GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Eksistensi Jenang Bu Hartini, Warisan Kuliner 3 Zaman dari Pracimantoro
![]() |
| “Jenang Bu Hartini” yang berlokasi di Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. |
Eksistensi Jenang Bu Hartini, Warisan Kuliner 3 Zaman dari Pracimantoro
WONOGIRI – majalahlarise.com - Di tengah gempuran kuliner modern, cita rasa tradisional yang otentik selalu memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satu bukti ketahanan kuliner warisan leluhur ini adalah “Jenang Bu Hartini” yang berlokasi di Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Usaha yang kini dikelola oleh generasi ketiga ini telah melewati berbagai zaman, mulai dari masa pendudukan Jepang hingga era digital saat ini, tanpa kehilangan keaslian rasanya.
Ibu Lina, pemilik saat ini, menceritakan bahwa usaha jenang ini adalah bisnis keluarga turun-temurun. “Ini usaha turun-temurun. Awalnya dari nenek saya, mulai usaha sejak zaman Jepang. Kemudian berlanjut ke ibu saya, dan sekarang turun ke saya. Jadi sudah tiga turunan,” ungkap Lina saat ditemui di lokasi produksinya.
Kunci bertahan hidupnya Jenang Bu Hartini selama puluhan tahun terletak pada konsistensi rasa. Lina menjelaskan bahwa resep yang digunakan saat ini masih sama persis dengan resep asli racikan neneknya. “Untuk resepnya masih otentik, masih seperti punya simbah dulu,” ujarnya.
Proses pembuatan jenang—kudapan manis lengket yang terbuat dari tepung beras ketan, santan, dan gula merah—di tempat ini tidak main-main. Di dapur produksi yang masih kental nuansa tradisionalnya, terlihat kawah-kawah (wajan besar) tembaga berjejer. Proses pengadukan adonan jenang di atas tungku api membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa.
“Jenang ini satu hari jadi. Proses masaknya sekitar 7 jam,” jelas Lina. Durasi memasak yang panjang ini diperlukan untuk memastikan jenang benar-benar tanak, memiliki tekstur yang pas, dan awet secara alami.
Meskipun resep dan metode memasak dipertahankan, Lina mengakui ada sedikit kemudahan di era sekarang dalam hal bahan baku. “Kalau prosesnya tidak ada yang rumit, semua sudah tersedia. Kalau zaman dulu kan harus menumbuk tepungnya sendiri. Kalau sekarang sudah bisa beli tepung jadi,” tambahnya.
Meski dikenal karena jenangnya, usaha ini juga melakukan diversifikasi produk untuk memenuhi selera pelanggan. Selain jenang sebagai primadona, mereka juga memproduksi wingko babat dan roti. “Selain jenang, ada wingko babat sama roti. Tapi kalau rotinya itu Cuma berdasarkan pesanan,” kata Lina.
Hingga saat ini, Jenang Bu Hartini memilih untuk fokus pada satu lokasi produksi dan penjualan di Pracimantoro, tanpa membuka cabang di tempat lain. Namun, jangkauan distribusinya sudah merambah pasar-pasar lokal di sekitar Wonogiri.
“Untuk distribusi, kami masuk ke Pasar Praci (Pracimantoro) dan Pasar Eromoko. Kami juga melayani pedagang,” jelasnya.
Kendati hanya berpusat di Pracimantoro, pelanggannya datang dari berbagai daerah. Banyak pembeli dari luar kota yang sengaja datang atau memesan untuk dijadikan oleh-oleh khas Wonogiri. Ketersediaan produk yang “ready stock” setiap hari memudahkan pelanggan untuk mendapatkan kuliner legendaris ini kapan saja.
Untuk menggerakkan roda produksi yang cukup masif ini, Lina dibantu oleh delapan orang karyawan. “Total jumlah karyawan ada delapan. Khusus untuk bagian produksi jenang sendiri ada empat orang,” pungkasnya.
Keberadaan Jenang Bu Hartini bukan sekadar bisnis kuliner, melainkan sebuah upaya pelestarian warisan budaya rasa yang patut diapresiasi di tengah cepatnya perubahan zaman. (Danu)
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...


Tidak ada komentar: