah sampai Jakarta, jadwal rekaman sudah ada, tapi ternyata penipuan. Kami down lagi,” ucap Haryo.

Meski demikian, ia memilih bangkit lewat kreativitas. Salah satunya dengan menggelar konser ensemble 11 drum, sebuah konsep yang kala itu jarang dilakukan.

“Saya bikin 11 drum akustik dimainkan bareng murid-murid. Itu bikin orang mulai melirik lagi,” katanya.

Ia juga terlibat dalam pembentukan Orkestra Remaja Surakarta (Oriska) yang mendapat dukungan pemerintah kota dan membuka kembali ruang eksistensi West Brother.

Bertahan dengan Konsistensi

Memasuki 2008–2009, industri musik lokal mulai terdesak oleh brand nasional dan musisi besar. Haryo memilih strategi bertahan dengan event kecil namun rutin.

“Daripada bikin acara besar tapi cepat hilang, saya pilih bikin acara kecil tapi sering. Itu lebih sustainable,” ujarnya.

Roadshow mingguan ke pusat perbelanjaan, panggung Jumat, Sabtu malam, hingga Minggu terus dijalankan.

Meramu Akademisi dan Rasa

Kini, West Brother Solo berkembang sebagai ruang belajar yang memadukan akademisi dan praktisi.

“Saya berangkat dari otodidak. Di sini pengajarnya ada lulusan ISI, ada juga praktisi. Musik akademis itu penting, tapi rasa dan hati juga nggak boleh hilang,” jelasnya.

Hingga 2025, West Brother Solo tetap konsisten. Setiap tahun digelar konser besar yang melibatkan sekitar 300 peserta didik, sementara panggung-panggung kecil terus berjalan setiap pekan.

“Merawat itu jauh lebih susah daripada memulai. Tapi justru di situ nilai perjuangannya,” pungkas Haryo.

Di West Brother Solo, musik terus hidup dirawat dengan kesabaran, konsistensi, dan keyakinan bahwa mimpi akan selalu menemukan panggungnya. (Sofyan)


Baca juga: Kelas Motivasi BK SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo, Praktisi Event Musik Ajak Siswa “Rock Your Career”


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top