41 Difabel Belajar Seni Lukis dan Batik Ciprat di Klaten

Print Friendly and PDF

Kegiatan pelatihan seni lukis dan batik ciprat.


41 Difabel Belajar Seni Lukis dan Batik Ciprat di Klaten

Klaten - majalahlarise.com - Sebanyak 41 penyandang disabilitas mengikuti pelatihan seni lukis dan batik ciprat yang diselenggarakan oleh Universitas Sahid Surakarta di Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (8/11/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas para difabel agar lebih mandiri dan produktif.

"Ini komitmen kami dari Universitas Sahid Surakarta dalam rangka pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah dilaksanakan serupa pada tanggal 25 Oktober 2025," kata Ketua Tim Pengabdi PISN Universitas Sahid Surakarta, Henny Tri Hastuti Hasana.

Henny menjelaskan Program Inovasi Seni Nusantara didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan judul Inovasi Seni untuk Sanggar Insan Harapan dalam Penguatan Identitas Sosial Difabel melalui Festival Seni dan Budaya Disabilitas Klaten 2025.

"Alhamdulillah kami dari Universitas Sahid Surakarta mendapatkan hibah dari Kemdiktisaintek, yaitu hibah Inovasi Seni Nusantara 2025," jelasnya.

Henny mengatakan program ini menggandeng Yayasan Sanggar Insan Harapan (SIH) sebagai mitra sasaran dan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) sebagai mitra kerjasama strategis. 

"Pelaksanaan kegiatan workshop eksplorasi media kain dalam pelatihan seni lukis dan batik ciprat ini bertempat di Kantor PPDK. Peserta ada sekitar 41 orang, meliputi dari SIH berjumlah 21 orang, kemudian dari komunitas tuli 15 orang, dan difabel 5 orang," ujarnya.

Kegiatan ini juga menghadirkan seniman Klaten Ansori serta pakar batik Danang Priyanto yang memberikan pendampingan langsung dalam eksplorasi bentuk dan warna. 

Henny mengungkapkan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan identitas sosial anak-anak dengan autisme di Klaten melalui pendekatan seni, desain, dan media.

Pada kegiatan ketiga ini, kata Henny, Tim PISN Universitas Sahid Surakarta juga menyerahkan bahan inovasi seni berupa peralatan membatik berupa bentangan, kain primisima, kompor listrik, kompor tungku, wajan, panci, ember, kuas, malam, warna remasol, water glass dan perlengkapan kriya untuk mendukung kegiatan berkesenian di sanggar.

"Anak-anak peserta tampak antusias dan mulai berani mengekspresikan diri melalui karya visual yang kaya warna dan emosi. Karya-karya tersebut akan dikurasi dan ditampilkan pada Festival Seni dan Budaya Disabilitas Klaten 2025, yang menjadi luaran utama dari program ini," kata Henny.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga melibatkan tim lintas disiplin dari Universitas Sahid Surakarta dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kolaborasi lintas bidang ini bertujuan memperkuat desain ruang pamer inklusif, pengembangan website sanggar, serta strategi branding visual yang mendukung promosi seni difabel di Klaten.

Program PISN ini diharapkan menjadi tonggak awal transformasi Sanggar Insan Harapan dari ruang terapi menjadi pusat seni inklusif yang berdaya dan berkelanjutan. 

Melalui kolaborasi dengan PPDK Klaten, kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan model pemberdayaan komunitas difabel berbasis seni dan teknologi yang dapat direplikasi di daerah lain.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, kegiatan ini menegaskan peran perguruan tinggi dalam menjembatani keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memperluas ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas dalam ekosistem seni dan budaya Indonesia. (Al Ghazali)


Baca juga: SKWL Nusantara Rayakan Hari Wayang Nasional Dengan Panggung 24 Jam nonstop



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top