GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pemberdayaan Kelompok Tani SPPS, Univet Bantara Latih Pembuatan Mie Instan Sehat Berbasis Porang
![]() |
| Pencetakan mie menggunakan mesin pencetak agar bentuk mie keriting menyerupai produk komersial. |
Pemberdayaan Kelompok Tani SPPS, Univet Bantara Latih Pembuatan Mie Instan Sehat Berbasis Porang
Sukoharjo – majalahlarise.com -Suasana semangat terlihat pada Kamis pagi (14/8/2025) di Bukit Porang, Desa Kamal, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo. Sejumlah pengurus Kelompok Tani Sahabat Petani Porang Sukoharjo (SPPS) berkumpul bersama tim pengabdi dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) untuk mengikuti pelatihan pembuatan mie instan sehat berbasis glukomannan porang.
Pelatihan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kelompok tani dalam mengolah porang menjadi produk bernilai tambah. Selama ini, SPPS dikenal sebagai salah satu penggerak budidaya porang di Sukoharjo. Produk glukomannan yang dihasilkan baru sebatas bahan setengah jadi, padahal potensinya besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang mampu menembus pasar modern.
Kegiatan dipimpin oleh Bovi Wira Harsanto selaku ketua tim pengabdi, didampingi asisten lapangan Ika Octariyani Safitri, serta dua mahasiswa Univet, Banu Aji Wicaksono dan Jeni Eka Rahmawati. Dari pihak SPPS, hadir lima pengurus inti termasuk ketua kelompok.
![]() |
| Mie instan sehat berbasis glukomannan porang. |
“Kami ingin mendampingi petani bukan hanya di sisi hulu, tapi juga dalam pengolahan produk agar mereka bisa naik kelas dan lebih berdaya saing,” kata Bovi membuka pelatihan.
Tepat pukul 09.30 WIB, kegiatan dimulai dengan pengenalan bahan utama pembuatan mie instan. Bahan tersebut meliputi tepung terigu, tepung mocaf, glukomannan porang, telur, air, dan minyak goreng. Mocaf dipilih sebagai substitusi sebagian tepung terigu karena dinilai lebih sehat dan ramah bagi penderita intoleransi gluten.
Selain bahan, tim juga memperkenalkan peralatan produksi sederhana yang bisa dioperasikan kelompok tani, seperti mesin pencetak mie, pengukus, dan penggoreng. Tujuannya agar SPPS mampu mereplikasi produksi tanpa harus bergantung pada fasilitas pabrik besar.
![]() |
| Foto bersama. |
Pelatihan kemudian masuk ke tahapan inti, yakni proses pembuatan mie instan. Tim pengabdi membimbing peserta mulai dari Pencampuran bahan menggabungkan tepung terigu, mocaf, dan glukomannan dengan perbandingan tertentu. Pengulenan adonan hingga kalis dan elastis. Pencetakan mie menggunakan mesin pencetak agar bentuk mie keriting menyerupai produk komersial. Pengukusan untuk mematangkan adonan. Penggorengan menghasilkan mie kering siap dikemas.
Proses keseluruhan memakan waktu sekitar satu jam. Peserta SPPS terlihat antusias mencatat dan mencoba setiap tahapan. “Kami senang karena ternyata langkah-langkahnya tidak serumit yang dibayangkan,” ujar salah satu anggota SPPS.
Setelah selesai digoreng, mie instan sehat direbus selama lima menit. Produk hasil uji coba tersebut kemudian dihidangkan dan dicicipi bersama.
![]() |
| Pencampuran bahan. |
Perwakilan SPPS, Erwin Lasiyanto, menilai hasilnya memuaskan. “Mie instan ini sudah mirip seperti mie instan yang dijual di pasaran, bentuknya juga sudah keriting. Formula adonan sudah kami pahami dan bisa jadi acuan kami dalam membuat mie instan dari glukomannan porang,” jelasnya.
Dari pihak tim pengabdi, Bovi menjelaskan masih ada ruang untuk penyempurnaan. “Pembuatan mie instan ini sudah kami coba beberapa kali. Formula adonan akan terus kami kembangkan agar nantinya bisa menghasilkan mie instan bebas gluten, sehingga cocok untuk konsumen yang alergi gluten atau sedang menjalani diet sehat,” terangnya.
Produk mie instan berbasis glukomannan memiliki peluang besar di pasar makanan sehat. Kandungan serat pangan yang tinggi membuatnya relevan untuk konsumen yang peduli kesehatan, menjalani diet, maupun memiliki kebutuhan khusus.
Tahap berikutnya, tim pengabdi bersama SPPS berencana menguji formula mie instan yang benar-benar tanpa tepung terigu. Jika berhasil, produk ini akan menjadi inovasi baru yang membedakan SPPS dari produsen mie instan konvensional.
Pelatihan ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat oleh tim Univet Bantara. Program tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM), Ditjen Riset dan Pengembangan, Kemendiktisaintek RI, melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat – Kemitraan Masyarakat Tahun Pendanaan 2025.
Rangkaian kegiatan direncanakan berlangsung selama lima bulan, dari Agustus hingga Desember 2025. Targetnya, SPPS mampu menghasilkan produk turunan porang yang tidak hanya bernilai ekonomi tetapi juga mendukung pola hidup sehat masyarakat.
Kegiatan pelatihan berakhir pada pukul 11.30 WIB dengan sesi evaluasi dan foto bersama. Semangat kebersamaan antara akademisi dan petani terlihat jelas, mencerminkan kolaborasi nyata dalam upaya meningkatkan daya saing produk lokal.
Dengan adanya pendampingan berkelanjutan, Kelompok Tani SPPS Sukoharjo diharapkan mampu menjadi pionir penghasil mie instan sehat berbasis porang, sekaligus mengangkat potensi porang sebagai komoditas unggulan daerah. (Sofyan)
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...




Tidak ada komentar: