Mahasiswa PGSD UNISRI Kenalkan Motif Batik dan Eksperimen Pewarnaan Asam-Basa kepada Siswa SD di Klaten

Print Friendly and PDF

Rofi’ Hani Hangganingtyas saat melaksanakan program.


Mahasiswa PGSD UNISRI Kenalkan Motif Batik dan Eksperimen Pewarnaan Asam-Basa kepada Siswa SD di Klaten

Klaten - majalahlarise.com - Suasana ruang kelas V SD Negeri 1 Sorogaten, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, pada Rabu pagi terasa berbeda. Anak-anak terlihat antusias mengikuti pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema Kearifan Lokal yang digagas mahasiswa Kelompok 97 Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta.

Program ini diinisiasi oleh Rofi’ Hani Hangganingtyas, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNISRI. Kegiatan ini merupakan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, melalui pengenalan motif batik beserta asal daerahnya, sekaligus praktik eksperimen pewarnaan batik menggunakan larutan asam dan basa.

Rofi’ menjelaskan, tema Kearifan Lokal dipilih untuk menanamkan rasa cinta budaya sejak dini. “Banyak siswa sekolah dasar yang belum mengenal secara mendalam nama dan asal motif batik di Indonesia. Melalui kegiatan ini, mereka belajar bukan hanya secara teori, tetapi juga praktek yang menyenangkan,” ujarnya.


Dalam sesi awal, Rofi’ mengenalkan sepuluh motif batik dari berbagai daerah di Indonesia. Siswa mendapat penjelasan mengenai sejarah, filosofi, serta momen-momen yang tepat untuk menggunakan batik. Materi ini sejalan dengan tujuan Profil Pelajar Pancasila yang mengedepankan enam dimensi, antara lain beriman, mandiri, bergotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif.

Usai pembelajaran teori, kegiatan berlanjut dengan eksperimen pewarnaan motif batik menggunakan bahan sederhana yang ramah lingkungan. Peralatan yang digunakan meliputi kertas sketsa bermotif batik, kapas, cotton bud, cup plastik, kunyit bubuk, deterjen, cuka, dan air mineral.

Langkah pembuatannya diawali dengan memilih motif batik, kemudian membuat larutan basa dari kunyit dan deterjen, serta larutan asam dari cuka. Siswa mengoleskan larutan kunyit sebagai warna dasar, lalu menambahkan larutan deterjen pada bagian tertentu sehingga muncul warna merah. Jika warna melebar, larutan cuka digunakan untuk menghapusnya. Setelah selesai, hasil karya dijemur hingga kering.

Tak hanya siswa kelas V, anggota Kelompok 97 KKN PPM UNISRI juga turut terlibat dalam eksperimen ini. Kegiatan menjadi ajang belajar bersama sekaligus memperkuat interaksi positif antara mahasiswa dan warga sekolah.

Hasil eksperimen menampilkan ragam motif batik berwarna cerah yang berhasil dibuat siswa. “Senang sekali bisa belajar batik dengan cara seperti ini. Tidak hanya tahu gambarnya, tapi juga mencoba mewarnai sendiri,” ujar salah satu siswa dengan senyum bangga.

Rofi’ berharap, melalui kegiatan ini siswa termotivasi untuk mengenakan batik dengan penuh rasa bangga serta memahami makna budaya di baliknya. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu menjadi agen pelestarian kearifan lokal di tengah arus globalisasi.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran P5 dapat dikemas secara kreatif, menyenangkan, dan relevan, sehingga nilai budaya dapat melekat kuat di hati generasi muda. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top