Semarak Milad Muhammadiyah Ke-113 di Boyolali: Menguatkan Etika, Spirit Peradaban, dan 5 Rukun Islam Berkemajuan

Print Friendly and PDF



Semarak Milad Muhammadiyah Ke-113 di Boyolali: Menguatkan Etika, Spirit Peradaban, dan 5 Rukun Islam Berkemajuan

Boyolali – majalahlarise.com - Semarak Milad Muhammadiyah ke-113 di Boyolali berlangsung khidmat dan penuh gagasan visioner. Sabtu (29/11/2025), Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali bekerja sama dengan RSU PKU Aisyiyah Boyolali menggelar Ngaji Islam Berkemajuan (NIB) yang diikuti lebih dari 300 peserta. Mereka berasal dari unsur PDM, PDA, PCM, PCA, Majelis dan Lembaga, hingga pimpinan AUM se-Boyolali. Kegiatan digelar di Aula H. Jalal Sayuti RSU PKU Aisyiyah Boyolali, menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baidhhowy, M.Ag, Wakil Ketua PWM Jateng sekaligus Rektor IAIN Salatiga.

Wakil Ketua PDM Boyolali yang membidangi LKKS, Drs. H. Thantowi Jauhari, SH, M.Si, dalam pengantar kegiatan menjelaskan bahwa tema “Etika Bermuhammadiyah dan Spirit Peradaban” terinspirasi dari karya terkenal Max Weber The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Menurutnya, perjalanan 113 tahun Muhammadiyah membuktikan bahwa organisasi ini telah melampaui berbagai fase penting.

“Pada abad pertama, ‘trisula lama’ Muhammadiyah fokus pada gerakan pendidikan (schooling), kesehatan (healing), dan pelayanan sosial (feeding) sebagai implementasi teologi Al-Ma’un. Ketiga pilar inilah yang menjadi fondasi awal Muhammadiyah untuk ‘lepas landas’ hingga kini,” ujarnya.

Dalam diskusi, muncul pula perhatian mengenai peran Muhammadiyah dalam ranah politik praktis yang dinilai masih tertinggal dibanding kiprah besar Muhammadiyah dalam pendidikan, kesehatan, dan pengabdian sosial.

Dalam paparannya, Prof. Zakiyuddin menggambarkan karakter warga Muhammadiyah sebagai “kunang-kunang” yang jumlahnya mungkin tidak banyak, tetapi sinarnya menerangi kehidupan.

“Orang Muhammadiyah itu sedekah untuk kehidupan, bukan untuk kematian. Sekolah jadi, perguruan tinggi jadi, rumah sakit jadi, masjid juga jadi. Inilah orientasi hidup yang membuat amal usaha Muhammadiyah tumbuh di mana-mana,” ujarnya dalam sesi bertema Etika Muhammadiyah Strategis dan Spirit Peradaban.

Prof. Zakiyuddin menyampaikan lima prinsip penting atau Rukun Islam Berkemajuan yang harus menjadi pedoman dalam mengelola Muhammadiyah:

1. Berdasarkan Tauhid Murni. Aqidah yang kuat, memurnikan tauhid, dan tidak menyekutukan Allah merupakan landasan utama gerakan.

2. Berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah al-Maqbulah. Dua sumber utama ajaran Islam harus menjadi rujukan warga Muhammadiyah, sebagaimana diteladankan Kiai Ahmad Dahlan melalui teologi Al-Ma’un dan Al-‘Asr.

3. Mengembangkan Ijtihad dan Tajdid. Muhammadiyah harus responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta terus melakukan pembaruan.

4. Mengembangkan Wasathiyah. Gerakan moderasi, Islam tengahan, dan berkemajuan menjadi ciri khas Muhammadiyah dalam berdakwah.

5. Rahmatan lil ‘Alamin. Muhammadiyah harus memberi manfaat bagi seluruh alam, melampaui batas kelompok dan golongan.

Menurut Prof. Zakiyuddin, usia Muhammadiyah dapat dilihat dari dua perspektif: biologis dan peradaban. Secara biologis, 113 tahun ditandai dengan capaian-capaian besar dalam pendidikan, kesehatan, dan dakwah. Namun secara peradaban, usia Muhammadiyah jauh lebih panjang karena terus memberi, berbagi (sharing), dan peduli (caring).

Ia mencontohkan Kiai Ahmad Dahlan yang wafat pada usia biologis 55 tahun, tetapi karya dan pemikirannya tetap hidup hingga kini.

“Muhammadiyah memiliki etika yang jika dijalankan akan menjadi amal saleh dan menjelma menjadi amal usaha: etika mengaji, caring, sharing, dan pemberdayaan (empowerment),” ujarnya. (Sofyan)


Baca juga: Wagub Jateng Gus Yasin Dukung Digitalisasi BTN untuk Permudah Layanan dan Regulasi Keuangan




Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top