Talk Show “Sinergi Ekosistem Ekspor Indonesia” Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Inovasi

Print Friendly and PDF

Pembicara Prof. Dr. Hasan Abdul Rozak, S.H., C.N., M.M (Ketua ASBF STIE Totalwin / Senior Vice President Organization ASBF Indonesia), Yustinus Dwi Atmojo, S.M. (Chief Executive Regional ASBF Jateng, Founder DnA Entrepreneur, Trader Export), Harry Nuryanto Soediro, S.E., M.M (Ketua Umum Kadin Jawa Tengah), Akir Saputra (Founder GoExport.org, Eksportir Manufaktur), dengan Moderator Dr. Idris, S.E., M.Si (Ketua Inkubator Bisnis KKIB Undip).


Talk Show “Sinergi Ekosistem Ekspor Indonesia” Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Inovasi

Solo — majalahlarise.com - Talk Show bertajuk “Sinergi Ekosistem Ekspor Indonesia” menjadi salah satu sesi paling strategis dalam rangkaian Gathering & Bootcamp DnA Entrepreneur Academy 2025. Acara yang dilaksanakan pada Selasa malam (9/12/2025) di Pedan Ballroom Lantai 2 Sahid Jaya Hotel Solo ini menghadirkan para tokoh nasional di bidang ekspor, wirausaha, organisasi bisnis, dan akademisi.

Sesi ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. Hasan Abdul Rozak, S.H., C.N., M.M (Ketua ASBF STIE Totalwin / Senior Vice President Organization ASBF Indonesia), Yustinus Dwi Atmojo, S.M. (Chief Executive Regional ASBF Jateng, Founder DnA Entrepreneur, Trader Export), Harry Nuryanto Soediro, S.E., M.M (Ketua Umum Kadin Jawa Tengah),  Akir Saputra (Founder GoExport.org, Eksportir Manufaktur), dengan Moderator Dr. Idris, S.E., M.Si (Ketua Inkubator Bisnis KKIB Undip).

Talk show ini dihadiri 200 peserta, mulai dari UMKM, pelaku industri, akademisi, hingga penggiat ekspor dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam paparannya, Harry Nuryanto Soediro menjelaskan pemerintah terus membangun sistem pendukung agar UMKM tidak ragu masuk pasar ekspor. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah anggapan bahwa ekspor harus menggunakan satu kontainer penuh.

“UMKM tidak perlu menunggu satu kontainer penuh. Kita dorong model kolaborasi dengan konsolidator. Produk UMKM bisa digabungkan, seperti praktik di Tiongkok yang mampu mengirim 4–5 kontainer per minggu karena saling mengisi,” ujarnya.

Ia menambahkan di tahun 2026 Jawa Tengah menargetkan terbentuknya hub logistik UMKM yang memudahkan perizinan, sertifikasi, hingga koneksi ke buyer internasional.

Pembicara berikutnya, Prof. Hasan Abdul Rozak, memaparkan bagaimana kampus harus mengambil peran nyata dalam mencetak eksportir muda.

“Lebih dari 83 persen lulusan perguruan tinggi mencari pekerjaan. Kampus harus mengubah orientasi itu. Mahasiswa perlu dipersiapkan menjadi pencipta lapangan kerja,” terangnya.

Sebagai Ketua STIE Totalwin sejak 2013, ia telah menempatkan kampus sebagai Center of Young Creative Entrepreneur. Kurikulum dirancang agar mahasiswa terbiasa menciptakan solusi, melahirkan produk siap industri, menghasilkan riset aplikatif, serta diterjunkan langsung ke desa dalam program Kuliah Kerja Usaha (KKU).

Kampusnya juga aktif berkolaborasi dengan Kadin, ACSB, Telkom, dan berbagai mitra agar inovasi mahasiswa benar-benar terserap industri.

Sesi semakin hidup ketika Yustinus Dwi Atmojo (Mas Yus) berbagi pengalaman uniknya sebagai trader dan penghubung banyak UMKM.

Ia menceritakan UMKM sering terhambat karena terobsesi ingin membuat produk baru, bukan menjual produk yang sudah ada.

“Kalau tidak bisa produksi, ya jadi penjual. Supplier sudah ada, pasar sudah jelas. Jangan takut. Batu harga Rp5.000 bisa terjual 2,5 USD kalau kita tahu caranya,” jelasnya.

Dalam komunitas GoExport.org, ia mendorong UMKM untuk belajar strategi ekspor secara praktis, termasuk bagaimana bernegosiasi, mencari buyer, dan mengelola margin.

Mas Yus panggilan akrabnya menekankan pentingnya motivasi. “Yang hadir malam ini, akui saja kalau belum punya produk. Ambil dari supplier. Yang penting bisa jual dulu. Profit kecil tapi repeat order itu jauh lebih sehat,” ungkapnya disambut tawa peserta.

Sementara itu, Akir Saputra, eksportir yang sukses menjangkau lebih dari 22 negara, membagikan prinsip penting dalam bisnis ekspor.

“Saya dulu minta diajari ekspor, tapi katanya susah. Tapi orang itu tiap bulan kirim kontainer. Berarti bukan susah saya saja yang belum belajar,” kenangnya.

Akir menjelaskan keberhasilan ekspor bukan hanya soal produk, tetapi tentang tim dan kemampuan komunikasi global.

Karena merasa kemampuan bahasa Inggris dan Mandarin-nya terbatas, Akir membangun tim pendukung yaitu 8 staf ahli bahasa Inggris, 2 staf khusus yang disekolahkan ke Tiongkok untuk belajar Mandarin.

“Eksportir tidak boleh pelit. Investasi pada SDM itu wajib. Dari situ saya bisa mendapatkan buyer dari berbagai negara,” tuturnya.

Moderator Dr. Idris menutup diskusi dengan menegaskan talk show ini memperlihatkan tiga pilar utama ekosistem ekspor yaitu Pemerintah menciptakan regulasi, logistik, dan fasilitas yang ramah UMKM. Kampus mencetak inovator, pelaku ekspor muda, dan penelitian aplikatif. Pelaku Usaha mendorong kolaborasi nyata, konsolidasi produk, dan pembukaan pasar global.

“Kita tidak bisa bergerak sendiri. Ekspor hanya bisa tumbuh lewat sinergi. Kolaborasi — align — achieve. Itulah semangat Bootcamp 2025,” ucapnya.

Acara berlangsung interaktif, penuh tawa, dan banyak pengalaman lapangan yang membuka wawasan peserta. Diskusi dirangkai dengan sesi tanya jawab serta ajakan berjejaring di antara pelaku UMKM, mentor, dan buyer yang hadir.

Gathering & Bootcamp DnA Entrepreneur Academy 2025 ini diharapkan menjadi momentum memperkuat gerakan UMKM Go Global dari Jawa Tengah untuk Indonesia. (Sofyan)


Baca juga: Gathering and Bootcamp DnA Entrepreneur Academy 2025 Hadirkan 200 Pelaku UMKM, Mentor Bisnis, Buyer, Akademisi, dan Mitra Lembaga untuk Perkuat Kolaborasi dan Akselerasi Ekspor


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top