GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Ayam Geprek Mas Iwan Timur Univet Bantara Sukoharjo, Dari Warung Sederhana hingga Jadi Langganan Mahasiswa dan Ibu-Ibu
![]() |
| Warung Ayam Geprek Mas Iwan. |
Ayam Geprek Mas Iwan Timur Univet Bantara Sukoharjo, Dari Warung Sederhana hingga Jadi Langganan Mahasiswa dan Ibu-Ibu
Sukoharjo - majalahlarise.com - Di sisi timur Kampus Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, aroma sambal pedas kerap menguar menggoda selera. Dari warung sederhana itulah, Ayam Geprek Mas Iwan tumbuh menjadi salah satu kuliner favorit, terutama di kalangan mahasiswa.
Mas Iwan, pemilik usaha, menuturkan perjalanan bisnisnya bermula dari niat yang sangat sederhana. Awalnya, ia hanya ingin membuka warung makan biasa. Namun, pilihan jatuh pada menu ayam geprek, nasi tempong, dan ayam gepuk menu yang lekat dengan keseharian mahasiswa.
“Dulu itu kepikiran buka warung makan saja. Yang penting ada ayam geprek. Soalnya ayam itu sudah jadi makanan harian mahasiswa,” ujar Mas Iwan saat ditemui di warungnya.
Keputusan memilih ayam geprek bukan tanpa pertimbangan. Menurut Mas Iwan, meski kuliner pedas sudah menjamur, tetap ada pasar besar bagi penikmat rasa pedas, terutama mahasiswa yang mencari makanan praktis, mengenyangkan, dan ramah di kantong.
![]() |
| Menu nasi ayam geprek sambel bawang. |
.
Di tengah persaingan ketat kuliner ayam geprek, Mas Iwan sadar setiap usaha harus memiliki ciri khas. Ia mengakui, dari sisi rasa, ayam geprek hampir serupa satu sama lain. Sambalnya pun beragam, mulai sambal bawang hingga sambal tomat. Namun, pembeda utama Ayam Geprek Mas Iwan justru terletak pada layanan.
“Ciri khas saya itu free delivery harian di area kampus,” ungkapnya.
Melalui pesan singkat atau pengumuman dari pengeras suara (PA) kampus, mahasiswa dapat memesan dan makanan langsung diantar. Jika makan di tempat, pelanggan mendapat fasilitas tambah nasi gratis sepuasnya, bahkan minuman pun bisa ditambah tanpa biaya.
Pelayanan ramah dan fleksibel ini membuat Ayam Geprek Mas Iwan cepat dikenal. Sejak mulai beroperasi pada Februari 2020, peminatnya terus bertambah.
Awalnya, Mas Iwan menargetkan mahasiswa sebagai pasar utama. Namun seiring waktu, pelanggannya berkembang.
“Lama-lama malah ibu-ibu yang pesan buat makan pagi. Lewat WhatsApp, pesan terus,” katanya sambil tersenyum.
Kini, pelanggan Ayam Geprek Mas Iwan datang dari berbagai kalangan. Dari mahasiswa, warga sekitar, hingga komunitas yang rutin memesan untuk konsumsi harian.
Mas Iwan menyadari, harga menjadi faktor sensitif di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Ia mematok harga ayam geprek Rp12.000 per porsi, sedikit di atas standar sebagian pesaing.
“Kalau saya di bawah Rp12.000, untungnya terlalu kecil. Kalau di atas itu, rasanya berat di konsumen,” jelasnya.
Strategi ini diambil dengan perhitungan matang, menyesuaikan biaya produksi, kualitas bahan, dan daya beli masyarakat sekitar kampus.
Tak hanya soal harga, inovasi menu juga terus dilakukan. Berawal dari ayam geprek sambal bawang, Mas Iwan kemudian menambah varian saus. Saat minat mulai menurun, ia menghadirkan ayam kocok. Terbaru, sambal matah menjadi andalan baru untuk menjaga minat pelanggan.
“Kalau tidak inovasi, ya kalah. Sekarang orang gampang meniru. Jadi harus terus ada pembaruan,” katanya.
Pesan untuk Pelaku UMKM Kuliner
Sebagai pelaku usaha yang bertahan sejak 2020, Mas Iwan membagikan pesan penting bagi UMKM, khususnya di bidang kuliner.
“Jangan terlalu berekspektasi tinggi dulu. Sekarang pedagang lebih banyak daripada pembeli. Kalau mau terjun, ya harus siap bertarung,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga harga tetap standar, tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal. Fokus utama bukan mencari untung besar dalam sekali jualan, melainkan menjaga perputaran uang agar usaha tetap hidup.
“Mainnya kuantitas. Yang penting uang muter, usaha jalan, dan kontinu,” ujarnya.
Bagi Mas Iwan, konsistensi dan inovasi menjadi kunci bertahan di tengah persaingan. Tanpa dua hal itu, usaha kuliner mudah tumbang meski sempat ramai.
Dari warung sederhana di timur Univet Bantara Sukoharjo, Ayam Geprek Mas Iwan membuktikan, ketulusan dalam pelayanan, keberanian berinovasi, dan pemahaman pasar mampu menjadikan usaha kecil tetap relevan dan dicintai pelanggan. Sebuah kisah kuliner yang bukan hanya soal rasa pedas, tetapi juga tentang strategi dan ketekunan. (Sofyan)
Baca juga: Gelar Karya UAS PBSI FKIP Univet Bantara Tampilkan Media Pembelajaran Inovatif
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...


Tidak ada komentar: