Mahasiswa PBSD Univet Bantara Sukoharjo Pentaskan Ketoprak “Kidung Tlatah Serang” sebagai UAS

Print Friendly and PDF

Pergelaran ketoprak Mahasiswa semester lima Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo.


Mahasiswa PBSD Univet Bantara Sukoharjo Pentaskan Ketoprak “Kidung Tlatah Serang” sebagai UAS 

Sukoharjo – majalahlarise.com - Mahasiswa semester lima Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menggelar pergelaran ketoprak sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) gasal tahun akademik 2025/2026 mata kuliah teater tradisional jawa. Pergelaran seni tradisi tersebut berlangsung di Taman Budaya Suryani, Sukoharjo, Jumat (23/1/2026), sejak pukul 20.00 WIB hingga sekitar pukul 22.30 WIB.

Ketoprak berjudul “Kidung Tlatah Serang” ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi akademik, tetapi juga dimaknai sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Melalui pementasan ini, mahasiswa diharapkan mampu mempraktikkan pembelajaran seni, sastra, dan budaya secara langsung di ruang publik.

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FKIP Univet Bantara, Adi Deswijaya, SS, M.Hum, mengatakan pergelaran ketoprak tersebut dirancang sebagai pembelajaran kontekstual yang menyeluruh.


“Pergelaran ketoprak ini tidak hanya untuk memenuhi kewajiban UAS, tetapi menjadi media pembelajaran nyata agar mahasiswa mampu mengaplikasikan teori sastra, seni pertunjukan, dan kebudayaan secara langsung di tengah masyarakat,” ujar Adi Deswijaya.

Ia menjelaskan, mahasiswa dilatih untuk memahami proses kreatif secara utuh, mulai dari pengolahan naskah, pendalaman karakter, pengelolaan panggung, hingga komunikasi dengan penonton.

“Mahasiswa PBSD harus memiliki kepekaan budaya dan sosial. Dengan tampil di ruang publik, mereka belajar berinteraksi, berkolaborasi, sekaligus bertanggung jawab atas karya yang disajikan kepada masyarakat,” tuturnya.

Adi Deswijaya juga menguraikan pergelaran ini sekaligus menjadi sarana sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah untuk tahun ajaran gasal 2026/2027.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa PBSD bukan hanya belajar teori di kelas, tetapi juga aktif melestarikan seni tradisi dan sejarah lokal melalui praktik langsung,” jelasnya.

Seluruh pemeran dalam lakon “Kidung Tlatah Serang” merupakan mahasiswa PBSD semester lima. Sementara itu, mahasiswa dari adik tingkat dilibatkan sebagai panitia dan pendukung teknis di balik layar, seperti tata panggung, rias dan busana, properti, hingga dokumentasi kegiatan.

Pergelaran ini mendapat perhatian dan dukungan penuh dari lingkungan fakultas. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan II dan Wakil Dekan III FKIP, Ketua Program Studi PBSD, para dosen PBSD, serta dosen lintas program studi seperti Matematika, TIK, dan program studi lainnya di lingkungan FKIP Univet Bantara.

Naskah lakon “Kidung Tlatah Serang” ditulis oleh Panggah Rudita. Cerita mengangkat kondisi Kadipaten Serang yang mengalami kekacauan sosial dan politik setelah ditinggal selama tiga tahun oleh tokoh perempuan pejuang, Nyi Ageng Serang, yang turut berjuang dalam Perang Diponegoro.

Lakon ini menggambarkan wilayah gerilya Nyi Ageng Serang yang meliputi Purwodadi, Grobogan, Pati, Kudus, hingga Demak. Dengan strategi kamuflase Godhong Tales atau lumbu, pasukan Bregada Semut Ireng yang dipimpinnya berhasil menekan kekuatan VOC di bawah pimpinan Jenderal De Kock.

Dalam cerita tersebut juga digambarkan bagaimana Nyi Ageng Serang tetap memimpin perjuangan meskipun dalam kondisi sakit.

“Nilai keteladanan Nyi Ageng Serang menjadi pesan utama dalam lakon ini, yakni semangat perjuangan, keberanian, dan keteguhan hati dalam membela rakyat, meski di tengah keterbatasan,” ujar Adi Deswijaya.

Konflik internal perjuangan turut mewarnai alur cerita, terutama perselisihan antara Kyai Mojo dan Pangeran Diponegoro yang berdampak pada bocornya sejumlah strategi perang. Penderitaan rakyat Serang semakin tergambar melalui tokoh Joned, prajurit telik sandi yang menyaksikan langsung tekanan ekonomi berupa pajak berat yang harus ditanggung rakyat akibat kolaborasi priyayi pribumi dengan kolonial Belanda.

Lakon ini menutup kisahnya dengan pesan simbolik tentang perlawanan yang terpendam, tersirat dalam ungkapan Jawa, “Api di dalam sekam, menyala-nyala dalam diam.” Kidung Tlatah Serang digambarkan sebagai nyanyian pedih rakyat Serang, sebuah kesaksian sejarah yang kini seolah hanya dapat didengar gaungnya dari balik Waduk Kedung Ombo. (Sofyan)


Baca juga: Pelatihan Hypnoselling di Solo Ajarkan NLP dan Storytelling untuk Dongkrak Penjualan


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top