Kupas Tuntas Gastronomi dalam Manuskrip Kuno Bersama Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB UNS

Print Friendly and PDF

Jagongan RRI Surakarta yang membahas “Gastronomi dalam Manuskrip Kuno” melalui siaran RRI Pro 4 FM.


Kupas Tuntas Gastronomi dalam Manuskrip Kuno Bersama Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB UNS

Surakarta – majalahlarise.com -Gastronomi tak hanya berbicara soal makanan dan minuman, tetapi juga memuat dimensi sosial, budaya, hingga filosofi kehidupan. Hal itu disampaikan oleh Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A., selaku dosen dan kepala program studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS), dalam acara Jagongan RRI Surakarta yang membahas “Gastronomi dalam Manuskrip Kuno” pada Jumat, 19/09/2025 melalui siaran RRI Pro 4 FM.

Menurut Asep, khazanah gastronomi banyak terekam dalam manuskrip kuno, salah satunya Serat Centhini. “Dalam manuskrip, gastronomi bukan hanya sekadar resep. Ia bicara tentang identitas kuliner yang erat kaitannya dengan ritual dan simbol sosial. Misalnya, tumpeng yang dikaitkan dengan upacara adat, atau kue apem dari bahasa Arab ‘afwan’ yang berarti memaafkan, melambangkan permohonan maaf yang biasanya ada di bulan Safar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kuliner juga merefleksikan stratifikasi sosial. Menu kalangan raja dan bangsawan tentu berbeda dengan masyarakat kelas bawah. Di sisi lain, perkembangan gastronomi kini bahkan meluas ke ranah diplomasi. “Jamuan makan malam antarnegara sering menghadirkan menu Barat. Padahal, justru kuliner tradisional kita bisa menjadi daya tarik diplomasi budaya, sekaligus memperkenalkan identitas bangsa,” jelas Asep.

Selain makanan, Serat Centhini juga memuat pengetahuan luas terkait obat-obatan, perawatan tubuh, hingga pewangi alami. Namun, penelitian filologi gastronomi menghadapi tantangan tersendiri, salah satunya penyebutan rempah atau jamu-jamuan (mpon-mpon) yang kini mulai langka. “Kalau kita menelusuri tata cara memasak dalam manuskrip, misalnya dengan kayu bakar, hasilnya berbeda dengan penggunaan arang hari ini. Detail semacam ini menunjukkan bagaimana manuskrip bisa memberi perspektif tentang rasa, tradisi, hingga filosofi yang mendalam,” tambahnya.

Asep menekankan bahwa kuliner tradisional bukan hanya warisan, melainkan juga aset budaya yang mampu mempererat ikatan sosial serta membuka jalan diplomasi lintas bangsa. “Kuliner adalah identitas. Dari dapur, kita bisa membuka ruang perjumpaan, kedekatan, bahkan melancarkan urusan diplomasi,” pungkasnya. (Azzra Rahma C N L)


Baca juga: Unisri Tandatangani Nota Kesepahaman dengan 15 Mitra Kerja Sama


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top