Peduli Bencana Sumatra, Umat Katolik di Klaten Buat Pohon Natal dari Kayu

Print Friendly and PDF

Pohon Natal dari kayu dan bibit buah-buahan sebagai simbol empati, keprihatinan, dan ajakan untuk berbagi.


Peduli Bencana Sumatra, Umat Katolik di Klaten Buat Pohon Natal dari Kayu

Klaten – majalahlarise.com - Umat Katolik Gereja Santa Maria Bunda Kristus yang berlokasi di Dukuh Tanjunganom, Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menunjukkan kepedulian dan solidaritas terhadap para korban bencana di Sumatra dengan cara yang sederhana namun penuh makna. 

Pada momen perayaan Natal 2025, mereka membuat pohon Natal dari kayu dan bibit buah-buahan sebagai simbol empati, keprihatinan, dan ajakan untuk berbagi. 

Pastor Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr, menyampaikan pohon Natal 2025 dibuat menggunakan bahan dari potongan kayu dan bibit buah-buahan sebagai wujud solidaritas atas bencana yang terjadi di Sumatra.

Kayu dan bibit buah-buahan tersebut berasal dari lingkungan sekitar dan bantuan dari umat yang ada di Paroki.

"Pohon Natal tahun ini wujud solidaritas atas bencana di Sumatra. Ada ribuan pohon tidak ada akarnya karena kemungkinan besar itu ditumbangkan. Maka pohon Natal ini kami sebut pohon solidaritas," ujarnya, Senin (22/12/2025).

Rama Basilius Edy Wiyanto menjelaskan di tengah bencana Sumatra pihaknya mengajak umat untuk merayakan Natal secara lebih sederhana, tanpa kemewahan berlebihan, dan mengutamakan nilai kasih serta kepedulian sosial.

"Memang ini menjadi bentuk solidaritas pohon yang ditumbangkan. Tetapi di tengah bencana tetap ada harapan. Natal tahun ini Allah hadir menyelamatkan keluarga. Dari situasi bencana itu kami percaya keselamatan itu hadir," ujarnya.

Tim Kreatif Gereja Paroki Wedi, Bonifasius Bagaskara Asung Nugroho menambahkan tinggi pohon Natal sekitar 6 meter. Dalam pembuatannya, kerangka digantung menggunakan seling sehingga jika dilihat seolah-olah mengambang. 

Kerangka kemudian ditempeli potongan kayu yang disusun secara abstrak. Di sela-sela kayu dipasang bibit buah-buahan. 

"Kayu disusun secara abstrak karena kita melihat yang terjadi di Sumatra. Kita mengibaratkan kayu-kayu itu berserakan. Apa yang terjadi di Sumatra kita aplikasikan di pohon Natal ini. Proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar sepekan," imbuhnya. (Arkhan Al Ghazali)


Baca juga: Wujud Solidaritas Korban Bencana, Malam Tahun Baru 2026 di Candi Prambanan Digelar Tanpa Kembang Api


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top