GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Radio di Era Internet: Dari Gelombang Udara ke Streaming
Radio di Era Internet: Dari Gelombang Udara ke Streaming
Oleh: Yudhi Benedict
Peminat masalah komunikasi
Dulu, radio itu jadi teman setia banyak orang. Dia menjadi “teman” aktivitas pagi hari dalam menyiapkan agenda hari itu, pagi-pagi sebelum berangkat kerja, orang nyetel radio sambil ngopi. Di dapur, suara penyiar radio menyapa ibu-ibu yang lagi masak. Di angkot atau bus, radio jadi hiburan penghilang bosan. Semua itu disiarkan lewat gelombang udara, teknologi yang pada masanya luar biasa canggih. Sekarang? Radio nggak hilang, hanya ganti baju. Dari yang dulu disebarkan luaskan melalui gelombang udara, sekarang disambungkan lewat internet. Jadilah radio streaming. Jadi, bukan hanya kota tempat kita tinggal saja yang bisa mendengarkan, tapi orang seberang pulau atau bahkan seberang benua juga bisa nyimak. Sekarang kita hidup di era yang beda. Banyak orang dengerin musik atau berita lewat ponsel, sambil mengakses media sosial, atau sambil nonton YouTube. Ini menggambarkan radio tidak punah. Justru radio sedang berubah wujud. Dari yang dulu hanya lewat frekuensi AM atau FM, kini hadir radio streaming, atau radio on line, atau yang dikenal dengan nama web casting yang bisa didengar dari mana saja, kapan saja, tanpa batas wilayah asal terhubung dengan internet.
Radio Konvensional: Sederhana tapi Dekat dengan Pendengar
Radio konvensional punya daya tarik yang unik: kedekatan/intimacy. Penyiar dan pendengar seperti bertatap muka, meski sebenarnya hanya terhubung lewat suara. Siaran ini bisa dinikmati tanpa internet, cukup pakai radio kecil, bahkan di pelosok desa sekalipun.
Kelebihan radio konvensional adalah jangkauan lokal yang kuat. Berita kampung, info pasar, info harga cabai, informasi hargai bawang kerap lewat di telinga kita, atau kabar lalu lintas bisa disampaikan cepat ke warga sekitar. Namun, keterbatasannya jelas: sinyalnya hanya menjangkau area tertentu, dan kualitas suaranya tergantung kondisi cuaca atau geografis.
Radio Streaming: Siaran Tanpa Batas
Berbeda dengan radio konvensional, radio streaming memanfaatkan internet. Pendengar bisa mengakses siaran dari smartphone, laptop, personal komputer. Mau dengerin stasiun radio dari Semarang, Jakarta, atau Tokyo? Tinggal klik saja.
Kualitas suaranya pun stabil selama koneksi internet bagus. Banyak radio streaming juga menambahkan fitur interaktif: pendengar bisa kirim pesan lewat chat (chatroom), request lagu via WhatsApp, atau ikut polling secara langsung. Rasanya seperti gabungan antara radio dan media sosial. Kalau radio konvensional kita hanya bisa mendengar suara penyiarnya saja, maka kalau radio internet kita “melihat” radio, karena bukan hanya audio saja kita juga dapat melihat penyiarnya juga, dari radio internet kita juga bisa membaca/melihat teks, gambar.
Bukan Pengganti, tapi Pendamping
Banyak orang mengira radio streaming akan mematikan radio konvensional. Nyatanya, dua-duanya bisa berjalan beriringan. Di daerah yang akses internetnya terbatas, radio konvensional tetap jadi primadona. Sementara di kota besar dengan internet melimpah, radio streaming jadi pilihan karena praktis dan bisa diakses kapan saja.
Bahkan, beberapa stasiun radio kini menggabungkan keduanya: siaran tetap lewat frekuensi FM, tapi juga disiarkan secara live lewat internet. Hasilnya, pendengar lokal tetap terlayani, sementara pendengar di luar daerah pun bisa ikut menikmati.
Penutup
Radio sudah melewati banyak zaman: dari era gelombang udara, kaset rekaman, CD, sampai sekarang era digital. Perubahan ini bukan tanda radio akan hilang, tapi bukti bahwa radio bisa beradaptasi. Entah lewat antena atau jaringan internet, tujuan radio tetap sama: menyampaikan informasi, hiburan, dan cerita, sambil menemani pendengarnya di setiap langkah kehidupan. Yang membedakan adalah coverage areanya, kalau dulu hanya bisa didengarkan satu wilayah tertentu/kota saja, sekarang bisa secara global/nagara lain bisa dengarkan. Jadi, nggak ada alasan bilang radio itu “barang jadul”. Faktanya, radio hanya pindah rumah: radio “raganya” dari antena ke server internet, dan “rohnya” adalah berfungsi untuk menyampaikan pesan. Yang penting, suaranya tetap nyampe… dan kita tetap setia mendengarkan.
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...


Tidak ada komentar: