Komunitas DIKLISA Meluncurkan Buku Pendidikan Abad XXI dalam Berbagai Perspektif Wujud Nyata Berpartisipasi untuk Menggerakkan Literasi Ratulisa Bagi Seluruh Masyarakat NKRI

Print Friendly and PDF

Komunitas DIKLISA Meluncurkan Buku Pendidikan Abad XXI dalam Berbagai Perspektif Wujud Nyata Berpartisipasi untuk Menggerakkan Literasi Ratulisa Bagi Seluruh Masyarakat NKRI 


Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


"Bercerita dan bergerak dalam giat literasi Ratulisa (rajin menulis dan membaca) bersama Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) menjadi salah satu wujud untuk terus ikut bergerak dan berdampak untuk kemaslahatan umat"

       Berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) harus terus disebarluaskan menjadi virus-virus positif bagi seluruh masyarakat NKRI. Mengapa demikian? Hal ini perlu dijelaskan kepada seluruh masyarakat NKRI bahwa dengan membaca akan tahu semua hal yang tersebar di seluruh wilayah NKRI dan dunia sedangkan dengan menulis akan dapat menyebarluaskan informasi dan berita baik kepada seluruh masyarakat NKRI dan dunia. Oleh karena itu, Gerakan literasi Arfuzh Ratulisa (GELAR) yang dimotori oleh Lembaga Literasi Arfuzh Surakarta terus melakukan berbagai inovasi dan kreasi untuk dapat membuka ruang-ruang untuk berdiskusi, berliterasi, bersilaturahmi, berbagi ilmu kepada multigenerasi NKRI. Salah satunya Komunitas DIKLISA sebagai ruang bercerita, merajut silaturahmi, berliterasi dengan ratulisa, berbagi ilmu, dan beasiswa literasi untuk multigenerasi NKRI.

      Bergerak dan menggerakkan sayap-sayap kesemestaan dalam bidang pendidikan dapat dilakukan oleh siapa pun. Hal ini dapat dilihat dan diceritakan proses belajar dan membelajarkan diri sejak berada di rumah bersama Bapak, Ibu, dan Saudara yang berinteraksi dan menjadi lawan tutur serta partisipannya. Strategi tutur dan proses belajar komunikasi, silaturahmi, berliterasi, dan berbagi itu dimulai pada ranah pendidikan berbasis keluarga. Misalnya: Bapak: “Mas, ayo kakak diajak makan!” Adik: “Nggih Pak. Kak, yuk kita makan bersama Bapak di Warung Yu Sri” Kakak: “Ya Dik, nanti habis makan kita ajak Bapak main ke pasar Depok ya!” Adik: “Ya Kak. Nanti saya dibelikan ikan ya Kak” Kakak: “ Siap graks. Nanti seklaian kita berbagi nasi kotak ke beberapa pedangang dan penarik becak di pasar Depok ya Dik”. Adik: “Siaap Graks” Bapak: “Nah ini, baru anak Bapak. Teruslah bersilaturahmi, berliterasi, dan berbagi ya Kak, Dik”. Kakak dan Adik: “Siap, laksanakan Bapak”. Bapak: “Nanti pengalaman kalian untuk Jelajah Literasi Semesta (Jelita) terus dituliskan jadi cerita dan pengalaman nyata kalian ya”. Merujuk pada percakapan Bapak, Kakak, Adik di atas merupakan perwujudan proses pembelajaran pendidikan karakter berbasis silaturahmi, berliterasi dnegan Ratulisa, dan berbagi secara nyata yang harus dibiasakan. 

       Pengembangan proses paendidikan berbasis pengalaman dan kemandirian untuk terus bersilaturahmi dan berliterasi dengan Ratulisa ini menjadi salah satu model pengembangaan pendidikan abad xxi untuk multigenersi NKRI. Oleh karena itu, proses pembelajaran bagi seluruh masyarakat Inodonesia harus melibatkan kedua orang tua dan masyarakat untuk dapat memberikan bekal belajar dan membelajarkan diri untuk multigenerasi NKRI. Semangat ini terus dikobarkan dan digaungkan oleh Muhammad Rohmadi Ratulisa yang mendirikan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas DIKLISA. Hal ini merupakan aksi nyata bentuk pengabdian kepada masyarakat di seluruh wilayah NKRI bahwa sesuai profesi dan keahlian masing-masing dapat ikut berkontribusi membangun dan mencerdasakan multigenerasi NKRI agar tidak gagal pragmatik dalam berkomunikasi, bersilaturahmi, dan berliterasi dengan Ratulisa.

       Lembaga Arfuzh Ratulisa bersama DIKLISA baru saja meluncurkan buku yang ditulis bersama komunitasnya berjudul “Pendidikan Abad XXI dalam Berbagai Perspektif” yang diterbitkan oleh Penerbit Yuma Pustaka Surakarta. Hal ini sebagai wujud nyata giat berliterasi dengan Ratulisa yang dilakukan oleh Komunitas DIKLISA dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa. Peluncuran buku ini dikemas dalam bentuk digital: https://heyzine.com/flip-book/4c19bf3d59.html dan cetak yang diluncurkan dalam kegiatan Seminar DIKLISA#5 dengan Tajuk “Sastra sebagai Pilar Pendidikan Karakter untuk Masyarakat NKRI. Kegiatan ini didukung oleh Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa, Komunitas Diklisa, Penerbit Yuma Pustaka, LPPMP UNS, Program Studi S-1, S-2, dan S-3 PBSI FKIP UNS, PBSI FKIP UAD, PBSI FKIP UPGRIS, dan PBSI FKIP Universitas Singa Perbangsa. Giat-giat Diklisa#1 sampai Diklisa#5 ini menjadi ruang untuk terus berdialog pendidikan, literasi, bahasa, dan sastra bagi seleuruh masyarakat NKRI. Dengan demikian, akan terjadilah interasksi nyata antargenerasi di seluruh wilayah NKRI, baik jenjang sekolah dasar dan menengah, pendidikan tingkat atas, perguruan tinggi, penggiat literasi, dan seluruh masyarakat NKRI. DIKLISA dibentuk dan diluncurkan sejak tanggal 2 Mei 2025 pukul 13.00 WIB langsung oleh penggagas dan pendirinya yaitu Muhammad Rohmadi Ratulisa melalui zoom meeting dalam giat seminar DIKLISA#1. 


       Berbagai giat nyata yang telah dilakukan oleh DIKLISA ini menjadi contoh nyata bagi seluruh generasi bahwa kebersamaan, bergotong royong, dan berpartisipasi untuk ikut membangun NKRI itu menjadi sebuah keniscayaan bagi seluruh masyarakat NKRI. Bukan sekadar kata-kata tetapi juga harus diperjuangkan dan diwujudkan. Hal ini sebagai bentuk implementasi keilmuan yang nyata sebagai contoh bagi seluruh masyarakat NKRI. Komitmen untuk belajar dan membelajarkan diri, bersilaturahmi, berliterasi dengan ratulisa, dan berbagi ilmu untuk semua harus menjadi virus-virus positif bagi seluruh masyarakat NKRI. Selamat bergerak dan menggerakkan sayap-sayap kesemestaan NKRI agar dapat menjadi manusia hebat yang bermanfaat, manusia sejati yang selalu memotivasi dan menginspirasi, dan menjadi manusia bermartabat yang maslahat untuk umat. Jangan pernah berhenti dan harus selalu tumbuhkan dalam hati untuk mencintai dan membangun NKRI. STOP ujaran kebencian, provokasi, propaganda. Gunakanlah bahasa yang benar, baik, dan santun dalam berkomunikasi, bersilaturahmi, berliterasi dengan Ratulisa, dan berbagi ilmu kepada seluruh multigenerasi NKRI.

“Rasa cinta dan kasih sayang akan selalu tumbuh dengan kata-kata yang diperjuangkan dengan kesabaran dan keheningan dalam pelukan kesemestaan-Nya”

Istana Arfuzh Ratulisa dan DIKLISA Surakarta, 1 Oktober 2025

Muhammad Rohmadi Ratulisa


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top